Mengapa Banyak Orang Takut Kesepian? Ini Penjelasan Psikologisnya

AKURAT.CO Tidak sedikit orang merasa takut saat harus berhadapan dengan kesepian. Ketakutan ini sebenarnya wajar, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan koneksi dan dukungan emosional.
Begitu seseorang merasa terisolasi atau kehilangan kelekatan, muncul rasa cemas, gelisah, bahkan ketakutan mendalam.
Secara psikologis, rasa takut akan kesepian muncul dari kebutuhan dasar manusia untuk diterima, dicintai, dan terhubung.
Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, otak memberi sinyal seolah ada ancaman nyata yang membahayakan.
Kesepian Menurut Psikologi
Dalam buku Addressing Loneliness: Coping, Prevention and Clinical Intervention, Heinrich dan Gullone menjelaskan bahwa kesepian bukan sekadar tidak adanya orang lain di sekitar, melainkan pengalaman emosional yang penuh perasaan negatif.
Kesepian bisa memunculkan rasa tidak dicintai, tidak diinginkan, putus asa, hingga rendah diri. Kondisi ini sering berjalan beriringan dengan kecemasan, sifat neurotis, atau rasa percaya diri yang rendah.
Yang menarik, kesepian sangat subjektif. Seseorang bisa merasa sepi meski dikelilingi banyak orang, jika ia menilai hubungan yang dimilikinya tidak berkualitas.
Baca Juga: Fraksi PKB Desak Revisi UU BUMN Berpihak pada Rakyat, Bukan Segelintir Elit
Secara umum, kesepian terbagi dua:
-
Kesepian Emosional – muncul ketika kehilangan hubungan intim, misalnya setelah putus cinta atau kehilangan figur yang memberi kedekatan emosional.
-
Kesepian Sosial – terjadi ketika seseorang kurang terhubung dengan lingkungan, jarang beraktivitas, pindah tempat tinggal, atau tidak punya kelompok untuk berbagi.
Mengapa Seseorang Takut Kesepian?
Riset Loneliness and the Persistence of Fear (2024) menunjukkan bahwa rasa takut akan kesepian melibatkan mekanisme psikologis sekaligus biologis yang rumit. Di antaranya:
-
Sulit Menghilangkan Rasa Takut
Orang yang kesepian bisa membedakan situasi aman dan berbahaya. Namun, ketika rasa takut sudah terbentuk, mereka kesulitan menghapusnya meski ancaman sudah tidak ada. Akibatnya, ketakutan bertahan lebih lama. -
Lingkungan Terasa Lebih Mengancam
Kesepian membuat seseorang lebih mudah menganggap lingkungannya penuh risiko. Persepsi ini memicu stres berulang, yang bila dibiarkan berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.
-
Peran Sistem Opioid Alami Tubuh
Dukungan sosial meningkatkan aktivitas sistem opioid endogen yang menenangkan rasa takut dan memperkuat ikatan sosial. Sebaliknya, kesepian menurunkannya. Itu sebabnya rasa takut lebih sulit mereda ketika seseorang merasa sendiri.
Bahayanya Takut Kesepian
Jika tidak dikelola, ketakutan ini bisa membawa dampak serius:
-
Gangguan emosional: cemas berlebihan, mudah tersulut emosi, hingga perubahan suasana hati yang drastis.
-
Relasi rapuh: rasa takut ditinggalkan membuat seseorang bersikap berlebihan, justru menimbulkan jarak dalam hubungan.
-
Kesehatan fisik terganggu: stres kronis akibat kesepian menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu tidur, hingga memunculkan keluhan fisik.
-
Produktivitas menurun: sulit fokus karena beban emosional, sehingga kinerja belajar atau bekerja terganggu.
Cara Menghadapi Rasa Takut Kesepian
Menghadapi kesepian bukan berarti meniadakan rasa sepi sama sekali, melainkan belajar mengelolanya dan menemukan makna di balik pengalaman itu. Berikut langkah yang bisa dicoba:
Baca Juga: Persita vs Persib: Pendekar Cisadane Tumbangkan Maung Bandung 2-1 di Kandang 'Usiran'
-
Bangun relasi yang bermakna – kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Satu atau dua orang yang benar-benar mendukung sudah cukup memberikan rasa aman.
-
Kembangkan self-compassion – belajar menikmati waktu bersama diri sendiri lewat menulis, refleksi, atau meditasi.
-
Ikut komunitas – terlibat dalam kegiatan sosial, organisasi, atau kelompok hobi membantu memperluas jejaring dan memberi rasa memiliki.
-
Bijak gunakan media sosial – kurangi distraksi semu dan lebih fokus pada interaksi nyata yang lebih sehat.
-
Cari bantuan profesional – bila kesepian menimbulkan tekanan mendalam, konsultasi dengan psikolog atau konselor bisa menjadi solusi tepat.
Laporan: Lilis Anggraeni/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










