Apakah Muslim yang Mengucapkan'Selamat Natal' Otomatis Meyakini Agama Kristen?

AKURAT.CO Muslim yang mengucapkan “Selamat Natal” kepada saudara atau teman non-Muslim sering menjadi bahan diskusi, terutama di negara dengan keberagaman seperti Indonesia.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang plural, penting bagi kita untuk memahami persoalan ini secara mendalam, baik dari sisi teologis maupun sosial.
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk bersikap baik dan adil kepada siapa pun, termasuk kepada non-Muslim, selama mereka tidak memusuhi atau memerangi umat Islam.
Mengucapkan “Selamat Natal” dalam konteks ini dapat dilihat sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap keyakinan orang lain, tanpa berarti kita meyakini ajaran agama mereka.
Baca Juga: Mengenal Pulau Natal, Pulau Kecil yang Dihuni Oleh Mayoritas Umat Islam
Penting untuk dipahami bahwa ucapan selamat ini adalah bentuk interaksi sosial dan bukan pengakuan teologis.
Mengucapkan “Selamat Natal” tidak berarti seorang Muslim mengimani doktrin Kristen tentang kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan.
Dalam Islam, Nabi Isa (Yesus) dihormati sebagai salah satu nabi besar, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
“(Ingatlah) ketika para malaikat berkata: ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).’” (QS. Ali 'Imran: 45).
Menghormati perayaan umat lain, selama tidak melibatkan praktik ibadah agama mereka, adalah bagian dari akhlak mulia. Bahkan, Rasulullah SAW dikenal sangat menghargai keberagaman di Madinah.
Ketika memimpin masyarakat yang terdiri atas berbagai suku dan agama, beliau menegakkan prinsip-prinsip keadilan dan saling menghormati tanpa memaksa keyakinannya kepada orang lain.
Dalam konteks Indonesia, ucapan “Selamat Natal” juga dapat dipahami sebagai bentuk kontribusi seorang Muslim untuk menjaga keharmonisan sosial.
Sebagai bangsa yang majemuk, nilai-nilai toleransi merupakan fondasi penting dalam kehidupan bersama. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Baca Juga: GP Ansor Siap Kerahkan Banser untuk Amankan Perayaan Natal dan Tahun Baru
Dengan demikian, ucapan “Selamat Natal” tidak otomatis menjadikan seorang Muslim meyakini ajaran agama Kristen.
Sebaliknya, hal itu justru bisa menjadi wujud kasih sayang dan penghormatan yang diajarkan dalam Islam, sekaligus memperkuat persatuan dalam masyarakat yang beragam.
Namun, setiap Muslim tetap memiliki kebebasan dalam memilih untuk mengucapkan atau tidak, selama dilandasi niat yang baik dan pemahaman yang benar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









