Akurat

Khutbah Jumat: Nilai Manusia di Mata Tuhan

Eko Krisyanto | 1 Agustus 2024, 13:38 WIB
Khutbah Jumat: Nilai Manusia di Mata Tuhan

SALAH satu rukun dan syarat pelaksanaan shalat Jumat adalah adanya dua khutbah. Berikut ini naskah khutbah berjudul Nilai Manusia di Mata Tuhan.

Khutbah I

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله، والذي بعثه رحمة للعالمين من أنسه وجِنِّه، والذي جعله يوم القيامة شهيدا على الخلائق من خيره وشره.


أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة تدخل قائلها فسيح جنته. وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده شهادة تقر في الفؤاد صاحبه من أمته.


اللهم صل وسلم على الحبيب المصطفى سيدنا محمد سيدا الخلائق وإمام المتقين، وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد.

فيا عباد الله، أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله في كل متقلب من الحوادث الدنياوية إلى أن أتانا الوفاة ونحن له مسلمون، فقد قال الله تعالى في كتابه العزيز: ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ (سورة آل عمران: 102 )

Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah SWT.

Banyak hal terjadi di dunia ini dengan sangat mudahnya dan begitu cepat, menggoyahkan hati manusia terhadap keyakinannya kepada Allah, ada yang tetap kokoh tak tergoyahkan, ada pula yang lemah pendirian membuatnya jatuh. Maka dari Allah SWT berpesan untuk kita semua di dalam al-Qur’an:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” QS. Al-Talaq: 2

Oleh karena itu, pegangan yang baik adalah berpegang dengan ketakwaan diri kepada Allah swt dalam segala kondisi dan keadaan, semoga dengan itu kita berharap akan terus mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari jalan buntu menuju jalan terang.

Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah SWT.

Banyak orang ingin menjadi pintar, juara kelas, menang perlombaan dan menjadi orang kaya tetapi sedikit orang yang ingin menjadi berguna, baik dan benar.

Ada orang berguna namun tidak benar, dititipkan amanah malah dia berkhianah, ditugaskan untuk menjaga beras dan mengurusnya, malah dia menimbun beras, ditugaskan untuk menjaga dan mengelolal uang, malah dia habiskan uang itu.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mana yang Lebih Afdhal, Apakah dengan Bahasa Arab atau Indonesia?

Tinggi gelar bukan berarti dia hebat, tinggi jabatan bukan berarti dia keren jika semua itu tidak digunakan untuk berbuat kebaikan dan menebar manfaat untuk orang banyak.

Seseorang tidak mengenal diri kita bahwa kita adalah seorang arsitek kalua tidak membuat sebuah karya, tidak bisa menggambar dan membuat sebuah bangunan.

Seseorang tidak tahu bahwa kita adalah seorang pemain bola yang hebat jika kita tidak bisa menendang bola dan mencetak gol. Seseorang juga tidak tahu bahwa kita adalah seorang dokter kalua kita tidak bisa menyembuhkan orang sakit.

Pada dasarnya, orang-orang akan mengenal siapa kita kalau kita berbuat sesuatu untuk mereka, semakin besar pengaruh yang kita buat maka semakin besar pula nama kita di hati mereka, jika pengaruhnya itu baik maka nama kita pun baik, jika pengaruhnya buruk maka nama kita menjadi buruk.

Lihatlah bagaimana Allah gambarkan di dalam ayat-ayat suci al-Qur’an, mengkisahkan antara pengaruh baik dan buruk, antara musa dan firaun, Ibrahim dan namrud. Maka setiap dari karakter memiliki hasil yang berbeda di dalam Masyarakat, yang baik akan mendapat cinta dan yang buruk akan mendapat benci.

Siapa di antara kita yang ingin dibenci? Setiap dari kita ingin dicintai, dihargai dan dihormati, jika demikian maka berbuatlah kebaikan dan jangan berbuat kejahatan yang merugikan Masyarakat. Pada akhirnya benar apa yang disampaikan oleh baginda nabi Muhammad SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Manfaat artinya berguna untuk orang lain bukan untuk diri sendiri atau juga keluarga sendiri, itulah sejatinya akhlak mulia yang oleh karenanya nabi Muhammad saw diutus ke muka bumi, semata-mata untuk mengangkat derajat manusia dan harga dirinya, Rasulullah saw pernah menyampaikan dalam hadis riwayat Imam Ahmad:

" ‌إِنَّمَا ‌بُعِثْتُ ‌لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ "

Artinya: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik” HR. Bukhari.

Ketahuilah bahwa setiap makhluk mempunyai harga diri. Kerbau nilainya ada pada dagingnya, semakin berat timbangannya maka nilainya semakin tinggi. Burung, nilainya bukan pada dagingnya melainkan pada suara yang dikeluarkan darinya, semakin indah kicauannya maka semakin tinggi nilainya.

Demikian pula manusia memiliki nilainya tersendiri, nilainya bukan pada dagingnya atau juga pada suaranya akan tetapi nilai seorang manusia ada pada akhlaknya, bagaimana interaksi dia dengan Masyarakat, apakah memberi manfaat atau justru memberi kerisauan.

Hadirin jama’ah jum’at yang dirahmati Allah.
Dalam sebuah hadis dikatakan:

إن الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم

Artinya: “sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian dan rupa-rupa kalian akan tetapi (Allah) melihat hati-hati kalian.” HR. Muslim.

Nabi menjelaskan melalui hadisnya, bahwa tubuh yang kita jaga, tubuh yang kita rawat, kita bentuk sampai mendapatkan tubuh yang ideal, kekar dan berotot, bukanlah fokus Allah memandang kita, bukanlah standar keindahan Allah melihat jati diri kita, bukanlah orang hebat di mata Allah.

Begitu juga rupa yang kita miliki, seberapa besar upaya seseorang mengubah rupanya, seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk sebuah operasi yang dilakukan, atau seberapa buruk rupa seseorang, warna kulitnya, apakah dia hitam atau putih, apakah dia pendek atau tinggi, apakah dia keturuan dari seorang bangsawan atau bawahan, itu semua bukanlah titik dimana Allah melihat kita, bukan acuan yang Allah ingin lihat dari kita, bukan puncak dari pandangan Allah.

Perlu diingat bahwa yang menjadi titik dimana Allah memandang hambanya adalah hatinya, jika hati seseorang itu baik maka perilakunya akan baik, dan jika hati buruk maka perilaku juga akan ikut buruk, oleh karena itu penting bagi kita untuk menata kembali hati kita dengan keimanan dan ketakwaan.

Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْإِنْسَانِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. ‌أَلَا ‌وَهِيَ ‌الْقَلْبُ "

Artinya: “ingatlah, dan sesungguhnya di dalam manusia terdapat segumpal daging, jika itu baik maka tubuh-pun ikut baik seluruhnya, dan jika itu rusak maka tubuh juga rusak, itu adalah hati.” HR. Bukhari.

Maka, kita harus menjaga hati kita karena hati yang baik akan melahirkan akhlak yang baik, jika akhlak baik maka nilai diri kita di mata Allah juga baik.

Baca Juga: Khutbah Jumat, Bolehkah dengan Bahasa Daerah?

بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم ونفعني وإيامكم بما فيه من الآيات والذكر واستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah II


الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، وما كنا لنقوم بالواجبات لولا أن أقامنا الله، وما كنا لنصلح أعمالنا لولا أن أصلحنا الله.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده.

اللهم صل وسلم على سيدنا وحبيبنا وشفيعنا ومولانا محمد المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

فيا عباد الله، أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله في القول والعمل، في السر والعلن، ما ظهر منها وما بطن، لعل الله يغفر ذنوبنا جميعا، ويصلح بذلك أعمالنا، فإن الله قال في القرءان العظيم: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا (سورة الأحزاب: 69-71).

إن الله وملئكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، اللهم اجعل جمعنا جمعا مرحوما، وتفرقنا من بعده تفرقا معصوما، ولا تجعل فينا ولا منا شقيا ولا محروما، اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، اللهم انصر الإسلام والمسلمين، وأهلك أعداءك أعداء الدين، برحمتك يا أرحم الراحمين. آمين

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربي وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون، واذكروه يذكركم، واشكروا على نعمائه يزدكم، ولذكر الله أكبر.

Ahmad Arif Hidayat, Lc., M.S.i.
(Dosen STAINI Parung Bogor) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Lufaefi
Editor
Lufaefi