Akurat

Ciri-Ciri Pemimpin Terkorup di Masa Kekhalifahan Islam, Siapa Contohnya?

Fajar Rizky Ramadhan | 3 Januari 2025, 09:00 WIB
Ciri-Ciri Pemimpin Terkorup di Masa Kekhalifahan Islam, Siapa Contohnya?

AKURAT.CO Dalam sejarah Islam, kepemimpinan adalah sebuah amanah yang agung. Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW memberikan pedoman yang jelas tentang sifat-sifat seorang pemimpin yang baik, seperti keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Namun, sejarah juga mencatat ada masa-masa kelam di mana beberapa pemimpin menyimpang dari nilai-nilai tersebut.

Mereka mempraktikkan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, yang tidak hanya merugikan masyarakat tetapi juga mencoreng nilai-nilai Islam.

Korupsi dalam konteks pemerintahan tidak hanya mencakup pencurian uang negara, tetapi juga penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

Dalam Islam, perilaku seperti ini termasuk dalam kategori dosa besar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

"Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah (pula) kamu menyuap dengan harta itu kepada hakim-hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 188).

Baca Juga: Sejarah Pemimpin Terkorup di Masa Kakhalifahan Islam

Salah satu contoh pemimpin dalam sejarah Islam yang sering dikritik karena korupsi adalah Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua dari Dinasti Umayyah.

Yazid menjadi khalifah melalui suksesi yang dipaksakan oleh ayahnya, Muawiyah bin Abu Sufyan, yang melanggar prinsip syura (musyawarah) dalam Islam.

Sebagai pemimpin, Yazid dikenal karena gaya hidupnya yang hedonis, yang bertentangan dengan kesederhanaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Tindakan Yazid yang paling kontroversial adalah keterlibatannya dalam Tragedi Karbala pada tahun 680 M, di mana cucu Rasulullah SAW, Imam Husain, dan keluarganya dibunuh dengan kejam.

Selain itu, Yazid juga dikritik karena memerintahkan penyerangan Kota Madinah dalam Peristiwa Al-Harrah, di mana banyak penduduk tak bersalah terbunuh dan harta benda mereka dirampas.

Korupsi Yazid bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga spiritual dan moral. Dia menggunakan kekuasaannya untuk menindas lawan politiknya dan merusak prinsip-prinsip keadilan dalam Islam. Dalam hadis, Rasulullah SAW memperingatkan:

"Sesungguhnya pemimpin yang paling buruk adalah mereka yang membenci rakyatnya dan rakyatnya membenci mereka." (HR. Muslim).

Korupsi dalam kepemimpinan Yazid menjadi pelajaran penting bagi umat Islam. Ia menunjukkan betapa berbahayanya jika seorang pemimpin tidak memiliki integritas moral dan spiritual.

Baca Juga: Doa Terhindar dari Virus HMPV yang Sedang Mewabah di China

Dalam sistem Islam, kepemimpinan bukanlah hak istimewa, tetapi tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Sejarah ini mengingatkan kita untuk selalu memilih pemimpin berdasarkan akhlak dan ketakwaan, bukan hanya atas dasar kekuatan atau popularitas. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, mereka yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian." (HR. Muslim).

Dengan memahami kisah ini, umat Islam diajak untuk terus menjaga amanah kepemimpinan dan menolak segala bentuk korupsi, demi mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.