Harga BBM Pertamina Naik? Ini Prinsip Hemat dalam Islam

AKURAT.CO Dalam beberapa waktu terakhir, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali mencuat di tengah masyarakat. Kenaikan ini menimbulkan berbagai dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada kendaraan bermotor dalam aktivitas sehari-hari maupun pelaku usaha kecil yang sensitif terhadap biaya operasional.
Meski fenomena kenaikan harga BBM seringkali disebabkan oleh dinamika pasar global dan kebijakan fiskal dalam negeri, umat Islam sebagai bagian dari masyarakat dituntut untuk menyikapinya secara bijak, terutama dengan menengok kembali prinsip-prinsip hidup hemat dan efisien yang diajarkan dalam ajaran Islam.
Islam sebagai agama yang holistik memberikan pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam menyikapi kondisi ekonomi yang berubah-ubah. Dalam situasi di mana harga kebutuhan pokok naik, termasuk harga BBM, ajaran Islam sangat menekankan pentingnya hidup hemat, menghindari pemborosan, dan mengelola harta dengan bijak. Prinsip ini tidak hanya bersifat moral, tetapi juga merupakan perintah syariat yang memiliki dimensi spiritual dan sosial.
Allah SWT berfirman dalam surah al-Isra’ ayat 26-27:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya: Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
Baca Juga: Bantuan Subsidi Upah di Masa Kepemimpinan Rasulullah SAW
Ayat ini mengajarkan bahwa perilaku boros atau konsumtif secara berlebihan adalah perbuatan yang tercela, bahkan disamakan dengan perbuatan setan.
Dalam konteks kenaikan harga BBM, ayat ini dapat dimaknai sebagai dorongan bagi umat Islam untuk lebih selektif dalam menggunakan kendaraan, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, dan mempertimbangkan moda transportasi alternatif yang lebih hemat.
Hal ini tidak hanya berdampak pada penghematan pribadi, tetapi juga pada pengurangan konsumsi energi secara kolektif yang bermanfaat bagi lingkungan.
Selain larangan memboroskan harta, Islam juga menekankan pentingnya prinsip keseimbangan dalam membelanjakan harta. Dalam surah al-Furqan ayat 67, Allah SWT menggambarkan ciri-ciri hamba yang baik adalah mereka yang dalam membelanjakan hartanya tidak berlebihan dan tidak pula kikir:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam kondisi apapun, termasuk saat terjadi kenaikan harga, seorang Muslim diajarkan untuk tetap berada dalam posisi yang moderat. Tidak terjerumus dalam sikap boros karena dorongan gaya hidup, dan tidak pula menjadi pelit karena ketakutan yang berlebihan. Sikap ini mencerminkan kematangan spiritual dan kemampuan mengelola harta dengan kesadaran.
Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam hidup hemat dan tidak berlebihan. Meskipun beliau adalah pemimpin yang sangat dicintai umat dan memiliki akses terhadap harta umat Islam, namun kehidupan beliau dipenuhi dengan kesederhanaan.
Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah kenyang dari roti gandum dua hari berturut-turut selama hidupnya. Ini menunjukkan bahwa hidup hemat bukan tanda kekurangan, melainkan pilihan sadar untuk menjalani kehidupan yang seimbang dan tidak tergantung pada kenikmatan dunia semata.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton 30 Juni 2025, Bolehkah Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Islam?
Dalam situasi kenaikan harga BBM, umat Islam juga diajak untuk mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memanfaatkan transportasi publik, atau bahkan beralih ke cara hidup yang lebih ramah lingkungan seperti berjalan kaki atau bersepeda, bisa menjadi bentuk nyata dari prinsip hidup hemat yang diajarkan Islam.
Di sisi lain, penghematan ini juga merupakan bentuk solidaritas sosial, karena turut meringankan beban negara dan menjaga ketersediaan energi bagi kepentingan umum.
Dengan demikian, kenaikan harga BBM hendaknya tidak disikapi dengan kepanikan atau keluhan semata. Justru, kondisi ini menjadi momentum untuk kembali kepada nilai-nilai dasar Islam tentang pengelolaan harta, hidup hemat, dan tidak berlebihan.
Ajaran Islam tidak hanya relevan dalam ruang ibadah, tetapi juga hadir sebagai panduan etis dalam menghadapi dinamika ekonomi kehidupan modern. Dalam hidup yang penuh ketidakpastian, prinsip hemat menjadi jalan menuju stabilitas, kemandirian, dan keberkahan.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









