Viral Makanan Mengandung Babi, Ini Kisah Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang Terjebak Makanan Haram

AKURAT.CO Di tengah maraknya makanan kekinian yang viral di media sosial, tidak sedikit orang yang tergoda oleh tampilan visual dan rasa tanpa mengecek lebih dulu kehalalan bahan-bahannya.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa produk yang ternyata mengandung babi bisa lolos dari perhatian konsumen Muslim karena minimnya label yang jelas, penggunaan istilah asing, atau karena disamarkan dalam komposisi bahan.
Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan di masa Nabi Muhammad SAW, pernah terjadi kasus serupa—dan dialami oleh salah satu manusia paling mulia setelah para nabi: Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat setia Rasulullah SAW.
Kisah ini terjadi ketika Abu Bakar diberi makanan oleh pelayannya. Dengan penuh kepercayaan, ia menyantap makanan itu. Namun setelah beberapa suap, sesuatu mengusik nuraninya, lalu ia bertanya kepada pelayannya: dari mana makanan ini berasal?
Baca Juga: Hukum Mendoakan Paus Fransiskus yang Meninggal Dunia menurut Islam
Pelayan itu menjawab bahwa makanan tersebut didapatkan dari pekerjaan lama yang ia lakukan sebelum masuk Islam, yaitu praktik perdukunan—sebuah profesi yang jelas dilarang dalam Islam dan hasilnya dianggap haram.
Mendengar jawaban itu, Abu Bakar langsung bangkit. Ia memasukkan jarinya ke tenggorokan dan memuntahkan kembali makanan yang telah masuk ke perutnya. Ia berkata dengan penuh kekhawatiran, “Hampir saja engkau membinasakanku!”
Tindakan spontan Abu Bakar mencerminkan tingkat kehati-hatian yang luar biasa dalam menjaga kesucian diri dari yang haram, bahkan ketika itu terjadi tanpa disengaja. Sikapnya juga menunjukkan tingkat takwa yang dalam: bukan hanya menjauhi yang jelas haram, tapi juga mencurigai dan menolak yang meragukan.
Islam sendiri mengatur bahwa kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan atau ketidaksengajaan tidak dibebani dosa. Namun, tetap saja, prinsip kehati-hatian adalah sesuatu yang sangat ditekankan.
Bahkan, Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat (samar), yang tidak diketahui oleh banyak orang..."
Baca Juga: Bantuan Pangan Non Tunai di Masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq
Kisah Abu Bakar ini menjadi sangat relevan di era modern. Banyak produk makanan, terutama dari luar negeri, yang menggunakan istilah asing atau singkatan teknis dalam daftar bahannya.
Banyak pula makanan jalanan atau olahan rumahan yang tidak memiliki sertifikasi halal resmi. Dalam kondisi seperti itu, kewaspadaan menjadi sangat penting.
Hari ini, ketika makanan mengandung babi bisa saja viral karena rasa unik atau gaya penyajiannya yang menarik, umat Islam diingatkan kembali oleh kisah seorang sahabat besar.
Bahwa keimanan bukan sekadar soal shalat dan puasa, tapi juga ketegasan dalam menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh. Bahwa kehati-hatian dalam hal kecil seperti makanan bisa mencerminkan kebesaran iman dan kecintaan kepada Allah.
Kisah ini bukan sekadar potongan sejarah. Ia adalah cermin—yang menegur kita, mengingatkan kita, bahwa menjadi Muslim berarti berani bertanya, waspada terhadap yang tersembunyi, dan siap mundur meski sudah tergoda. Sebab, dalam setiap suap, bisa jadi ada ujian iman yang besar.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










