Akurat

Makna Mendalam Wukuf di Arafah, Ritual Puncak Haji

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Juni 2024, 13:02 WIB
Makna Mendalam Wukuf di Arafah, Ritual Puncak Haji

AKURAT.CO Wukuf di Arafah merupakan salah satu ritual paling utama dalam rangkaian ibadah haji.

Ritual ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah di Padang Arafah dan menjadi puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda:

«الْحَجُّ عَرَفَةُ، مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ»

“Al-Hajj adalah Arafah. Barangsiapa yang datang pada malam hari berkumpul sebelum fajar, maka dia telah memperoleh haji.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya Wukuf di Arafah dalam ibadah haji. Tidak sempurna haji seseorang tanpa melaksanakan Wukuf ini.

Baca Juga: Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah, Berlimpah Pahala dan Ampunan Dosa

Makna Mendalam Wukuf di Arafah

Pengingat Hari Kiamat

Wukuf di Arafah mengingatkan umat Islam akan suasana hari kiamat. Semua jamaah haji, tanpa memandang status sosial, berkumpul di satu tempat dengan pakaian ihram yang sederhana. Hal ini mencerminkan suasana ketika manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar.

Momen Introspeksi dan Taubat

Di Arafah, para jamaah haji dianjurkan untuk berdoa, berzikir, dan merenungi dosa-dosa mereka. Ini adalah waktu untuk introspeksi diri, memohon ampunan dari Allah SWT, dan berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kesetaraan di Hadapan Allah

Ritual ini menegaskan bahwa di hadapan Allah, semua manusia adalah sama. Pakaian ihram yang seragam tanpa hiasan duniawi menunjukkan bahwa kekayaan, jabatan, dan status sosial tidak berarti apa-apa di hadapan Allah.

Simbol Pengorbanan dan Kepatuhan

Melakukan Wukuf di Arafah juga merupakan bentuk pengorbanan dan kepatuhan kepada Allah. Jamaah meninggalkan kenyamanan hidup mereka untuk beberapa saat demi melaksanakan perintah Allah, menunjukkan ketundukan dan kepatuhan yang tinggi.

Ritual Wukuf: Langkah-langkah Pelaksanaannya

Persiapan

Jamaah haji biasanya mulai bergerak menuju Arafah pada pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah. Mereka melakukan persiapan fisik dan mental untuk melaksanakan Wukuf dengan sebaik-baiknya.

Waktu Pelaksanaan

Wukuf dimulai setelah tergelincir matahari (waktu dzuhur) dan berlangsung hingga terbenam matahari. Pada waktu ini, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak doa, dzikir, dan ibadah lainnya.

Baca Juga: Status Hadis Puasa Tarwiyah Palsu, Lantas Bagaimana Hukum Puasanya?

Doa dan Zikir

Selama Wukuf, jamaah memanfaatkan waktu untuk berdoa dengan khusyuk. Doa yang paling utama dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah:

«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

“Doa terbaik adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan, milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (HR. Tirmidzi)

Wukuf di Arafah bukan sekadar ritual formalitas dalam ibadah haji, melainkan sebuah momen spiritual yang sangat dalam. Ia mengingatkan umat Islam akan hari akhir, menegaskan kesetaraan di hadapan Allah, serta menjadi momen introspeksi dan taubat.

Melalui Wukuf di Arafah, jamaah haji diharapkan kembali ke tanah air mereka dengan hati yang bersih dan semangat baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan taat kepada Allah SWT.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.