Kenapa Susah Berhenti Minum Alkohol? Ini Penjelasan Medis dan Psikologisnya
Ratu Tiara | 3 November 2025, 20:36 WIB

AKURAT.CO Banyak orang yang sadar bahwa minum alkohol berlebihan bisa berdampak buruk bagi tubuh dan pikiran, namun tak sedikit pula yang tetap sulit untuk berhenti.
Meski niat sudah kuat, dorongan untuk kembali meneguk alkohol sering kali muncul tanpa disadari. Kondisi ini bukan semata soal lemahnya tekad, tetapi berkaitan dengan proses biologis dan psikologis yang saling berhubungan di dalam otak manusia.
Kecanduan alkohol terbentuk akibat perubahan kimiawi di otak yang mempengaruhi sistem penghargaan dan pengendalian diri.
Dilansir dari American Addiction Centers, alkohol dapat meningkatkan kadar dopamin (zat kimia yang menimbulkan perasaan senang) dalam otak.
Ketika seseorang mengonsumsi alkohol secara rutin, otak akan mengaitkan minuman tersebut dengan rasa bahagia, membuatnya sulit untuk berhenti.
Tubuh “menuntut” alkohol untuk mempertahankan kondisi nyaman itu, dan jika tidak terpenuhi, muncullah gejala cemas, mudah marah, bahkan depresi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecanduan bukan hanya tentang perilaku, tetapi juga melibatkan reaksi fisiologis yang kompleks.
Faktor sosial dan psikologis ikut memperkuat kecanduan.
Banyak orang menggunakan alkohol sebagai pelarian dari stres, masalah pribadi, atau tekanan emosional. Kebiasaan ini kemudian menjadi siklus yang semakin sering digunakan untuk menenangkan diri, semakin sulit pula berhenti.
Lingkungan pergaulan, budaya minum yang dianggap wajar, hingga tekanan sosial turut memperburuk keadaan. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab seseorang sulit berhenti minum alkohol bukan hanya dari dalam diri, tetapi juga dari pengaruh luar yang terus mendorong kebiasaan tersebut.
Berikut ini penjelasan lebih dalam tentang efek alkohol pada otak dan cara mengatasinya, berdasarkan beberapa sumber medis dan psikologis internasional:
Baca Juga: Bahaya Kecanduan Minuman Alkohol, Diduga Jadi Penyebab Gangguan Penglihatan Kurnia Meiga?
Efek Alkohol pada Otak
1. Mengganggu Sistem Penghargaan Otak
Alkohol mempengaruhi bagian otak bernama nucleus accumbens, yaitu pusat sistem penghargaan. Ketika seseorang minum, bagian ini teraktivasi dan melepaskan dopamin yang menimbulkan perasaan senang.
Otak kemudian “mengingat” alkohol sebagai sumber kenikmatan, sehingga menciptakan dorongan kuat untuk mengulanginya.
2. Menurunkan Fungsi Pengendalian Diri
Alkohol juga menekan aktivitas korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan pengendalian impuls.
Seseorang akan kehilangan kemampuan menahan diri untuk tidak minum, meski sadar akan dampak buruknya.
3. Menimbulkan Ketergantungan Kimiawi
Penggunaan alkohol jangka panjang membuat otak menyesuaikan diri dengan keberadaan zat tersebut.
Ketika alkohol dihentikan tiba-tiba, tubuh mengalami gejala putus zat seperti tremor, gelisah, dan sulit tidur. Inilah yang membuat penghentian alkohol tanpa pengawasan medis bisa berbahaya.
4. Mempengaruhi Kesehatan Mental
Alkohol dapat memperburuk gangguan kecemasan dan depresi karena menurunkan kadar serotonin dan menekan fungsi otak yang mengatur suasana hati. Seseorang akan merasa lebih tertekan dan akhirnya kembali minum untuk “meredakan” gejala tersebut.
Cara Mengatasinya
1. Terapi Perilaku dan Konseling Psikologis
Terapi kognitif perilaku (CBT) terbukti efektif membantu penderita kecanduan mengenali pemicu dan mengubah pola pikir yang membuat mereka bergantung pada alkohol.
2. Pengobatan Medis Terarah
Dokter dapat meresepkan obat-obatan seperti disulfiram atau naltrexone untuk mengurangi dorongan minum dan mencegah efek menyenangkan dari alkohol.
3. Dukungan Sosial dan Lingkungan Positif
Dukungan dari keluarga, teman, atau kelompok rehabilitasi sangat penting untuk memperkuat motivasi berhenti. Lingkungan yang sehat membantu seseorang merasa diterima dan termotivasi untuk pulih.
4. Pola Hidup Sehat dan Manajemen Stres
Mengganti kebiasaan minum dengan aktivitas positif seperti olahraga, meditasi, atau menulis jurnal dapat membantu mengurangi kecanduan dan memperbaiki kesehatan mental secara bertahap.
Berhenti minum alkohol bukan sekadar urusan kemauan, tetapi juga perjuangan biologis dan psikologis yang memerlukan pemahaman, kesabaran, dan dukungan.
Dengan penanganan yang tepat serta dukungan dari tenaga medis dan lingkungan sekitar, kecanduan alkohol bukanlah hal yang mustahil untuk diatasi.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









