Akurat

Tanda-tanda Gigi Harus Dicabut dan Kapan Anda Perlu ke Dokter

Ratu Tiara | 1 Desember 2025, 17:13 WIB
Tanda-tanda Gigi Harus Dicabut dan Kapan Anda Perlu ke Dokter

AKURAT.CO Proses mencabut gigi adalah langkah terakhir dalam perawatan kesehatan gigi dan mulut.

Meski terdengar sederhana, tindakan ini tidak bisa dilakukan sembarangan karena dokter gigi perlu memastikan bahwa gigi memang sudah tidak bisa dipertahankan.

Pada banyak kasus, pencabutan dilakukan untuk mencegah infeksi semakin meluas atau mengatasi kerusakan gigi yang sudah tidak mungkin diperbaiki dengan perawatan lain.

Gigi yang harus dicabut biasanya menunjukkan tanda atau gejala tertentu yang berkaitan dengan kondisi medis, fungsi kunyah, maupun kesehatan jaringan sekitarnya. Berikut penjelasan lengkapnya:

Baca Juga: Benarkah Mencabut Gigi Bisa Berujung Kebutaan?

Tanda-Tanda Utama Gigi Harus Dicabut

1. Nyeri Gigi yang Tidak Kunjung Hilang

Rasa sakit yang terus muncul meskipun sudah minum obat pereda nyeri bisa menjadi sinyal bahwa kerusakan pada gigi sudah cukup serius, entah karena infeksi atau kerusakan pada akar.

Jika nyeri membuat Anda sulit makan, tidur, atau berbicara, segera periksakan ke dokter gigi. Dalam banyak kasus, pencabutan menjadi pilihan terbaik agar infeksi tidak menyebar.

2. Gigi Goyang karena Infeksi atau Penyakit Gusi

Gigi yang terasa longgar tidak hanya terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, mobilitas gigi biasanya disebabkan oleh penyakit periodontal atau kerusakan pada jaringan penyangga.

Jika gigi sudah terlalu goyang dan tidak bisa lagi berfungsi dengan baik, dokter mungkin menyarankan pencabutan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

3. Kerusakan Gigi yang Sudah Terlalu Parah

Gigi berlubang yang sudah menembus hingga ke akar, atau gigi yang patah sampai tidak bisa lagi diperbaiki dengan tambalan atau crown, termasuk kondisi yang mengharuskan pencabutan. Kerusakan yang meluas membuat struktur gigi tidak lagi kuat untuk dipertahankan.

4. Infeksi Berat yang Menimbulkan Nanah dan Pembengkakan

Tanda infeksi seperti abses, munculnya nanah, gusi bengkak, demam, atau bau mulut yang tidak sedap menunjukkan bahwa bakteri sudah masuk lebih dalam ke jaringan gigi.

Jika infeksi tidak merespons perawatan saluran akar, pencabutan perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran ke bagian tubuh lain.

5. Gigi Retak atau Patah yang Tidak Bisa Diselamatkan

Keretakan akibat benturan, kecelakaan, atau kebiasaan menggigit benda keras bisa merusak struktur gigi. Bila retaknya sudah sampai ke akar dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki, pencabutan merupakan langkah terbaik agar tidak memicu infeksi atau rasa nyeri berkepanjangan.

6. Masalah pada Gigi Bungsu

Gigi bungsu sering menjadi penyebab pencabutan karena tumbuh miring, terjebak (impaksi), atau menyebabkan peradangan berulang pada gusi. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa sakit, bau mulut, hingga kerusakan pada gigi di sebelahnya.

Jika gigi bungsu terus menimbulkan keluhan, dokter biasanya akan menyarankan pencabutan.

Baca Juga: Gigi Renggang (Diastema): Penyebab, Ciri, dan Cara Mengobatinya

Kondisi Medis yang Mengharuskan Pencabutan Gigi

Selain tanda-tanda di atas, beberapa kondisi berikut juga dapat menjadi alasan kuat untuk melakukan pencabutan:

1. Infeksi Kronis yang Tidak Merespons Perawatan

Jika infeksi pada pulpa dan jaringan sekitarnya terus kembali meskipun sudah menjalani perawatan saluran akar, pencabutan menjadi pilihan untuk menghentikan infeksi agar tidak menyebar lebih jauh.

2. Penyakit Periodontal Stadium Lanjut

Periodontitis berat dapat merusak jaringan penyangga gigi. Jika gigi sudah mencapai mobilitas tingkat III atau IV, gigi tidak dapat berfungsi normal dan harus dicabut.

3. Gigi Impaksi

Gigi yang tumbuh tidak sempurna atau berada dalam posisi miring dapat menyebabkan rasa sakit, peradangan, dan merusak gigi tetangga.

4. Gigi Berjejal atau Mengganggu Penataan Gigi

Dalam perawatan ortodontik, pencabutan dilakukan untuk memberi ruang agar susunan gigi menjadi lebih rapi dan proporsional.

5. Gigi Non-Vital yang Menyebabkan Masalah Tulang

Gigi mati dapat memicu terbentuknya kista atau granuloma di rahang. Jika kondisinya berkembang dan merusak tulang, pencabutan dapat mencegah komplikasi lebih serius.

6. Persiapan Terapi Medis Tertentu

Pasien yang akan menjalani terapi radiasi di area kepala dan leher biasanya dianjurkan mencabut gigi yang rusak untuk mencegah infeksi yang sulit sembuh setelah terapi.

Kapan Gigi Susu Harus Dicabut?

Gigi susu umumnya akan tanggal sendiri. Namun pencabutan diperlukan jika:

  • Gigi goyang tapi tidak kunjung tanggal

  • Gigi susu patah karena benturan

  • Terjadi pembusukan parah

  • Gigi susu menghalangi tumbuhnya gigi permanen

Jika anak merasa sangat tidak nyaman atau giginya tidak tanggal meski sudah longgar, konsultasikan ke dokter gigi agar prosesnya aman dan tidak menimbulkan trauma.

Tanda-Tanda Lain yang Menunjukkan Gigi Perlu Dicabut

Selain tanda umum, berikut sinyal lain yang tidak boleh diabaikan:

• Gusi Bengkak dan Bernanah

Abses menandakan infeksi sudah cukup berat. Jika tidak ditangani, bisa menyebar ke jaringan lain.

• Lubang Gigi yang Terlihat Makin Dalam

Bintik hitam yang terus membesar menandakan kerusakan yang sudah mencapai pulpa.

• Gigi Tidak Bisa Dipakai Mengunyah

Jika menimbulkan rasa sakit saat makan, kemungkinan kerusakan sudah cukup dalam.

Kapan Harus Segera ke Dokter Gigi?

Jika Anda mengalami satu atau lebih dari gejala berikut:

  • Nyeri yang tidak tertahankan

  • Gusi bengkak atau bernanah

  • Gigi goyang

  • Gigi berlubang dalam

  • Gigi bungsu terasa sakit atau tumbuh miring

Penanganan sejak dini dapat mencegah komplikasi dan membuat proses perawatan jauh lebih mudah.

Apa yang Terjadi Setelah Gigi Dicabut?

Setelah prosedur, Anda mungkin merasakan sedikit nyeri atau tidak nyaman selama beberapa hari.

Dokter biasanya memberikan obat pereda nyeri dan instruksi perawatan, seperti menghindari makanan keras dan menjaga area cabutan tetap bersih.

Dalam beberapa hari, kondisi biasanya membaik dan Anda dapat kembali beraktivitas seperti biasa.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf
R