Komisi Bahtsul Masail Ad-Diniyah Al-Waqi'iyah Muktamar ke-34 NU Akan Bahas Operasi Penyesuaian Kelamin Pasien Interseks

AKURAT.CO Komisi Bahtsul Masail Ad-Diniyah Al-Waqi'iyah Muktamar ke-34 NU akan membahas tentang gejala interseksual secara keagamaan. Selain itu, komisi yang khusus membahas permasalahan aktual ini juga membahas operasi penyesuaian alat kelamin bagi orang dengan gejala interseksual saat dewasa.
Sekretaris Komisi Bahtsul Masail Ad-Diniyah Al-Waqi'iyah Tahun 2021 KH Sarmidi Husna menjelaskan, komisi ini akan membahas perihal cara penentuan jenis kelamin seseorang yang hanya mempunyai alat kelamin laki-laki (sempurna atau tidak) akan tetapi memiliki rahim, mempunyai darah haid, meskipun tertahan di dalam tubuh atau ciri-ciri lain yang menjadi ciri dari seorang wanita.
“Sebaliknya, kita juga akan membahas cara penentuan jenis kelamin seseorang yang hanya mempunyai alat kelamin wanita (sempurna atau tidak) namun tidak memiliki rahim, tidak mengalami menstruasi, atau ciri lain yang menjadi ciri lahiriah laki-laki,” tuturnya, Rabu (22/12/2021).
Lebih lanjut Sarmidi mengatakan, orang yang terlahir sebagai interseks bisa tampak seperti pria atau wanita pada umumnya, namun memiliki organ reproduksi pria dan wanita. Karena menurutnya, seorang pria yang terlahir dengan kondisi ini tidak hanya memiliki penis, tetapi rahim di dalam tubuhnya.
Justru sebaliknya, seorang wanita dengan kondisi interseks memiliki rahim sekaligus testis pada tubuhnya. Sebab, keadaan ini umumnya terjadi karena perubahan genetik.
Saat ini banyak kasus interseks ketika penderita menginjak remaja atau dewasa karena tanda-tanda jenis kelamin seseorang pada masa itu semakin jelas. Seperti seseorang sejak bayi hingga remaja diperlakukan sebagai wanita karena penis atau testisnya tidak kelihatan. Namum ketika menginjak ternyata dewasa, ia tidak mengalami menstruasi dan setelah diteliti, ternyata tidak memiliki rahim.
“Masalah ini diangkat dalam Muktamar NU menyusul peningkatan jumlah pengidap ketidakjelasan kelamin atau interseksual dari tahun ke tahun,” jelas Sarmidi.
Masalah ini juga telah diteliti oleh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, pakar histologi dan peneliti kerancuan kelamin, Prof Sultana MH Faradz, menyebutkan bahwa jumlah kasus yang tidak atau belum dilaporkan mungkin jauh lebih banyak karena banyak orang yang mengalami gangguan ini merasa malu. Dengan demikian, hingga sekarang prevalensinya belum terlalu jelas.
Penelitian yang dilansir pada tahun 2013 ini menyebutkan bahwa sejak tahun 2004 Prof Sultana sudah menangani sekitar 700 orang penderita interseksual. Kemudian sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah. Sementara, orang dengan gejala interseksual dari kalangan menengah ke atas memilih berobat ke luar negeri.
Perihal penanganan medis, dalam hal ini hanya dibutuhkan ketika orang yang terlahir sebagai interseks memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan kondisi tersebut, seperti memiliki rahim tetapi tidak ada bukaan rahim, sulit mengeluarkan urine, atau mengalami siklus menstruasi namun darah tidak keluar dari tubuh.
Sehingga prosedur medis seperti operasi kelamin dapat dilakukan untuk membuat alat kelamin tampak seperti kelamin laki-laki atau perempuan. Meskipun, hal tersebut tidak dianjurkan atau diperlukan sampai orang yang terlahir sebagai interseks cukup dewasa untuk membuat keputusan.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah seorang interseks berbeda dengan transgender. Karena seorang transgender terlahir hanya dengan satu jenis kelamin, namun ia merasa bahwa jenis kelamin yang dimiliki bukan jenis kelamin yang sesungguhnya.
Dengan demikian, seorang transgender yang terlahir sebagai laki-laki akan merasa bahwa seharusnya ia memiliki jenis kelamin wanita. Hal tersebut tentu saja dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga ia mungkin akan melakukan operasi untuk mengubah jenis kelaminnya. Kemudian setelah jenis kelaminnya berubah, mereka akan disebut transeksual.
“Di forum muktamar ini kita bermaksud membahas masalah interseks dalam Islam dan tentu mencarikan jalan keluar bagi pasien interseks,” tandas Sarmidi.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK




