Menentukan Nasib dengan Kalender Jawa Weton: Apakah Bertentangan dengan Syariat Islam?

AKURAT.CO Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton menjadi salah satu cara perhitungan yang dipercaya dapat menentukan nasib seseorang, termasuk jodoh, rezeki, hingga hari baik untuk suatu aktivitas.
Weton adalah sistem kalender tradisional Jawa yang menggabungkan hari dalam seminggu (Senin hingga Minggu) dengan hari pasaran (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage).
Namun, muncul pertanyaan di kalangan umat Islam: apakah menggunakan weton untuk menentukan nasib atau keputusan hidup sesuai dengan syariat Islam?
Perspektif Islam terhadap Penentuan Nasib
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk nasib manusia, berada di tangan Allah. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
"Dan pada sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia." (QS. Al-An’am: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang masa depan adalah milik Allah semata.
Dengan demikian, keyakinan bahwa nasib seseorang dapat ditentukan atau dipengaruhi oleh perhitungan weton bertentangan dengan akidah Islam, terutama jika keyakinan tersebut sampai menganggap bahwa perhitungan itu memiliki kekuatan di luar kehendak Allah.
Baca Juga: Isra Mi'raj 2025 Kapan? Ini Contoh Rangkaian Acara Isra Mi'raj
Larangan Tathayyur dalam Islam
Selain itu, Islam melarang praktik tathayyur (percaya pada pertanda buruk atau baik yang didasarkan pada hal-hal tertentu). Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada kepercayaan pada pertanda buruk, tidak ada kepercayaan pada burung hantu, dan tidak ada kepercayaan pada bulan Shafar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa mempercayai sesuatu sebagai penentu keberuntungan atau kesialan, termasuk melalui perhitungan seperti weton, bertentangan dengan ajaran Islam.
Kepercayaan seperti ini bisa mengarah pada syirik kecil (syirik asghar), yaitu mempersekutukan Allah dalam hal yang tidak semestinya.
Menggunakan Weton sebagai Tradisi Budaya
Namun, jika weton hanya digunakan sebagai tradisi budaya tanpa diyakini memiliki pengaruh terhadap nasib atau takdir, maka hal ini tidak termasuk dalam larangan.
Sebagai contoh, jika perhitungan weton digunakan untuk memilih hari perayaan atau sekadar melestarikan budaya, selama tidak melibatkan keyakinan yang bertentangan dengan tauhid, maka hal ini diperbolehkan.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. An-Nisa: 48)
Ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memegang keyakinan yang dapat membawa pada syirik, termasuk dalam hal mempercayai tradisi seperti weton sebagai penentu nasib.
Baca Juga: 50 Tema Isra Mi'raj 2025 untuk Peringatan di Sekolah dan Madrasah
Dalam Islam, menentukan nasib dengan weton dianggap bertentangan dengan syariat jika dilakukan dengan keyakinan bahwa weton memiliki pengaruh gaib terhadap kehidupan.
Keyakinan semacam ini dapat merusak akidah seorang Muslim. Sebaliknya, jika weton hanya digunakan sebagai bagian dari tradisi budaya tanpa keyakinan yang bertentangan dengan tauhid, maka hal itu diperbolehkan selama tidak melibatkan unsur syirik.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk selalu bertawakal kepada Allah dalam segala urusan. Keyakinan yang teguh terhadap ketentuan Allah dan menjauhi kepercayaan yang bertentangan dengan syariat adalah bentuk ketaatan dan penghambaan kepada-Nya.
Wallahu a’lam bis-shawab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









