Sekilas Mirip, Ini Perbedaan DBD dan Chikungunya

AKURAT.CO Penyakit demam berdarah (DBD) dan Chikungunya masih menjadi masalah utama, khususnya di daerah tropis dan subtropis, salah satunya di Indonesia. Kedua penyakit ini memiliki gejala yang mirip dan disebabkan oleh gigitan nyamuk betina aedes aegypti atau aedes albopictus.
Walaupun begitu, demam berdarah dan chikungunya memiliki perbedaan signifikan, baik dari penyebab, karakteristik gejala, hingga cara penanganannya.
Baca Juga: Puncak Musim DBD Diperkirakan Terjadi pada Maret hingga April, Pemprov Jakarta Diminta Lakukan Ini
DBD dan Chikungunya di Indonesia
Menurut data Kementrian Kesehatan tahun 2024, DBD masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia karena prevalensinya tinggi dan kerap menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sepanjang tahun 2023, kasus DBD mencapai 114.720 dengan total 894 kematian, sedangkan pada bulan Oktober 2024, kasus DBD mencapai 210.644 dengan total 1.239 kematian.
Untuk Chikungunya di Indonesia, data Kemenkes 2024 mencapai 9.320 suspek dengan 2.375 kasus terkonfirmasi. Hingga bulan Juli tahun 2025, kasus Chikungunya mencapai 16.507 suspek dan 3.632 kasus telah terkonfirmasi.
Kelompok usia yang terjangkit penyakit Chikungunya berada pada rentang 20-44 tahun.
Kedua penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Memahami perbedaan antara kedua penyakit ini sangat penting agar masyarakat mengenali gejala sejak dini, sehingga mendapatkan perawatan medis yang tepat.
Gejala DBD dan Chikungunya
Walaupun DBD dan Chikungunya memiliki gejala yang mirip akibat gigitan nyamuk yang sama, tetapi virus yang ditularkan berbeda.
Demam berdarah disebabkan oleh virus flavivirus Flavirideae, sementara Chikungunya disebabkan oleh alphavirus Togaviridae.
Apabila gejala dari kedua penyakit ini tidak segera ditangani, maka akan menyebabkan komplikasi kronis bahkan kematian.
Gejala Demam Berdarah Dengue
- Demam tinggi mencapai 40oC selama 2 hingga 7 hari, bahkan lebih.
- Masa inkubasinya mencapai 3-7 minggu.
- Bintik merah menyebar di wajah, badan, serta anggota badan.
- Nyeri otot dan sendi.
- Nyeri di belakang mata.
- Sakit kepala parah.
- Pendarahan, seperti mimisan atau gusi berdarah.
- Mual dan muntah.
- Diare.
- Masalah pernapasan, kegagalan organ, atau syok.
Gejala Chikungunya
- Masa inkubasi berkisar 2-6 hari dan gejala biasanya muncul 4-7 hari setelah infeksi.
- Demam tinggi mencapai 40oc selama 3-4 hari dan berakhir tiba-tiba.
- Ruam pada seluruh wajah, telapak tangan, kaki, dan anggota badan.
- Nyeri sendi berkepanjangan.
- Sakit kepala bahkan kehilangan nafsu makan.
- Komplikasi artritis kronis dan masalah neurologis.
Baca Juga: Catat! Ini 9 Tanda dan Gejala Chikungunya yang Perlu Diwaspadai
Cara Mencegah DBD dan Chikungunya
Jangan biarkan ada air tergenang di sekeliling rumah, baik di pot tanaman, kolam kecil, hingga saluran air. Air tergenang menjadi tempat ideal banyak nyamuk untuk berkembang biak.
Bila tinggal di lingkungan dengan banyak nyamuk, gunakan obat anti-nyamuk yang mengandung dietiltoluamida (DEET) pada kulit serta gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang saat keluar rumah. Hal ini dilakukan agar melindungi tubuh dari gigitan nyamuk.
Selain itu, penggunaan kelambu saat tidur juga sangat dianjurkan. Kelambu berfungsi sebagai penghalang fisik yang efektif untuk mencegah gigitan nyamuk ketika tubuh sedang beristirahat.
Apabila badan mulai terasa tidak nyaman disertai dengan demam berhari-hari, alangkah baiknya untuk segera periksakan kondisi tubuh ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dewi Triana Rahmawati (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









