Akurat

Studi: Stres Kronis Meningkatkan Risiko Stroke pada Wanita Muda

Arief Rachman | 9 Maret 2025, 22:38 WIB
Studi: Stres Kronis Meningkatkan Risiko Stroke pada Wanita Muda

AKURAT.CO Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Neurology mengungkap, stres kronis dapat meningkatkan risiko stroke pada orang dewasa muda, terutama pada wanita.

Selama ini, dampak stres terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah telah menjadi perhatian para ahli.

Namun, studi baru ini menyoroti bagaimana stres yang berkepanjangan bisa menjadi faktor pemicu stroke pada wanita muda, sementara efek serupa tidak ditemukan pada pria.

Lauren Patrick, MD, asisten profesor neurologi dan ahli saraf vaskular di University of California San Francisco, menjelaskan, hasil penelitian ini menegaskan perlunya pengelolaan stres sebagai bagian dari strategi pencegahan stroke.

Para peneliti ingin memahami lebih dalam kaitan antara stres dan stroke iskemik dini, jenis stroke yang paling umum terjadi akibat penyumbatan aliran darah ke otak.

Studi ini melibatkan 426 orang berusia 18 hingga 49 tahun yang telah mengalami stroke iskemik, dengan sekitar setengahnya adalah perempuan.

Baca Juga: Mau Nonton Film Korea Sub Indo Gratis di LK21 Tapi Berbahaya? Coba Situs Resmi dan Gratis di Sini!

Sebagai pembanding, tim peneliti juga merekrut 426 orang sehat dengan usia dan jenis kelamin yang sama.

Para peserta diminta mengisi kuesioner tentang tingkat stres yang mereka alami dalam sebulan terakhir.

Mereka yang pernah terkena stroke juga ditanya lebih lanjut mengenai tingkat stres yang mereka rasakan sebelum mengalami kejadian tersebut.

Hasilnya cukup mencolok: mereka yang terserang stroke cenderung mengalami tingkat stres yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang sehat.

Sebanyak 46 persen dari kelompok yang mengalami stroke melaporkan tingkat stres sedang hingga tinggi, sementara di kelompok sehat, angkanya hanya 33 persen.

Pada wanita, risiko stroke meningkat sebesar 78 persen pada mereka yang mengalami stres sedang, sementara stres tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 6 persen.

Menariknya, hubungan antara stres dan stroke ini tidak ditemukan pada pria.

Nicolas Martinez-Majander, MD, PhD, seorang ahli saraf di Rumah Sakit Universitas Helsinki, menekankan, penelitian ini hanya menunjukkan hubungan antara stres dan risiko stroke, bukan bukti bahwa stres secara langsung menyebabkan stroke.

Selain itu, karena tingkat stres peserta diukur setelah mereka mengalami stroke, ada kemungkinan bias ingatan yang dapat memengaruhi hasil studi.

Namun, perbedaan signifikan antara pria dan wanita dalam temuan ini tetap menjadi hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Para ahli menduga bahwa dampak stres yang lebih besar pada wanita mungkin berkaitan dengan peran ganda yang sering mereka jalani, seperti bekerja, mengurus keluarga, serta tanggung jawab lainnya yang dapat menyebabkan stres berkepanjangan.

Stres dapat memicu berbagai reaksi dalam tubuh yang berkontribusi terhadap gangguan pembuluh darah. Beberapa mekanisme yang diduga berperan antara lain:

- Lonjakan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang.

- Aritmia atau gangguan irama jantung akibat stres yang berkepanjangan.

- Peradangan kronis yang dapat merusak sistem kardiovaskular.

Baca Juga: Kemenag Buka Bantuan Rehabilitasi Masjid dan Musala, Ini Syarat dan Caranya

Selain itu, orang yang mengalami stres cenderung memiliki kebiasaan tidak sehat, seperti merokok, kurang olahraga, pola makan buruk, dan konsumsi zat berbahaya—yang semuanya dapat semakin meningkatkan risiko stroke.

Martinez-Majander menekankan pentingnya menyadari dan mengelola tingkat stres agar tidak berdampak negatif pada kesehatan. Meski menghindari stres sepenuhnya tidak mungkin, ada beberapa cara untuk mengendalikannya, seperti:

- Mengenali tanda-tanda stres, seperti kecemasan berlebihan, sulit tidur, sakit kepala, tekanan darah tinggi, kelelahan, hingga perubahan nafsu makan.

- Mewaspadai gejala stroke, seperti mati rasa mendadak, kesulitan berbicara, kehilangan keseimbangan, pusing, gangguan penglihatan, atau sakit kepala hebat.

- Rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, sesuai rekomendasi CDC.

- Melakukan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau sekadar berjalan kaki dengan fokus penuh.

- Mengambil waktu untuk diri sendiri dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika stres terasa berlebihan dan sulit dikendalikan.

Menurut Patrick, memahami dampak stres dan menerapkan strategi manajemen yang tepat dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan mengurangi risiko stroke, terutama bagi wanita yang lebih rentan terhadap efek stres kronis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.