Akurat

Hari Anak Nasional 2025: Lindungi Anak dari Dengue, Anak Hebat Menuju Indonesia Emas

Mukodah | 28 Juli 2025, 13:13 WIB
Hari Anak Nasional 2025: Lindungi Anak dari Dengue, Anak Hebat Menuju Indonesia Emas

AKURAT.CO Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2025, PT Takeda Innovative Medicines bekerja sama dengan Kumparan menyelenggarakan talk show Cegah DBD bertajuk Science Heroes-Pahlawan Cilik Cegah DBD, dalam rangkaian acara Festival Hari Anak oleh KumparanMom pada 26-27 Juli 2025.

Talk show bertujuan mengedukasi orang tua dan keluarga mengenai bahaya dengue dan pentingnya pencegahan secara menyeluruh untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang mengancam nyawa seperti dengue.

Data global menunjukkan bahwa selama 30 tahun, anak-anak memiliki insiden dengue yang lebih tinggi dan Disability-Adjusted Life Years (tahun-tahun kehidupan yang hilang akibat kematian atau akibat disabilitas yang disebabkan penyakit/DALYs) dari seluruh populasi.

Baca Juga: ASEAN Dengue Day 2025, Kawal Komitmen Pencapaian Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

Indonesia sendiri merupakan negara dengan beban DALYs tertinggi akibat dengue pada tahun 2021.

Tidak hanya itu, data Kementerian Kesehatan mencatat, dalam tiga tahun terakhir (2021-2024), kelompok paling rentan terhadap infeksi dengue adalah mereka yang berusia 15-44 tahun.

Sedangkan kasus kematian akibat dengue dalam tujuh tahun terakhir tertinggi terjadi pada anak-anak dan remaja usia 5-14 tahun.

Baca Juga: Dinkes Kutai Kartanegara Sosialisasikan Vaksinasi Dengue Sebagai Upaya Pencegahan Jangka Panjang

Hal ini menempatkan anak-anak dan remaja sebagai kelompok yang paling berisiko terhadap dampak terparah dari penyakit dengue.

Dokter Spesialis Anak, Konsultan Neurologi, dr. Atilla Dewanti, SpA(K), menyampaikan bahwa dengue bukanlah penyakit musiman, virusnya ada sepanjang tahun dan bisa menyerang siapa saja, di mana saja dan tanpa memandang usia atau gaya hidupnya.

"Gejalanya bisa mirip flu, demam tinggi mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri otot dan sendi hingga ruam di kulit. Tapi yang berbahaya, kalau tidak dikenali dan ditangani sejak awal, dengue bisa berkembang menjadi dengue shock syndrome (DSS). Kondisi serius yang ditandai dengan perdarahan hebat dan penurunan tekanan darah yang drastis, bahkan bisa berujung fatal. Ini kasusnya juga banyak terjadi pada anak-anak," jelasnya.

Baca Juga: Kaukus Kesehatan DPR Dorong Strategi Terpadu Capai Nol Kematian Akibat Dengue Tahun 2030

Menurut Atilla, seseorang bisa terinfeksi dengue lebih dari satu kali karena virus ini memiliki empat serotipe berbeda (DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4).

Artinya, saat seseorang sembuh dari satu jenis virus dengue, dia hanya kebal terhadap serotipe itu saja. Jika nanti terinfeksi dengan serotipe lain, risikonya justru bisa lebih berat.

Hal ini menyebabkan infeksi kedua atau ketiga bisa jauh lebih parah dari yang pertama.

Baca Juga: Minahasa Utara Terapkan Langkah Terpadu Cegah Dengue, Targetkan Nol Kematian pada 2030

Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada obat khusus untuk mengobati dengue karena pengobatan dengue lebih kepada untuk meredakan gejala.

"Untuk itu, yang dapat kita lakukan sekarang adalah dengan langkah-langkah pencegahan, termasuk melakukan 3M Plus secara konsisten dan mempertimbangkan penggunaan metode inovatif seperti vaksinasi. Di mana saat ini vaksinasi dengue telah direkomendasikan penggunaannya, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Tetapi, untuk mendapatkan perlindungan yang optimal, seseorang perlu mendapatkan dosis sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter," paparnya.

Penyanyi cilik yang kini menjadi ibu muda, Tasya Kamila, ikut membagikan pengalamannya sebagai orang tua dalam melindungi anak-anak dan keluarga dari dengue.

Baca Juga: Kemenkes dan Takeda Serukan Aksi Proaktif Cegah Dengue: Jangan Tunggu Wabah Terjadi

"Saya punya dua anak kecil di rumah, dan jujur, dengue itu salah satu penyakit yang paling saya khawatirkan. Bukan hanya karena bahayanya tapi juga karena kita nggak pernah tahu kapan atau dari mana virus itu datang. Kita bisa merasa sehat, padahal sebenarnya sedang terinfeksi dan tidak sadar, apalagi kalau gejalanya ringan atau tidak muncul sama sekali. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa menjadi sumber penularan tidak langsung karena nyamuk yang menggigit kita bisa menularkan virus ke orang lain, termasuk anak-anak kita sendiri," terangnya.

Menurut Tasya, banyak orang tua yang belum menyadari bahwa anak-anaklah yang justru paling berisiko mengalami dampak serius jika terinfeksi.

"Angka kematian akibat dengue tertinggi justru terjadi pada anak-anak dan remaja. Ini bukan cuma soal data kesehatan tapi soal nyawa anak-anak kita. Dan sebagai orang tua, kita tidak bisa hanya pasrah atau menunggu sampai anak sakit. Kita harus proaktif," ujarnya.

Baca Juga: Inisiatif Vaksinasi Dengue di Kaltim Menginspirasi Kerja Sama Regional dengan Pemerintah Selangor

Tasya menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam mencegah penyebaran penyakit ini.

"Bukan sekadar karena takut, tapi menjaga anak dari ancaman penyakit adalah tanggung jawab dan bagian dari tugas kita sebagai orang tua. Itu artinya kita perlu lebih peduli, mulai dari menjaga lingkungan, membersihkan tempat penampungan air, memastikan anak cukup istirahat dan gizi sampai mencari tahu upaya pencegahan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Kalau kita semua sadar dan bergerak bersama, saya percaya kita bisa menekan angka kasus dengue. Jangan sampai anak-anak kehilangan masa kecil mereka hanya karena kita lalai," paparnya.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa keterlibatan Takeda merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam upaya pencegahan dengue yang berkelanjutan. Terutama untuk melindungi anak-anak, kelompok paling rentan terhadap dampak serius dengue.

Baca Juga: Antisipasi Dengue di Musim Hujan, Langkah Bersama Cegah DBD Hadir di Kota Medan

"Dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional dengan tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju, kita diingatkan kembali bahwa setiap anak berhak tumbuh sehat, aman dan bebas dari ancaman penyakit yang dapat dicegah seperti dengue. Setiap tahun, ribuan keluarga di Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit akibat dengue dan yang paling menyayat hati adalah ketika anak-anak menjadi korbannya. Kita berbicara tentang kehilangan masa bermain, pendidikan yang terhenti, bahkan kehilangan nyawa yang sebenarnya bisa dicegah dengan 3M Plus dan vaksin DBD," jelasnya.

Andreas menegaskan hal ini menjadi alasan Takeda untuk terus berkomitmen mengambil peran aktif. Tidak hanya lewat dukungan program tetapi juga edukasi berkelanjutan yang dapat menjangkau keluarga secara langsung.

Dia percaya bahwa perubahan hanya bisa tercapai melalui kolaborasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Baca Juga: Gerakan SIAP Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan

Semakin banyak orang tua dan keluarga yang paham, semakin besar peluang kita untuk memutus rantai penyebaran dengue.

"Takeda senantiasa berkomitmen sebagai mitra jangka panjang dengan para pemangku kepentingan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, sektor swasta, media dan masyarakat untuk mewujudkan tujuan bersama Nol Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030," tambah Andreas.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK