Tiga Non-Muslim Bersyahadat di Malang: Dakwah Zakir Naik dan Dinamika Konversi Agama di Ruang Publik

AKURAT.CO Sebuah momen religius yang emosional terjadi di Stadion Gajayana, Kota Malang, Kamis (10/7/2025). Tiga orang non-Muslim memutuskan memeluk Islam setelah mengikuti ceramah ulama internasional Dr Zakir Naik dalam rangkaian tur dakwah bertajuk Indonesia Tour 2025.
Dalam ceramahnya, Zakir Naik membahas kenabian Muhammad SAW dari perspektif lintas agama, mencoba menunjukkan koherensi ajaran Islam dengan kitab-kitab suci lain. Dialog ini tampaknya cukup kuat mempengaruhi beberapa peserta, terutama dalam sesi tanya jawab interaktif yang menjadi ciri khas ceramah Zakir.
Salah satu peserta, Jendra—pegawai Bapenda—dengan kritis menanyakan keistimewaan Islam dari sudut pandang Nabi Muhammad. Jawaban Zakir, yang menekankan keteladanan Nabi, tampaknya memuaskan rasa ingin tahunya, hingga akhirnya ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Suasana haru dan takbir pun membahana.
Baca Juga: Geger Video Viral Terbaru Andini Permata, Ini Hukum Menyebarluaskannya dalam Islam
Namun, di balik suasana haru itu, mari kita bertanya lebih jauh: Apakah proses konversi agama dalam situasi massal seperti ini sepenuhnya bebas dari tekanan sosial?
Apakah emosi kolektif dan atmosfer spiritual publik memungkinkan refleksi pribadi yang mendalam, ataukah lebih mendorong keputusan emosional sesaat?
Ini pertanyaan penting agar kita tidak sekadar memaknai momen spiritual sebagai angka statistik konversi.
Selain Jendra, seorang pelajar bernama Salma dan seorang ateis bernama Mifta juga mengikuti jejak yang sama, dengan penekanan bahwa keputusan mereka murni dari hati nurani.
Tur dakwah Zakir Naik sendiri bukan tanpa kontroversi. Di Malang, sebelumnya sempat muncul penolakan dari Komunitas Arek Malang Bersuara yang mempertanyakan relevansi dan potensi dampak sosial dari kehadiran Zakir Naik. Namun acara tetap berlangsung aman dan damai.
Zakir dijadwalkan melanjutkan safari dakwahnya ke Bandung dan Jakarta. Pertanyaannya ke depan adalah:
-
Apakah model dakwah seperti ini lebih menekankan dialog rasional lintas iman atau masih dominan pada metode apologetik-konversif?
-
Seberapa jauh kontribusi Zakir Naik dalam membangun kerukunan antarumat beragama di Indonesia, bukan sekadar memperbesar komunitas Muslim baru?
-
Bagaimana Indonesia, dengan keragaman keyakinan dan sejarah pluralismenya, memaknai fenomena konversi publik ini tanpa jatuh pada euforia mayoritarianisme?
Baca Juga: Video Viral Terbaru Andini Permata Berapa Menit? Ini Hukum Menontonnya dalam Islam
Pada akhirnya, momen-momen seperti ini menantang kita untuk memikirkan kembali bagaimana agama, kebenaran, dan keyakinan dipilih secara sadar, bukan sekadar ditawarkan secara masif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









