Akurat

Pemerintah Harus Belajar dari Kisah Nabi dan Sahabatnya, Begini Cara Mereka Memuliakan Guru

Fajar Rizky Ramadhan | 21 Agustus 2025, 10:00 WIB
Pemerintah Harus Belajar dari Kisah Nabi dan Sahabatnya, Begini Cara Mereka Memuliakan Guru

AKURAT.CO Dalam sejarah Islam, guru menempati posisi yang sangat mulia. Guru bukan hanya sosok yang menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi pembimbing spiritual, pengarah akhlak, dan teladan kehidupan.

Nabi Muhammad SAW sendiri disebut sebagai mu’allim (pengajar) yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Bahkan para sahabat pun menaruh hormat yang sangat tinggi kepada Rasulullah SAW sebagai guru mereka.

Apa yang ditunjukkan oleh Nabi dan sahabatnya dalam memuliakan guru semestinya menjadi teladan, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi pemerintah dalam memperlakukan para pendidik di negeri ini.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu. Dalam satu hadis, beliau menegaskan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi.

Pandangan ini mengandung pesan penting: seorang guru yang mengajarkan kebaikan memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah SWT, dan masyarakat wajib memberikan penghormatan kepadanya.

Baca Juga: 5 Doa Ampuh agar Selamat dari Gempa Bumi

Para sahabat memahami pesan ini dengan baik. Mereka memuliakan Nabi tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan yang mencerminkan adab luar biasa terhadap guru mereka.

Salah satu bentuk penghormatan sahabat kepada Rasulullah SAW adalah sikap penuh adab ketika berada di majelis ilmu. Para sahabat tidak pernah meninggikan suara ketika berbicara di hadapan Nabi, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 2.

Mereka menyimak dengan khidmat, tidak memotong pembicaraan, bahkan ada yang menahan diri untuk tidak terlalu banyak bertanya agar tidak merepotkan Nabi.

Sikap rendah hati ini menunjukkan bahwa guru bukanlah teman sebaya yang diperlakukan biasa saja, melainkan figur mulia yang pantas dihormati.

Ada pula kisah yang menggugah hati, yaitu ketika para sahabat begitu menghormati tempat duduk Nabi. Setelah Rasulullah berdiri dari suatu tempat, banyak sahabat yang berebut duduk di sana untuk mendapatkan keberkahan.

Bagi mereka, apa pun yang berhubungan dengan guru adalah sesuatu yang bernilai. Inilah gambaran nyata tentang bagaimana murid pada masa itu menempatkan gurunya pada posisi istimewa.

Lebih dari itu, para sahabat tidak hanya memuliakan Nabi sebagai guru di majelis, tetapi juga di kehidupan sehari-hari. Mereka patuh terhadap perintahnya, meneladani akhlaknya, dan menjadikan ucapan Nabi sebagai pedoman dalam bertindak.

Abu Bakar ash-Shiddiq, misalnya, rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawanya demi membela dan mendukung Rasulullah.

Kesetiaan ini adalah bentuk tertinggi penghormatan seorang murid kepada gurunya: tidak hanya mendengarkan ilmu, tetapi juga memperjuangkan ajaran yang disampaikan.

Dalam konteks kekinian, apa yang dilakukan Nabi dan sahabatnya harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Guru di era modern adalah pilar peradaban yang menyiapkan generasi masa depan.

Namun, masih banyak guru yang diperlakukan kurang layak, baik dari sisi penghargaan, kesejahteraan, maupun perlindungan profesi. Pemerintah perlu meneladani sikap para sahabat yang memuliakan guru dengan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata manis di pidato peringatan Hari Guru.

Baca Juga: Gempa Hantam Bekasi, Ini Doa agar Tidak Ada Korban

Memberikan gaji yang layak, memastikan jaminan sosial yang memadai, menyediakan fasilitas pembelajaran yang baik, dan menempatkan guru pada posisi yang terhormat dalam kebijakan pendidikan, semuanya adalah bentuk modern dari memuliakan guru.

Jika para sahabat mampu menaruh Nabi pada posisi mulia hingga rela berkorban apa pun, maka sudah sepantasnya pemerintah hari ini berkorban demi memastikan para guru hidup terhormat.

Sejarah membuktikan bahwa sebuah peradaban tidak akan tegak tanpa guru. Nabi dan sahabatnya sudah memberikan contoh bagaimana seorang guru harus dimuliakan, bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan tindakan konkret.

Kini tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat meniru teladan itu. Sebab, bangsa yang tidak menghormati gurunya sesungguhnya sedang menggali jurang kehancuran bagi dirinya sendiri.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.