Harga Emas Antam Logam Mulia Terus Naik, Ini Sejarah Naiknya Harga Emas di Masa Kekhalifahan Islam

AKURAT.CO Harga emas antam logam mulia dikabarkan terus mengalami kenaikan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik, dan inflasi yang mendera berbagai negara, harga emas Antam Logam Mulia terus menunjukkan tren kenaikan.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas per gram bahkan mencetak rekor tertingginya, menembus angka psikologis yang dulunya tak terbayangkan.
Emas, sebagaimana sejak ribuan tahun lalu, masih menjadi jangkar stabilitas, pelarian (safe haven), dan simbol kekayaan.
Namun, apakah tren naiknya harga emas ini sesuatu yang baru dalam sejarah umat manusia? Atau justru memiliki pola yang bisa ditelusuri dari peradaban-peradaban terdahulu—termasuk di masa kekhalifahan Islam?
Mari kita mundur jauh ke abad ke-7 dan 8 Masehi, saat Islam baru saja bangkit sebagai kekuatan dunia. Di bawah kepemimpinan para khalifah, ekonomi Islam tumbuh dengan pesat.
Emas dan perak menjadi instrumen moneter yang sah, dalam bentuk dinar dan dirham. Dalam tradisi Islam klasik, satu dinar adalah koin emas seberat sekitar 4.25 gram, sedangkan satu dirham adalah perak seberat 2.975 gram.
Rasulullah SAW sendiri telah menyebutkan standar ini dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan al-Baihaqi.
Baca Juga: Harga Emas Antam Logam Mulia Terus Naik Tinggi? Ini Tips Investasi Emas dalam Islam
Stabilitas harga emas dalam masa awal kekhalifahan, seperti era Khalifah Umar bin Khattab hingga awal Bani Umayyah, sangat terjaga karena ekonomi berbasis riil dan minimnya praktik riba serta spekulasi.
Namun, ketika mulai terjadi ekspansi besar-besaran dan pengeluaran militer meningkat, tekanan terhadap logam mulia pun tak terhindarkan.
Permintaan terhadap emas meningkat drastis, dan itu mulai menciptakan gejolak harga—bahkan ketika tidak dicatat secara eksplisit sebagai "kenaikan harga" seperti dalam sistem fiat modern, namun melalui fenomena devaluasi dirham terhadap dinar.
Menariknya, sejarawan Islam ternama seperti al-Maqrizi dalam karyanya Ighāthah al-Ummah mencatat terjadinya inflasi dan kelangkaan logam mulia di era akhir Mamluk (abad ke-14-15), yang banyak dipengaruhi oleh pemalsuan mata uang dan pencampuran logam dinar dengan bahan lain.
Ini menyebabkan nilai intrinsik emas turun, meskipun nominalnya tetap, dan masyarakat pun kehilangan kepercayaan terhadap mata uang—fenomena yang mirip dengan inflasi tersembunyi zaman sekarang.
Secara ilmiah, tren kenaikan harga emas dapat dijelaskan melalui hukum penawaran dan permintaan yang berlaku universal, termasuk dalam sistem ekonomi Islam. Ketika pasokan emas terbatas, sementara permintaan meningkat karena ketidakpastian, maka harga pun akan naik.
Dalam jurnal ekonomi Islam kontemporer, seperti tulisan Dr. Umar Chapra dan Prof. Monzer Kahf, disebutkan bahwa salah satu kekuatan sistem moneter Islam adalah kestabilannya ketika berbasis pada logam mulia, karena nilai intrinsik emas tak bisa dimanipulasi secara semena-mena seperti uang fiat.
Saat Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran ekonomi pada abad ke-10 ke atas, harga emas mulai melonjak akibat defisit anggaran, korupsi fiskal, dan berkurangnya cadangan emas akibat perang.
Ini diperparah dengan penguasaan jalur perdagangan oleh kekuatan luar seperti Bizantium dan kemudian bangsa Eropa, yang membuat logam mulia makin langka di pasar Islam.
Maka, harga emas pun naik bukan hanya sebagai komoditas, tapi sebagai simbol krisis kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi yang mulai kehilangan nilai-nilai syariah.
Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Terbaru 17 April 2025: Tembus Rp2 Juta Per Gram!
Kenaikan harga emas dewasa ini, termasuk emas Antam, sesungguhnya bukanlah gejala baru. Ini adalah cermin dari sejarah panjang yang telah berkali-kali berulang.
Umat Islam di masa lalu pun menyaksikan bagaimana emas menjadi "tameng" dari krisis, tetapi juga bisa jadi indikator dari ketidakseimbangan ekonomi jika digunakan secara tidak amanah.
Lantas, pelajaran apa yang bisa diambil? Bahwa emas bukan sekadar investasi, tapi sekaligus alarm sosial. Jika hari ini harga emas melonjak tajam, maka kita patut bertanya: Apakah sistem ekonomi kita sedang krisis? Apakah kepercayaan terhadap uang kertas mulai goyah?
Dan yang lebih penting lagi, apakah kita sedang menuju era baru, di mana sistem berbasis aset riil seperti yang dicontohkan dalam ekonomi Islam klasik kembali mendapatkan tempatnya?
Dari masa Kekhalifahan hingga kini, emas tetap bersinar. Tapi sinarnya bukan hanya sebagai harta, melainkan sebagai cermin atas kondisi sosial dan ekonomi manusia itu sendiri.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








