Hati-hati, Konsumsi Gula Berlebih Bisa Mempercepat Penuaan Sel

AKURAT.CO Gula memang memberikan rasa manis yang membuat makanan dan minuman terasa lebih nikmat.
Namun, di balik kenikmatannya, gula ternyata dapat membawa dampak yang cukup serius bagi tubuh.
Sejumlah penelitian dan pakar kesehatan menyebut bahwa konsumsi gula berlebih dapat mempercepat penuaan sel, baik kulit maupun organ tubuh lainnya.
Lalu, benarkah gula benar-benar dapat membuat tubuh lebih cepat tua?
Gula dan Hubungannya dengan Penuaan Sel
Ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak gula, kadar gula dalam tubuh akan meningkat.
Gula yang berlebih ini dapat bereaksi dengan protein di dalam tubuh dan membentuk senyawa bernama Advanced Glycation End Products (AGEs).
Senyawa inilah yang berperan dalam mempercepat penuaan sel. AGEs dapat merusak kolagen dan elastin, dua protein ini penting untuk menjaga kulit tetap kenyal, lembap dan kencang.
Akibatnya, kulit menjadi mudah kendur, kusam dan muncul garis-garis halus.
Selain itu, gula berlebih juga memicu stres oksidatif di dalam tubuh. Kondisi ini terjadi ketika jumlah radikal bebas meningkat dna tidak diimbangi dengan antioksidan yang cukup.
Radikal bebas yang menumpuk dapat merusak sel-sel tubuh, termasuk DNA, sehingga proses regenerasi menjadi lebih lambat.
Dalam jangka panjang, kerusakan ini membuat sel menua lebih cepat dan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit.
Tak hanya itu, gula juga berperan dalam menimbulkan peradangan kronis. Saat kadar gula dalam darah tinggi secara terus-menerus.
Tubuh akan memproduksi lebih banyak sitokin proinflamasi yang menyebabkan peradangan jangka panjang.
Peradangan ini bisa merusak jaringan tubuh, mempercepat kerusakan sel, dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.
Tanda-tanda Tubuh Mengalami Penuaan Sel Akibat Gula
Penuaan sel yang disebabkan oleh konsumsi gula berlebih tidak hanya terlihat pada kulit, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi tubuh secara keseluruhan.
Beberapa tanda yang umum muncul antara lain:
● Kulit tampak kusam dan mudah berkeriput: Kolagen yang rusak membuat kulit kehilangan elastisitas alaminya.
● Tubuh mudah lelah: Kelebihan gula membuat kadar energi tidak stabil, sehingga tubuh cepat terasa lemas.
● Penurunan daya tahan tubuh: Kerusakan sel akibat radikal bebas dan peradangan membuat sistem kekebalan tubuh melemah.
● Munculnya penyakit kronis: Penuaan sel yang berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
Cara Mengurangi Risiko Penuaan Sel Akibat Gula
Meski gula berperan penting sebagai sumber energi, bukan berarti tubuh membutuhkan dalam jumlah besar.
Mengendalikan konsumsi gula harian adalah langkah sederhana namun efektif untuk memperlambat proses penuaan.
Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
● Batasi makanan dan minuman manis: Hindari minuman bersoda, kue, permen, dan makanan olahan yang tinggi gula tambahan.
● Perbanyak konsumsi makanan alami: Pilih buah-buahan segar sebagai pemanis alami yang juga mengandung serat dan antioksidan.
● Perhatikan label makanan: Banyak produk kemasan yang mengandung gula tersembunyi, meski rasanya tidak terlalu manis.
● Perbanyak air putih: Air membantu menjaga kelembapan kulit dan mendukung proses detoksifikasi tubuh.
● Tidur yang cukup dan rutin berolahraga: Gaya hidup sehat membantu menyeimbangkan hormon dan memperlambat kerusakan sel.
Gula bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi harus dikonsumsi dengan bijak.
Ketika dikonsumsi berlebihan, gula dapat mempercepat proses penuaan melalui kerusakan kolagen, stres oksidatif, peradangan kronis di dalam tubuh.
Dampaknya bukan hanya pada penampilan luar tetapi juga pada kesehatan sel dan organ dalam jangka panjang.
Menjaga keseimbangan asupan gula, memperbanyak makanan alami, dan menerapkan pola hidup sehat dapat membantu memperlambat proses penuaan dari dalam. Dengan begitu, tubuh tetap bugar, kulit tampak segar, dan proses penuaan berjalan lebih alami.
Laporan: Vania Tri Yuniar/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









