5 Cara Sahabat Nabi Memuliakan Gurunya, Nomor 3 Bikin Haru Membacanya!

AKURAT.CO Dalam tradisi Islam, posisi seorang guru menempati kedudukan yang sangat mulia. Guru bukan hanya pengajar, melainkan juga pembimbing ruhani, pemberi teladan, sekaligus pewaris para nabi. Tak heran jika Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud).
Para sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi contoh nyata bagaimana seorang murid dapat memuliakan gurunya, karena mereka bukan hanya menerima ilmu, tetapi juga menghidupkan akhlak luhur dalam berinteraksi dengan Rasulullah SAW.
Kisah-kisah para sahabat dalam menghormati Rasulullah SAW hingga melebihi penghormatan kepada diri mereka sendiri menjadi warisan adab mulia.
Di bawah ini kita akan menelusuri lima cara sahabat Nabi memuliakan gurunya, yakni Rasulullah SAW, yang bisa menjadi inspirasi bagi umat Islam sepanjang zaman.
1. Mendengarkan dengan Sepenuh Hati
Salah satu bentuk penghormatan para sahabat adalah keseriusan mereka dalam mendengarkan setiap kata Rasulullah SAW. Dalam riwayat disebutkan, apabila Rasulullah berbicara, para sahabat seakan-akan di atas kepala mereka ada burung yang sedang bertengger, sehingga tidak seorang pun berani bersuara atau memotong pembicaraan beliau.
Imam al-Bukhari meriwayatkan, para sahabat tidak pernah mengulang-ulang perkataan Nabi karena mereka mendengar dengan penuh perhatian. Hal ini menunjukkan adab tertinggi dalam menuntut ilmu, yaitu sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat).
2. Tidak Mendahului Rasulullah dalam Ucapan dan Tindakan
Al-Qur’an secara tegas melarang mendahului ucapan Rasulullah. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Hujurat: 1).
Para sahabat benar-benar menjaga adab ini. Mereka tidak pernah mengemukakan pendapat sebelum Rasulullah SAW bersabda. Umar bin Khattab RA, misalnya, dikenal sangat hati-hati. Beliau kerap menunggu petunjuk Nabi sebelum mengambil keputusan, meskipun ia sendiri dikenal sebagai sosok yang tegas dan cerdas.
3. Menjaga Suara agar Tidak Lebih Tinggi dari Rasulullah SAW
Inilah bentuk penghormatan yang paling mengharukan. Allah SWT menurunkan ayat khusus agar para sahabat menjaga suara ketika berbicara di hadapan Rasulullah:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, seperti kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari." (QS. Al-Hujurat: 2).
Sejak turunnya ayat ini, para sahabat sangat berhati-hati. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang biasanya bersuara lantang, tiba-tiba menjadi sangat lembut ketika berbicara dengan Rasulullah SAW. Umar bin Khattab RA yang dikenal keras pun menundukkan suaranya hingga hampir tak terdengar. Sikap ini menunjukkan betapa dalamnya rasa hormat dan cinta mereka kepada sang guru.
4. Mengorbankan Harta dan Jiwa untuk Rasulullah SAW
Memuliakan guru bukan hanya soal adab lisan, melainkan juga kesediaan berkorban. Para sahabat rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa demi melindungi Rasulullah SAW.
Ketika Perang Uhud, Abu Dujanah RA dan Talhah bin Ubaidillah RA melindungi Rasulullah dengan tubuh mereka hingga terluka parah. Mereka tidak peduli pada keselamatan diri sendiri selama guru mereka, Rasulullah SAW, tetap terjaga. Pengorbanan ini menjadi simbol cinta dan penghormatan sejati seorang murid kepada gurunya.
Baca Juga: 15 Bukti Konkrit Bahwa Guru Bukan Merupakan Beban Negara
5. Menghidupkan dan Menyebarkan Ilmu Guru
Penghormatan terbesar sahabat kepada Rasulullah SAW adalah dengan menjaga, mengamalkan, dan menyebarkan ajarannya. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat tidak berhenti berjuang. Mereka menularkan hadis, menafsirkan Al-Qur’an, menegakkan syariat, dan memperluas dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia.
Abu Hurairah RA, misalnya, meriwayatkan ribuan hadis agar umat Islam tetap bisa belajar dari Rasulullah meski beliau sudah tiada. Inilah bentuk penghormatan yang abadi: menjadikan ilmu sang guru sebagai cahaya yang terus hidup lintas generasi.
Dari kelima cara sahabat Nabi memuliakan Rasulullah SAW, kita bisa belajar bahwa menghormati guru bukan sekadar formalitas, melainkan lahir dari kesadaran spiritual yang mendalam. Nomor tiga—menjaga suara di hadapan Rasulullah—benar-benar menggetarkan hati, karena itu menunjukkan kerendahan hati sekaligus cinta yang tulus.
Di era sekarang, bentuk penghormatan kepada guru dapat diwujudkan dengan adab dalam belajar, menghargai ilmu, serta meneruskan kebaikan yang diajarkan. Para sahabat sudah memberikan teladan, tinggal bagaimana kita sebagai generasi penerus menghidupkan adab itu dalam kehidupan sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










