Kisah Qais bin Shirmah Al-Anshari, Sahabat Nabi yang Bekerja sebagai Buruh Kurma

AKURAT.CO Dalam sejarah Islam, banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam.
Di antara mereka, ada tokoh-tokoh terpandang dari kalangan Quraisy yang kaya raya, ada pula yang hidup dalam kesederhanaan dan bekerja keras demi menghidupi diri dan keluarganya.
Salah satu sosok yang menarik dari kalangan sahabat adalah Qais bin Shirmah al-Anshari—seorang sahabat Nabi yang namanya tidak seterkenal Abu Bakar atau Umar, namun kisah hidupnya memberikan pelajaran mendalam tentang kerja keras, keimanan, dan ketulusan.
Qais bin Shirmah al-Anshari adalah seorang dari golongan Anshar, yaitu kaum Muslimin asli Madinah yang menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin dari Makkah dengan tangan terbuka.
Ia berasal dari Bani Tha’labah, salah satu cabang dari suku Aus, yang dikenal sebagai suku yang loyal terhadap perjuangan Nabi.
Meskipun hidup dalam lingkungan masyarakat yang semakin maju secara spiritual dan sosial pasca hijrah Nabi ke Madinah, Qais bukanlah orang yang berkecukupan secara materi. Ia menjalani hidup sebagai buruh tani, lebih tepatnya sebagai pekerja pada ladang kurma milik orang lain.
Dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, serta didukung oleh riwayat tambahan dalam Musnad Ahmad dan tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari, disebutkan bahwa Qais bin Shirmah pernah mengalami kejadian yang sangat menyentuh hati pada awal-awal disyariatkannya puasa Ramadhan.
Baca Juga: Distribusi Bantuan Pangan Non Tunai di Masa Sahabat Nabi Muhammad SAW
Kala itu, aturan mengenai puasa belum seperti sekarang—seseorang boleh makan, minum, dan melakukan hubungan suami-istri hanya sampai salat Isya. Setelahnya, jika tertidur, maka ia tidak boleh lagi makan hingga malam berikutnya.
Suatu hari, Qais bekerja sangat keras di ladang kurma, menggali tanah dan memanjat pohon untuk memanen.
Pekerjaan fisik yang berat di bawah terik matahari membuat tubuhnya kelelahan. Ketika tiba waktu berbuka, ia pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar. Namun istrinya belum menyiapkan makanan.
Ia pun tertidur sebelum sempat makan. Karena aturan saat itu melarang makan setelah tertidur, Qais pun menahan lapar hingga keesokan harinya. Ia tetap melanjutkan puasanya meski tubuhnya lemah dan nyaris pingsan karena kurang energi.
Kisah ini kemudian sampai kepada Rasulullah SAW. Melihat kondisi yang dialami oleh Qais dan beberapa sahabat lain, Allah SWT kemudian menurunkan ayat yang menjadi tonggak penting dalam penyempurnaan hukum puasa. Dalam Surah al-Baqarah ayat 187, Allah berfirman:
"Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian... Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."
Ayat ini kemudian merombak ketentuan puasa sebelumnya. Umat Islam diizinkan makan dan minum sepanjang malam hingga terbit fajar, tanpa terikat dengan aturan tertidur sebelumnya.
Maka sejak saat itu, puasa Ramadhan menjadi lebih ringan dan manusiawi, terutama bagi mereka yang bekerja keras secara fisik, seperti Qais bin Shirmah.
Kisah Qais tidak hanya menjadi titik tolak perubahan syariat, tetapi juga menjadi simbol perjuangan kaum pekerja dalam Islam. Ia bukan sahabat kaya raya, bukan pula panglima perang yang disanjung-sanjung.
Tapi ketulusannya dalam bekerja dan ketaatannya dalam beribadah menjadi pengingat bahwa kemuliaan dalam Islam tidak diukur dari status sosial, melainkan dari keimanan dan amal.
Baca Juga: 3 Calon Gubernur Jawa Timur Semuanya Perempuan, Ini Daftar Pemimpin Perempuan di Masa Sahabat Nabi
Hari ini, ketika kita menyaksikan banyak orang bekerja keras di sektor informal—buruh tani, tukang bangunan, sopir, petani, dan sebagainya—kisah Qais bin Shirmah menjadi cermin bahwa Islam sangat menghargai kerja keras mereka. Bahkan dari kelelahan seorang buruh seperti Qais, turunlah wahyu yang memudahkan umat.
Qais bin Shirmah memang bukan sahabat yang banyak disebut dalam kitab-kitab tarikh atau sirah. Namun, perannya dalam sejarah Islam tidak bisa dianggap kecil.
Ia menjadi saksi sekaligus penyebab turunnya kebijakan Allah yang memberikan keringanan kepada umat Islam sepanjang masa. Sebuah pelajaran tentang bagaimana kehidupan seorang buruh bisa menggerakkan langit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










