Akurat

Apa Itu Body Mass Index? Berikut Pengertian, Rumus, dan Fakta Penting yang Perlu Kamu Tahu

Naufal Lanten | 5 Oktober 2025, 14:03 WIB
Apa Itu Body Mass Index? Berikut Pengertian, Rumus, dan Fakta Penting yang Perlu Kamu Tahu

AKURAT.CO Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh adalah ukuran sederhana yang digunakan untuk menilai proporsi berat badan terhadap tinggi badan seseorang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), BMI dihitung dengan rumus:

BMI = berat badan (kg) ÷ (tinggi badan (m))²

Rumus ini sudah lama direkomendasikan sebagai alat skrining awal untuk mengidentifikasi apakah seseorang tergolong kekurangan berat badan, memiliki berat normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. Meski praktis dan populer, BMI bukan alat pengukur lemak tubuh secara langsung. Karena itu, hasilnya perlu diinterpretasikan hati-hati, terutama pada atlet, lansia, atau kelompok etnis tertentu.


Cara Menghitung BMI (Contoh Langkah Demi Langkah)

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh perhitungan BMI yang bisa kamu coba sendiri.

  • Contoh 1: Berat badan 70 kg, tinggi badan 1,75 m
    Hitung tinggi kuadrat: 1.75 × 1.75 = 3.0625
    BMI = 70 ÷ 3.0625 = 22.9 kg/m²
    Hasil ini termasuk kategori berat badan normal.

  • Contoh 2: Berat badan 90 kg, tinggi badan 1,70 m
    Tinggi kuadrat: 1.70 × 1.70 = 2.89
    BMI = 90 ÷ 2.89 = 31.1 kg/m²
    Termasuk kategori obesitas kelas I.

  • Contoh 3: Berat badan 50 kg, tinggi badan 1,60 m
    Tinggi kuadrat: 1.60 × 1.60 = 2.56
    BMI = 50 ÷ 2.56 = 19.5 kg/m²
    Termasuk berat badan normal.


Kategori BMI untuk Orang Dewasa

Menurut standar CDC dan WHO, kategori BMI untuk usia 20 tahun ke atas dibagi sebagai berikut:

  • < 18.5 → Kurus (Underweight)

  • 18.5 – 24.9 → Normal / Sehat

  • 25.0 – 29.9 → Kelebihan berat badan (Overweight)

  • ≥ 30.0 → Obesitas (Obesity)

Untuk anak-anak dan remaja, interpretasi BMI berbeda karena mempertimbangkan usia dan jenis kelamin. Dalam kasus ini, digunakan BMI-for-age percentile sesuai grafik pertumbuhan WHO atau CDC.


Asal-usul dan Sejarah BMI

Indeks Massa Tubuh pertama kali dikembangkan pada abad ke-19 oleh Adolphe Quetelet, seorang statistikawan asal Belgia. Awalnya disebut sebagai Quetelet Index, konsep ini kemudian populer di abad ke-20 dan mulai digunakan luas dalam penelitian kesehatan masyarakat.
Keunggulan BMI adalah kesederhanaannya: mudah dihitung, tidak memerlukan alat khusus, dan efektif untuk analisis populasi besar.


Mengapa BMI Masih Dipakai Hingga Sekarang

Meski sering diperdebatkan, BMI tetap digunakan secara luas karena fungsinya yang praktis dan serbaguna:

  • Skrining klinis cepat: membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung.

  • Surveilans populasi: digunakan untuk memantau prevalensi obesitas antarwilayah atau antarwaktu.

  • Kriteria intervensi medis: dijadikan acuan awal untuk menentukan apakah seseorang perlu intervensi seperti konseling gizi, obat, atau operasi bariatrik.


Keterbatasan dan Kontroversi BMI

Meski bermanfaat, BMI memiliki kelemahan yang sering diabaikan.
Pertama, BMI tidak bisa membedakan antara massa otot dan lemak tubuh. Seorang atlet bisa memiliki BMI tinggi karena massa ototnya besar, bukan karena lemak berlebih. Sebaliknya, lansia dengan kehilangan massa otot bisa tampak “normal” meski memiliki kadar lemak tinggi (sarcopenic obesity).

Kedua, BMI tidak memperhitungkan distribusi lemak tubuh. Lemak di area perut (visceral fat) lebih berbahaya daripada lemak di bawah kulit, padahal BMI tidak bisa mengukur hal ini. Karena itu, banyak ahli menyarankan tambahan pengukuran seperti lingkar pinggang atau waist-to-height ratio (WHtR) untuk hasil yang lebih akurat.

Selain itu, cut-off BMI berbeda antar-etnis. Misalnya, pada beberapa populasi Asia, risiko penyakit metabolik bisa meningkat pada BMI di bawah 25, sehingga WHO sempat mengeluarkan panduan khusus untuk interpretasi di Asia.

Studi-studi besar juga menunjukkan hubungan antara BMI dan risiko kematian tidak linear, melainkan berbentuk “J” atau “U”. Artinya, risiko bisa meningkat pada BMI yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi. Karena itu, banyak ahli mendorong redefinisi obesitas agar tidak semata berdasar angka BMI, tetapi juga mencakup bukti klinis, lingkar pinggang, dan fungsi organ.


Alternatif Pengukuran Selain BMI

Seiring berkembangnya ilmu kesehatan, muncul beberapa alat ukur tambahan untuk menilai komposisi tubuh dan risiko kesehatan, di antaranya:

  • Lingkar pinggang (Waist Circumference): indikator lemak perut yang berisiko tinggi terhadap penyakit jantung dan diabetes. Batas umum yang digunakan adalah ≥102 cm untuk pria dan ≥88 cm untuk wanita (tergantung etnis).

  • Waist-to-Height Ratio (WHtR): aturan praktisnya, lingkar pinggang sebaiknya kurang dari setengah tinggi badan (WHtR < 0.5).

  • DXA (Dual-Energy X-ray Absorptiometry): metode paling akurat untuk mengukur lemak tubuh dan massa otot, meski biayanya mahal.

  • BIA (Bioelectrical Impedance Analysis) dan skinfold test: alternatif murah untuk memperkirakan kadar lemak tubuh.

Dalam praktik medis, WHO menyarankan kombinasi BMI, lingkar pinggang, dan evaluasi klinis agar penilaian risiko kesehatan lebih komprehensif.


Tren Global: Obesitas Terus Meningkat

Data dari World Obesity Federation menunjukkan lebih dari 1 miliar orang di dunia hidup dengan obesitas, dan hampir 3 miliar memiliki berat badan berlebih. Angka ini terus meningkat seiring perubahan pola makan, gaya hidup sedentari, dan lingkungan obesogenik.

Dampaknya signifikan: BMI tinggi dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, kanker tertentu, dan ribuan kematian setiap tahun. Studi global seperti Global Burden of Disease (GBD) memperingatkan bahwa tanpa kebijakan tegas, sebagian besar populasi dunia bisa mengalami overweight atau obesitas pada pertengahan abad ini.


Kebijakan Kesehatan dan Rekomendasi Medis

Untuk menekan tren obesitas, WHO dan berbagai lembaga kesehatan menekankan pentingnya kebijakan publik yang proaktif, seperti:

  • Pengendalian iklan dan ketersediaan makanan tinggi gula dan lemak.

  • Pajak minuman manis dan label nutrisi yang lebih informatif.

  • Edukasi gizi dan aktivitas fisik di sekolah.

Dalam konteks klinis, dokter tidak boleh hanya mengandalkan angka BMI. Pemeriksaan komprehensif meliputi lingkar pinggang, riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium untuk menilai faktor risiko metabolik. Keputusan terapi seperti obat anti-obesitas atau operasi bariatrik pun sebaiknya didasarkan pada risiko klinis nyata, bukan BMI semata.


Cara Cepat Menghitung dan Mengevaluasi BMI Sendiri

Kalau kamu ingin mengetahui status berat badanmu, lakukan langkah sederhana ini:

  1. Timbang berat badan dalam kilogram.

  2. Ukur tinggi badan dalam meter.

  3. Gunakan rumus BMI = berat ÷ (tinggi × tinggi).

  4. Bandingkan hasilnya dengan kategori BMI dewasa.

Jika hasilnya mendekati atau melebihi batas overweight atau obesitas, ukur juga lingkar pinggang dan konsultasikan ke tenaga medis untuk penilaian risiko lebih lanjut.


Kesimpulan: BMI Penting, Tapi Jangan Jadi Patokan Tunggal

Body Mass Index tetap menjadi alat penting untuk skrining awal dan surveilans populasi karena kemudahannya. Namun, BMI tidak menggambarkan lemak tubuh secara langsung. Untuk penilaian individu, terutama atlet, lansia, atau kelompok tertentu, perlu tambahan ukuran seperti lingkar pinggang atau WHtR.

Dengan tren obesitas global yang terus meningkat, pemahaman yang lebih cermat tentang BMI dan keterbatasannya menjadi kunci dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Baca Juga: Apa Itu Osteoporosis dan Langkah Pencegahannya?

Baca Juga: Cara Merawat Rambut Rontok pada Pria secara Alami Tanpa Obat

FAQ

Apa itu Body Mass Index (BMI)?
Body Mass Index (BMI) adalah ukuran yang digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang tergolong ideal, kurang, atau berlebih berdasarkan perbandingan antara berat badan dan tinggi badan.

Bagaimana cara menghitung BMI?
Rumus BMI adalah berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat. Contoh: jika berat badanmu 70 kg dan tinggi badanmu 1,70 m, maka BMI = 70 / (1,7 × 1,7) = 24,2.

Berapa kisaran BMI yang dianggap normal?
Kategori BMI menurut WHO:

  • < 18,5 = Berat badan kurang

  • 18,5–24,9 = Normal/ideal

  • 25–29,9 = Kelebihan berat badan

  • ≥ 30 = Obesitas

Apakah BMI selalu akurat untuk menilai kesehatan tubuh?
Tidak selalu. BMI tidak memperhitungkan komposisi tubuh seperti massa otot, lemak, atau distribusi lemak tubuh. Oleh karena itu, seseorang dengan banyak otot bisa memiliki BMI tinggi meski sebenarnya sehat.

Apa dampak jika BMI terlalu tinggi?
BMI tinggi bisa meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya.

Apa dampak jika BMI terlalu rendah?
BMI rendah dapat menandakan kekurangan gizi, sistem imun yang lemah, serta risiko gangguan kesuburan dan kesehatan tulang.

Bagaimana cara menjaga BMI agar tetap ideal?
Menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, tidur cukup, dan menghindari stres berlebih dapat membantu menjaga BMI tetap stabil dan sehat.

Apakah anak-anak dan lansia menggunakan rumus BMI yang sama?
Tidak. Untuk anak-anak, penilaian BMI disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin melalui grafik pertumbuhan. Untuk lansia, faktor seperti massa otot dan kesehatan umum juga perlu dipertimbangkan.

Bisakah BMI digunakan untuk menentukan kebutuhan diet?
BMI bisa menjadi acuan awal untuk menentukan program diet, tetapi sebaiknya dikombinasikan dengan pemeriksaan medis dan konsultasi ahli gizi agar hasilnya lebih akurat.

Bagaimana cara menurunkan BMI dengan aman?
Fokuslah pada penurunan berat badan secara bertahap melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pengawasan profesional jika diperlukan. Hindari diet ekstrem yang justru dapat merusak metabolisme tubuh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.