Akurat

Upacara Pemakaman Paus Fransiskus, Apakah Boleh Dihadiri oleh Umat Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 27 April 2025, 10:22 WIB
Upacara Pemakaman Paus Fransiskus, Apakah Boleh Dihadiri oleh Umat Islam?

AKURAT.CO Kabar duka tengah menyelimuti dunia. Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma yang dikenal luas karena pendekatannya yang penuh cinta kasih, toleransi, dan advokasi terhadap perdamaian dunia, telah wafat.

Upacara pemakaman Paus Fransiskus dihadiri oleh para pemimpin agama, kepala negara, serta berbagai tokoh dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari kalangan Muslim.

Lalu, timbul pertanyaan penting: bolehkah umat Islam menghadiri upacara pemakaman tersebut?

Dalam kacamata hukum Islam, interaksi lintas agama, termasuk menghadiri prosesi pemakaman non-Muslim, merupakan persoalan yang telah dibahas oleh para ulama sejak masa-masa awal Islam.

Al-Qur'an memberikan panduan umum tentang bagaimana seorang Muslim berhubungan dengan non-Muslim, terutama dalam situasi-situasi penuh empati seperti kematian.

Baca Juga: Tiga Negara Absen di Pemakaman Paus Fransiskus, Salah Satunya Israel

Allah Swt berfirman:

"لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ"

(QS. Al-Mumtahanah: 8)

Artinya: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Ayat ini menunjukkan bahwa selama non-Muslim tersebut tidak memusuhi umat Islam, memperlakukan mereka dengan adil dan penuh kebaikan adalah tindakan yang tidak hanya dibolehkan, melainkan dianjurkan.

Dalam konteks menghadiri upacara pemakaman Paus Fransiskus, jika niat kehadiran tersebut adalah sebagai bentuk penghormatan kemanusiaan, ekspresi belasungkawa, dan mempererat hubungan antarumat beragama tanpa melibatkan unsur pengakuan terhadap keyakinan agamanya, maka hal itu termasuk dalam kategori kebaikan dan keadilan yang dibolehkan.

Lebih jauh lagi, Rasulullah Saw sendiri pernah memperlihatkan sikap penghormatan terhadap jenazah non-Muslim. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

"مَرَّتْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَازَةٌ فَقَامَ لَهَا، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ. فَقَالَ: أَلَيْسَتْ نَفْسًا"

Artinya: "Pernah lewat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah jenazah, maka beliau berdiri. Lalu dikatakan kepada beliau, 'Itu jenazah seorang Yahudi.' Beliau bersabda, 'Bukankah ia juga seorang manusia?'"
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sikap Nabi ini memperlihatkan bahwa penghormatan kepada manusia, meskipun berbeda agama, adalah bagian dari ajaran Islam yang luhur. Berdiri sebagai bentuk penghormatan saat jenazah lewat menunjukkan bahwa Islam menempatkan nilai kemanusiaan di atas sekadar identitas keagamaan.

Namun, tentu saja, batasan tetap harus diperhatikan. Islam melarang seorang Muslim terlibat dalam ritus keagamaan yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Allah Swt berfirman:

"وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ ۖ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ"

(QS. Hud: 113)

Artinya: "Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu selain dari Allah seorang penolong pun, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan."

Dengan demikian, kehadiran dalam acara pemakaman harus dibatasi pada aspek sosial dan kemanusiaan saja, tanpa ikut serta dalam ritual-ritual keagamaan khas agama tersebut.

Baca Juga: Pengganti Paus Fransiskus

Sebagai penutup, dalam suasana duka mendalam ini, Islam mengajarkan untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaan tanpa melanggar prinsip aqidah.

Menghadiri upacara pemakaman Paus Fransiskus — selagi menjaga batasan akidah Islam — adalah bentuk nyata dari ajaran Islam yang moderat, berwawasan global, dan penuh kasih sayang.

Islam bukan agama yang mengajarkan pengucilan atau permusuhan tanpa sebab. Justru, Islam mengajarkan kita untuk menjadi agen kedamaian dan keadilan di dunia yang penuh keberagaman ini.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.