Akurat

Apa Itu Avoidant? Berikut Penjelasan Lengkap Menurut Ilmu Psikologi

Naufal Lanten | 7 Oktober 2025, 18:39 WIB
Apa Itu Avoidant? Berikut Penjelasan Lengkap Menurut Ilmu Psikologi

AKURAT.CO Pernahkah kamu merasa cenderung menghindari situasi sosial, menjauh dari konflik, atau takut menunjukkan kerentanan? Atau mungkin kamu penasaran dengan istilah avoidant yang sering muncul dalam psikologi? Kata avoidant sendiri berarti “menghindar” atau “menjauh”. Dalam konteks psikologi, istilah ini tidak sekadar menggambarkan sifat pemalu, tapi bisa merujuk pada pola perilaku, gaya keterikatan, bahkan gangguan kepribadian yang nyata. Artikel ini akan mengupas tuntas pengertian avoidant, jenisnya, penyebab, dampak, hingga penanganannya berdasarkan bukti ilmiah terbaru.


Apa Itu Avoidant? Dari Perilaku Sehari-hari hingga Diagnosis Klinis

Secara umum, avoidant digunakan untuk menggambarkan orang yang cenderung menghindari situasi, orang, atau emosi yang dianggap berisiko. Misalnya, menghindari konfrontasi, jarang membicarakan perasaan, atau menahan diri dari kedekatan emosional.

Dalam psikologi, istilah ini memiliki tiga makna utama:

  1. Gaya perilaku umum: Strategi menghindar untuk melindungi diri dari rasa tidak nyaman atau risiko sosial.

  2. Avoidant attachment (keterikatan menghindar): Pola hubungan yang terbentuk sejak bayi, memengaruhi cara orang dewasa membangun kedekatan.

  3. Avoidant Personality Disorder (AvPD): Gangguan kepribadian kronis yang ditandai penghindaran sosial akibat rasa inferior dan takut ditolak.


Avoidant Personality Disorder: Definisi Klinis

Avoidant Personality Disorder (AvPD) adalah pola kepribadian yang menetap dan menimbulkan gangguan signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Penderita AvPD biasanya mengalami:

  • Rasa tidak memadai yang kuat.

  • Sensitivitas tinggi terhadap penolakan atau kritik.

  • Penghindaran sosial yang meluas, meski ada kerinduan untuk terhubung dengan orang lain.

Gejala ini biasanya muncul sejak remaja atau awal dewasa, dan berbeda dari sekadar sifat pemalu atau malas. AvPD mengganggu fungsi pekerjaan, hubungan sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.


Seberapa Umum Avoidant Personality Disorder?

Prevalensi AvPD diperkirakan bervariasi antara 0,5% hingga 2–3% populasi, tergantung metode penelitian dan definisi yang digunakan. Misalnya, survei NESARC 2001–2002 menunjukkan sekitar 2,36% populasi memiliki ciri-ciri AvPD.

Sebagai gambaran, gangguan kepribadian secara umum terjadi pada sekitar 9% populasi dewasa, sehingga AvPD merupakan bagian dari beban kesehatan mental masyarakat.


Avoidant Attachment: Gaya Keterikatan Sejak Bayi

Konsep avoidant attachment diperkenalkan melalui penelitian Strange Situation oleh Mary Ainsworth pada 1970-an. Bayi dengan gaya ini tampak ‘menjauh’ dari pengasuh saat berpisah atau bertemu kembali, meski mengalami stres. Ini dianggap strategi adaptif terhadap pengasuhan yang dingin atau menolak.

John Bowlby menekankan bahwa pola keterikatan awal ini membentuk working model diri dan orang lain, memengaruhi hubungan dewasa. Orang dewasa dengan gaya avoidant cenderung menekankan kemandirian, menekan kebutuhan kedekatan, dan mengalami kesulitan mengekspresikan kerentanan.


Apa Penyebab Pola Avoidant?

Penyebab avoidant bersifat multifaktorial, yakni interaksi antara faktor genetik dan pengalaman lingkungan:

  • Genetik: Studi kembar menunjukkan heritabilitas AvPD sekitar 50%, menandakan kontribusi genetik cukup besar.

  • Pengalaman masa kanak-kanak: Pengasuhan yang dingin, penolakan berulang, atau pengabaian emosional meningkatkan risiko.

  • Temperamen dan kepribadian awal: Tingkat neurotisisme tinggi dan ekstroversi rendah berkaitan dengan munculnya ciri-ciri avoidant.

Jadi, pola ini muncul bukan karena satu faktor saja, melainkan kombinasi biologis dan pengalaman interpersonal sejak dini.


AvPD dan Gangguan Lain: Perbedaan dengan Social Anxiety Disorder

AvPD sering muncul bersamaan dengan Social Anxiety Disorder (SAD). Ada perdebatan apakah keduanya merupakan kondisi terpisah atau spektrum yang sama. AvPD biasanya ditandai rasa inferior lebih mendalam dan gangguan fungsi lebih luas, sementara SAD lebih fokus pada kecemasan situasi sosial tertentu.

Komorbiditas ini meningkatkan beban penyakit, risiko depresi, dan isolasi sosial. Oleh karena itu, evaluasi profesional diperlukan untuk membedakan dan menangani keduanya dengan tepat.


Dampak Avoidant Personality Disorder

AvPD dapat menurunkan kualitas hidup signifikan:

  • Kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan sosial.

  • Hambatan dalam pekerjaan atau karier.

  • Peningkatan risiko depresi dan isolasi sosial.

Prognosis tanpa penanganan cenderung kronis, namun gejala dapat membaik dengan terapi yang tepat. Studi longitudinal menunjukkan penurunan gejala seiring waktu pada sebagian orang, meski risiko relapse tetap ada.


Penanganan: Terapi yang Terbukti Efektif

Hingga kini, terapi psikologis adalah pendekatan utama untuk AvPD:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Membantu restrukturisasi pikiran negatif dan eksposur bertahap pada situasi sosial.

  • Schema Therapy: Fokus pada pola skema maladaptif, menunjukkan hasil positif pada pasien dengan AvPD.

  • Terapi kombinasi & kelompok: Latihan keterampilan sosial dan mentalization-based therapy terbukti bermanfaat.

Obat-obatan seperti SSRI tidak menargetkan AvPD langsung, tapi dapat digunakan untuk mengatasi depresi atau kecemasan komorbid. Dukungan keluarga dan teman juga penting untuk meningkatkan keterlibatan terapi.


Kesimpulan

Avoidant bukan sekadar sifat pemalu; bisa menjadi pola perilaku atau bahkan kondisi klinis serius seperti AvPD. Penyebabnya kombinasi genetik, pengalaman masa kecil, dan temperamen. Pengaruhnya terlihat pada hubungan sosial, pekerjaan, dan kualitas hidup.

Penanganan yang efektif melibatkan psikoterapi terstruktur (CBT, schema therapy, terapi kelompok) serta dukungan sosial. Memahami avoidant membantu kita lebih peka terhadap diri sendiri dan orang di sekitar yang mungkin berjuang dengan penghindaran sosial.

Baca Juga: Apa Itu Fetish? Inilah Penjelasan Lengkap, Sejarah, dan Fakta Ilmiahnya

Baca Juga: Apa Itu Panic Attack dan Cara Mengatasinya?

FAQ

1. Apa itu istilah "avoidant" dalam psikologi?
Avoidant berarti menghindar atau menjauh. Dalam psikologi, istilah ini digunakan untuk menggambarkan perilaku yang cenderung menghindari situasi, orang, atau emosi yang dianggap berisiko. Ini bisa berupa gaya perilaku, gaya keterikatan (attachment), atau bahkan gangguan kepribadian seperti Avoidant Personality Disorder (AvPD).

2. Apa bedanya avoidant attachment dengan AvPD?
Avoidant attachment adalah pola keterikatan yang terbentuk sejak bayi, memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dewasa. Sedangkan AvPD adalah gangguan kepribadian kronis yang menyebabkan penghindaran sosial intens karena rasa inferior dan takut ditolak. Meskipun terkait, AvPD lebih serius dan berdampak signifikan pada fungsi hidup sehari-hari.

3. Seberapa umum Avoidant Personality Disorder?
Prevalensi AvPD diperkirakan antara 0,5% hingga 2–3% populasi, tergantung studi dan metode yang digunakan. Gangguan ini termasuk salah satu dari beberapa gangguan kepribadian yang memengaruhi kesehatan mental secara umum.

4. Apa penyebab seseorang menjadi avoidant?
Pola avoidant muncul dari kombinasi faktor genetik, pengalaman masa kanak-kanak (seperti pengasuhan dingin atau penolakan berulang), dan sifat kepribadian awal. Interaksi antara faktor biologis dan lingkungan ini membentuk strategi menghindar yang bertahan hingga dewasa.

5. Apa dampak avoidant terhadap kehidupan sehari-hari?
Orang dengan AvPD atau gaya avoidant yang ekstrem sering mengalami kesulitan menjalin hubungan, hambatan di pekerjaan atau karier, risiko depresi, dan isolasi sosial. Pengaruhnya juga dapat terlihat pada kurangnya keintiman dan keterbukaan dalam interaksi sosial.

6. Bagaimana cara menangani AvPD atau perilaku avoidant?
Terapi psikologis merupakan pendekatan utama, termasuk:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk restrukturisasi pikiran negatif dan eksposur sosial.

  • Schema Therapy untuk mengatasi pola skema maladaptif.

  • Terapi kelompok atau kombinasi untuk melatih keterampilan sosial.
    Obat-obatan dapat membantu mengatasi gejala komorbid, misalnya depresi atau kecemasan. Dukungan keluarga juga sangat penting.

7. Apakah semua orang yang pemalu termasuk avoidant?
Tidak. Avoidant berbeda dari pemalu biasa. Ini adalah pola menetap yang menyebabkan gangguan fungsi dan intensitasnya jauh lebih tinggi daripada sekadar rasa malu atau menghindar sesekali.

8. Kapan sebaiknya mencari bantuan profesional?
Jika penghindaran sosial, rasa inferior, atau kecemasan mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Profesional akan melakukan wawancara klinis dan asesmen terstandar untuk memberikan penanganan yang tepat.

9. Bisakah avoidant membaik seiring waktu?
Ya, gejala dapat membaik dengan terapi psikologis yang tepat. Beberapa studi menunjukkan penurunan gejala seiring waktu, tetapi relapse tetap mungkin tanpa intervensi. Terapi jangka menengah hingga panjang yang terstruktur biasanya paling efektif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.