Akurat

Sering Bingung Bedakan Stres dan Depresi? Begini Cara Mengenalinya

Eko Krisyanto | 19 September 2025, 20:22 WIB
Sering Bingung Bedakan Stres dan Depresi? Begini Cara Mengenalinya

AKURAT.CO Stres dan depresi kerap disalahartikan sebagai hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. 

Stres adalah reaksi alami tubuh ketika menghadapi tekanan, baik yang datang dari faktor eksternal maupun internal, dan biasanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

Sementara itu, depresi termasuk dalam gangguan mental yang memengaruhi suasana hati, emosi, pola tidur, nafsu makan, hingga kemampuan berkonsentrasi penderitanya.

Secara garis besar, stres bersifat sementara dan umumnya mereda setelah penyebabnya teratasi.

Berbeda dengan itu, depresi dapat berlangsung lebih lama, bahkan hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun, jika tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Baca Juga: Jogging untuk Pemula: Cara Mudah Turunkan Berat Badan dan Stres

7 Perbedaan Stres dan Depresi yang Perlu Kamu Ketahui

  • Definisi
    • Stres: Respons alami tubuh ketika menghadapi tekanan atau tuntutan.

    • Depresi: Gangguan mental yang memengaruhi suasana hati, pikiran, serta perilaku sehari-hari.

  • Durasi
    • Stres: Bersifat sementara dan biasanya mereda setelah pemicunya teratasi.

    • Depresi: Bisa berlangsung lama, bahkan hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun jika tidak ditangani.

  • Penyebab
    • Stres: Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, konflik keluarga, atau tuntutan akademik.

    • Depresi: Kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial, termasuk riwayat keluarga serta trauma.

  • Dampak Fisik
    • Stres: Jantung berdebar, otot tegang, sakit kepala, dan sulit tidur.

    • Depresi: Tubuh terasa lemas, nafsu makan berubah, serta gangguan tidur yang berkelanjutan.

  • Dampak Psikologis
    • Stres: Rasa cemas, mudah tersinggung, dan sulit fokus.

    • Depresi: Rasa hampa, kehilangan minat, putus asa, bahkan muncul pikiran untuk bunuh diri.

  • Cara Mengatasi
    • Stres: Dapat dikelola dengan relaksasi, olahraga, manajemen waktu, atau hobi.

    • Depresi: Membutuhkan penanganan profesional seperti terapi psikologis, konseling, atau obat antidepresan.

  • Tingkat Risiko
  • Stres: Umumnya tidak berbahaya jika dikelola dengan baik.

  • Depresi: Lebih serius karena bisa mengganggu kualitas hidup secara signifikan dan berpotensi membahayakan diri sendiri.

  • Pandangan Sosial
  • Stres: Cenderung diterima, bahkan kadang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari.

  • Depresi: Masih sering distigma negatif di masyarakat.

  • Risiko Kesehatan
  • Stres: Tingkat stres yang tinggi meningkatkan risiko serangan jantung.

  • Depresi: Depresi berat meningkatkan risiko bunuh diri.

  • Efek pada Motivasi
  • Stres: Jika masih ringan, bisa memberi dorongan untuk lebih termotivasi.

  • Depresi: Meski ringan, tetap dapat melemahkan semangat dan fungsi sehari-hari.

Baca Juga: Studi: Stres Kronis Meningkatkan Risiko Stroke pada Wanita Muda

Tips Mengatasi Depresi dan Stres

Terkadang, perubahan kecil dalam gaya hidup bisa memutus siklus stres maupun depresi. Salah satunya dengan mulai membangun pola pikir yang lebih positif.

Jika kamu merasa kewalahan dengan stres hingga berpotensi mengarah pada depresi, langkah terpenting adalah menerapkan strategi penanggulangan yang lebih aktif.

Beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Olahraga Teratur
    Aktivitas fisik membantu melepaskan endorfin, zat kimia di otak yang membuat suasana hati lebih baik. Selain itu, olahraga juga meningkatkan kualitas tidur yang pada akhirnya mampu menurunkan tingkat stres. Cukup lakukan olahraga 30 menit sehari, 5 kali seminggu. Contoh yang efektif adalah yoga, karena bisa menenangkan pikiran sekaligus tubuh.

  2. Perhatikan Pola Makan
    Tidak ada pola makan khusus untuk menyembuhkan stres atau depresi, tetapi menjaga asupan tetap sehat dapat membantu. Hindari makan berlebihan, perbanyak makanan kaya omega-3 (seperti salmon dan tuna) serta asam folat (misalnya bayam dan alpukat) yang dipercaya dapat mendukung kesehatan mental.

  3. Batasi Kafein dan Alkohol
    Konsumsi kafein berlebihan bisa memperparah rasa lelah dan menambah stres. Begitu juga alkohol, yang justru memperburuk suasana hati. Batasi minuman berkafein seperti kopi, soda, serta hindari alkohol agar kondisi emosional lebih stabil.

  4. Berhenti Merokok
    Banyak yang menganggap merokok bisa membantu meredakan stres, padahal efeknya hanya sementara. Nikotin justru menimbulkan ketergantungan dan pada akhirnya menambah tekanan baru.

  5. Tidur yang Cukup
    Tidur berkualitas 7–9 jam per malam, seperti yang direkomendasikan National Sleep Foundation, sangat penting untuk pemulihan tubuh dan pikiran. Atur jadwal tidur dan bangun yang konsisten, hindari tidur siang berlebihan, serta singkirkan gangguan seperti TV dan komputer dari kamar tidur.

  6. Lakukan Hal Baru
    Cobalah keluar dari rutinitas dengan melakukan aktivitas berbeda, misalnya berjalan di taman, membaca, atau mencoba hobi baru. Tantangan ini dapat meningkatkan dopamin di otak, yang berhubungan dengan rasa senang dan motivasi.

  7. Meditasi
    Meditasi membantu menenangkan pikiran, meredakan kecemasan, dan membuat fokus lebih baik. Jika masih pemula, kamu bisa menggunakan aplikasi meditasi dengan panduan suara.

Mengelola stres dengan cara-cara di atas dapat membantu mencegah depresi. Namun, bila gejala berlangsung lebih dari dua minggu, seperti merasa sangat sedih, menarik diri, kewalahan, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera konsultasikan ke psikolog atau psikiater.

Mengenali perbedaan stres dan depresi sangat penting agar kamu bisa lebih cepat mengambil langkah pencegahan sekaligus penanganan yang tepat.

Nadia Nur Anggraini (Magang) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R