Akurat

Selalu Ramai Netizen Klaim Saldo Dana Kaget, Fenomena Apa dalam Pandangan Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 24 April 2025, 08:00 WIB
Selalu Ramai Netizen Klaim Saldo Dana Kaget, Fenomena Apa dalam Pandangan Islam?

AKURAT.CO Fenomena “klaim saldo Dana kaget”—yakni ketika seseorang membagikan sejumlah uang secara tiba-tiba dan dapat diklaim secara cepat oleh siapa saja yang lebih dahulu mengakses link-nya—telah menjadi tren di media sosial.

Netizen pun beramai-ramai memburunya, terkadang bahkan sampai membuat grup khusus, saling share link, hingga berburu klaim saldo dari orang tak dikenal.

Aktivitas ini kian hari tampak makin masif, dan menjadi semacam “budaya baru” di kalangan pengguna internet, khususnya anak muda. Namun, dari sudut pandang Islam, apakah ini hanya sebatas hiburan digital atau ada nilai-nilai yang patut ditelisik lebih dalam?

Dalam Islam, memberi tanpa mengharap balasan adalah perbuatan mulia. Sedekah, hibah, dan hadiah semuanya merupakan bagian dari amal saleh yang sangat dianjurkan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya pada malam dan siang hari secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, maka mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274)

Baca Juga: Saldo DANA Kaget Bisa Jadi Harta Haram Jika Kondisinya Seperti Ini

Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan memberi, baik dalam kondisi sembunyi-sembunyi maupun terbuka, adalah bentuk kebaikan yang akan dibalas dengan pahala.

Maka jika seseorang membagikan saldo Dana kaget sebagai bentuk hadiah atau sedekah, dengan niat ikhlas dan tanpa maksud riya’, maka perbuatannya bisa tergolong sebagai amal kebaikan.

Namun, di sisi lain, muncul sisi problematik: yaitu dari pihak penerima. Mengapa? Karena niat banyak orang yang memburu “Dana kaget” itu bukan untuk menerima hadiah sebagai ungkapan syukur, melainkan demi kejar-kejaran saldo, tanpa etika, dan kadang bahkan menghalalkan segala cara.

Budaya ini bisa melahirkan semangat konsumtif dan kemalasan sosial. Islam memperingatkan kita dari sikap tamak, rakus, dan senang mengambil yang bukan haknya tanpa adab.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَسْأَلْ النَّاسَ شَيْئًا

Artinya: “Janganlah kamu meminta-minta kepada manusia sedikit pun.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan adab untuk tidak memiliki sifat pengemis, dalam bentuk apapun, termasuk digital. Fenomena berburu Dana kaget, apabila menjadikan orang menggantungkan harapannya pada pemberian orang lain dan membuatnya kehilangan etos kerja, maka itu bertentangan dengan semangat kemandirian dalam Islam.

Apalagi jika sampai ada penipuan, pemalsuan identitas, atau peretasan demi mendapatkan link Dana kaget—ini sudah masuk ranah haram.

Lebih jauh, fenomena ini juga bisa dibaca sebagai bentuk hiburan semu, yang menggeser nilai-nilai keikhlasan dalam memberi menjadi ajang viralitas atau bahkan riya’. Dalam Islam, amal yang diniatkan bukan karena Allah, tidak bernilai di sisi-Nya. Rasulullah SAW mengingatkan:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, jika niat membagikan saldo hanya untuk mencari popularitas, pujian, atau pengikut, maka amal itu kehilangan makna ukhrawinya. Dan sebaliknya, jika penerima mengejar semata karena serakah, bukan karena butuh, maka itu mencerminkan mentalitas konsumtif yang bertentangan dengan prinsip qana’ah (merasa cukup) dalam Islam.

Baca Juga: Bagaimana Cara Dapat Saldo DANA Gratis Rp200.000? Cukup Klik Klaim Link DANA Kaget Gratis Khusus Hari Ini 22 April 2025!

Fenomena saldo Dana kaget ini mungkin terlihat sepele. Tapi ia menyimpan makna sosial yang kompleks: dari sisi pemberi, ada peluang pahala; dari sisi penerima, ada potensi degradasi etika.

Maka tugas umat Islam bukan sekadar ikut tren, tapi juga melakukan muhasabah: apakah tren ini membawa keberkahan atau justru menggiring kita pada budaya konsumtif dan pasif?

Saat dunia digital terus melaju, umat Islam ditantang untuk tetap menjaga prinsip keikhlasan, adab, dan kemandirian—termasuk dalam hal yang terlihat “receh” seperti Dana kaget. Kita boleh menikmati teknologi, tapi jangan sampai kehilangan ruh etika yang diajarkan Islam.

Jadi, ketika kamu tergoda untuk berburu saldo kaget, coba tanya dirimu sendiri: "Apakah ini mendidik jiwaku, atau justru menumpulkan semangatku untuk bekerja dan berbagi?" Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.