Akurat

Kapan Istilah "Tanwir" Pertamakali Digunakan Muhammadiyah?

Fajar Rizky Ramadhan | 19 November 2024, 15:32 WIB
Kapan Istilah "Tanwir" Pertamakali Digunakan Muhammadiyah?

AKURAT.CO Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan menggelar Tanwir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 4-6 Desember 2024. Tanwir merupakan forum permusyawaratan penting yang mencerminkan tradisi musyawarah Muhammadiyah, yang telah berlangsung sejak lama. Kata “Tanwir,” yang berarti pencerahan, pertama kali digunakan pada masa kepemimpinan KH. Hisyam pada tahun 1932.

Istilah Tanwir kemudian diresmikan sebagai bentuk kegiatan permusyawaratan Muhammadiyah dalam Muktamar ke-24 yang digelar di Banjarmasin pada tahun 1935. Pengesahan ini menjadi tonggak sejarah dalam penetapan istilah Tanwir sebagai wadah musyawarah resmi dalam organisasi tersebut.

Dokumentasi formal penggunaan istilah Tanwir sebagai forum permusyawaratan tertinggi di Muhammadiyah ditemukan dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah tahun 1959. Pada Bab VI Pasal 16, disebutkan bahwa Tanwir merupakan permusyawaratan tertinggi ketika Muktamar tidak diselenggarakan. Ketentuan ini memberikan fondasi formal bagi pelaksanaan Tanwir.

Baca Juga: Sejarah dan Perbedaan Muktamar dan Tanwir Muhammadiyah

Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah terbaru, istilah Tanwir dijelaskan pada Pasal 24. Forum ini berada di bawah Muktamar dan diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Anggota Tanwir meliputi Pimpinan Pusat, Ketua Pimpinan Wilayah, serta perwakilan organisasi otonom tingkat pusat. Tanwir diadakan minimal tiga kali selama satu periode kepengurusan, dengan agenda dan ketentuannya diatur lebih rinci dalam Anggaran Rumah Tangga.

Tanwir juga menjadi bagian penting dalam ranah intelektual Muhammadiyah. Istilah ini digunakan dalam Tafsir at-Tanwir yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah sebagai implementasi amanah Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 2010. Proyek ini bertujuan menghasilkan tafsir lengkap 30 juz Al-Qur’an.

Pada Juli 2015, versi awal Tafsir at-Tanwir diterbitkan dalam bentuk pre-launch edition. Setelah mendapatkan persetujuan Pimpinan Pusat, jilid pertama Tafsir at-Tanwir diterbitkan pada Mei 2016 oleh Suara Muhammadiyah. Proyek ini direncanakan mencakup 30 jilid, masing-masing memuat tafsir satu juz Al-Qur’an sesuai urutan mushaf.

Kehadiran Tafsir at-Tanwir menunjukkan dedikasi Muhammadiyah dalam menyumbangkan karya tafsir berbasis pencerahan. Upaya ini memperkaya tradisi pemikiran Islam di Indonesia dengan pendekatan yang relevan dan kontekstual.

Baca Juga: Sejarah Masuknya Islam ke NTT, Lokasi Tanwir Muhammadiyah 2024

Sejarah Tanwir dalam Muhammadiyah mencerminkan komitmen organisasi ini terhadap budaya musyawarah yang berbasis kolektivitas. Forum ini tidak sekadar simbol formal, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika organisasi Muhammadiyah.

Dengan tradisi musyawarah yang hidup dan terawat, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa nilai-nilai musyawarah tidak hanya menjadi teori, tetapi juga praktik nyata yang mendarah daging dalam kehidupan berorganisasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.