AKURAT.CO Dalam sejarah panjang kekhalifahan Islam, terdapat berbagai pemimpin dengan karakter dan rekam jejak yang beragam.
Sebagian besar khalifah dikenang sebagai pemimpin adil yang mengutamakan kepentingan rakyat dan agama. Namun, tidak semua pemimpin mampu menjaga integritasnya.
Untuk menilai siapa pemimpin yang paling korup dalam sejarah kekhalifahan, kita harus mendasarkan analisis ini pada data sejarah, konteks sosial-politik, serta tindakan yang dilakukan selama masa pemerintahannya.
Kekhalifahan Sebagai Sistem Pemerintahan
Sistem kekhalifahan Islam dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 632 M.
Kekhalifahan ini dibagi dalam beberapa periode utama, yaitu Kekhalifahan Rasyidin (632-661 M), Kekhalifahan Umayyah (661-750 M), Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), serta kekhalifahan kecil lainnya seperti Fatimiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah.
Masing-masing era memiliki tantangan dan dinamika politik yang berbeda, sehingga perilaku korupsi pun muncul dalam berbagai bentuk.
Pemimpin yang Dituduh Korup
Dalam kajian sejarah Islam, beberapa pemimpin sering mendapat kritikan karena dituduh melakukan penyalahgunaan kekuasaan.
Salah satu nama yang sering muncul adalah Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua dari Dinasti Umayyah.
Yazid memimpin dari tahun 680 hingga 683 M, dan ia dikenang karena peristiwa tragis seperti tragedi Karbala, pengepungan Madinah (Perang Harrah), serta penyerangan terhadap Makkah.
Baca Juga: Segini Biaya Haji di Masa Khalifah Umar bin Khattab, Apa Sama dengan Biaya Haji 2025?
Meskipun Yazid sering dicap sebagai pemimpin yang kejam, tuduhan korupsi terhadapnya lebih terkait dengan gaya pemerintahannya yang otoriter daripada penyelewengan finansial.
Yazid memanfaatkan kekuasaan untuk mempertahankan hegemoni keluarganya, mengabaikan prinsip syura (musyawarah), dan memberdayakan militer untuk mengintimidasi oposisi.
Namun, jika kita berbicara tentang korupsi dalam pengertian modern—yakni penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu—ada beberapa khalifah Abbasiyah yang sering menjadi sorotan.
Misalnya, Al-Muqtadir Billah (berkuasa 908-932 M), yang masa kekuasaannya disebut-sebut sebagai awal kemerosotan Dinasti Abbasiyah. Ia dikenal karena kelemahannya dalam mengendalikan pejabat istana, terutama wazir-wazir yang korup.
Banyak sumber menyebut bahwa istana Abbasiyah di masanya penuh dengan intrik politik, korupsi, dan kemewahan yang jauh dari prinsip Islam.
Data Ilmiah dan Sumber Sejarah
Dalam menilai korupsi di masa kekhalifahan, penting untuk merujuk pada karya sejarawan klasik seperti Al-Tabari, Ibn Khaldun, dan Al-Mas’udi. Al-Tabari, misalnya, mencatat bagaimana para pejabat sering memperkaya diri sendiri melalui pajak yang memberatkan rakyat.
Sementara itu, Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyoroti bahwa korupsi adalah salah satu penyebab utama kehancuran sebuah dinasti.
Penelitian modern juga memberikan perspektif yang lebih terstruktur. Dalam bukunya The Decline of the Abbasid Empire, Hugh Kennedy menyoroti bagaimana korupsi di tingkat birokrasi dan militer menjadi faktor utama runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah.
Kajian lain dari Michael Bonner, dalam Arabia and the Arabs, menyebut bahwa lemahnya kontrol terhadap pejabat lokal selama era Umayyah dan Abbasiyah sering kali menjadi akar korupsi yang merugikan rakyat.
Korupsi dalam Perspektif Islam
Islam dengan tegas melarang segala bentuk korupsi. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 188).
Baca Juga: Gempa Bumi Vanuatu Disebut Dahsyat, Begini Sejarah Gempa Bumi di Masa Khalifah Utsmaniyah yang Bikin Heboh!
Korupsi tidak hanya merusak keadilan sosial, tetapi juga mengikis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Dalam hadis Rasulullah SAW, beliau bersabda:
"Barang siapa yang kami angkat sebagai pegawai atas suatu pekerjaan, kemudian ia menyembunyikan jarum atau lebih dari itu, maka ia adalah ghulul (pengkhianat) yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa apa yang disembunyikannya itu." (HR. Muslim)
Tidak mudah menunjuk satu pemimpin sebagai yang "terkorup" dalam sejarah kekhalifahan Islam, karena konteks zaman dan definisi korupsi sering kali berbeda.
Namun, jelas bahwa korupsi, dalam bentuk apapun, adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejatuhan berbagai dinasti dalam sejarah Islam.
Dengan belajar dari masa lalu, umat Islam dapat memahami pentingnya memilih pemimpin yang amanah dan menjaga integritas dalam pemerintahan.
Sejarah memberikan pelajaran berharga bahwa kejayaan Islam tidak hanya bergantung pada kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga pada akhlak dan keadilan para pemimpinnya.