Kenali Penyebab Perut Kembung pada Anak, PAFI Beri Solusi Pengobatan

AKURAT.CO Berbicara tentang gangguan kesehatan pada anak, salah satu yang sering dikeluhkan dan dialami adalah perut kembung. Buang gas atau kentut adalah tindakan normal untuk membuang gas di dalam perut. Namun, jika terjadi terlalu sering, hal ini dapat menandakan perut kembung pada anak.
Perut kembung dapat membuat ketidaknyamanan pada si buah hati, dan menimbulkan adanya gangguan sistem pencernaan. Hal ini cukup berbahaya, sehingga membutuhkan pengobatan dengan segera.
PAFI dengan alamat website pafikablangkat.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berusaha dalam meningkatkan kualitas pendidikan farmasi, menjaga etika serta standar praktik kefarmasian, mengembangkan profesionalisme dan riset terkait obat-obatan.
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab perut kembung pada anak, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Baca Juga: 7 Makanan yang Ampuh Atasi Perut Kembung
Apa saja faktor penyebab terjadinya perut kembung pada anak?
Secara umum, perut kembung pada anak adalah kondisi di mana terjadi penumpukan gas berlebihan di saluran pencernaan anak, terutama di lambung dan usus. Penumpukan gas ini menyebabkan perut terasa penuh, membesar, dan kadang menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri. Gas yang berlebihan ini bisa berasal dari udara yang tertelan saat makan atau minum, maupun dari proses fermentasi makanan oleh bakteri usus. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya perut kembung pada anak yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Menelan udara berlebihan atau aerophagia
Anak-anak sering menelan udara terlalu banyak saat makan atau minum, terutama jika mereka makan sambil bermain, berbicara, berlari, atau menonton televisi.
Posisi menyusui yang kurang tepat pada bayi atau penggunaan dot dengan lubang terlalu besar juga bisa menyebabkan udara masuk berlebihan ke saluran cerna. Udara yang tertelan ini akan menumpuk di lambung dan usus sehingga menimbulkan kembung.
2. Sistem pencernaan belum matang
Faktor selanjutnya yang menyebabkan perut kembung pada anak adalah sistem pencernaan belum matang. Pada bayi dan anak kecil, sistem pencernaan belum sempurna dan enzim pencernaan belum optimal. Hal ini menyebabkan proses pencernaan, terutama protein dan karbohidrat, menjadi kurang maksimal sehingga menimbulkan fermentasi dan produksi gas berlebih di usus.
3. Konsumsi makanan pemicu gas
Konsumsi makanan pemicu gas merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perut kembung pada anak.
Beberapa jenis makanan dan minuman diketahui dapat meningkatkan produksi gas di saluran pencernaan, sehingga menimbulkan rasa penuh, begah, dan tidak nyaman pada perut anak.
Beberapa makanan dapat memicu gas adalah sayuran kubis, brokoli, kembang kol, lobak, bawang, dan kacang-kacangan.
4. Adanya intoleransi laktosa dan alergi susu sapi
Anak yang kekurangan enzim laktase tidak dapat mencerna laktosa dengan baik, sehingga laktosa yang tidak tercerna akan difermentasi oleh bakteri usus dan menghasilkan gas berlebih. Intoleransi laktosa adalah penyebab umum perut kembung yang tak kunjung sembuh pada anak. Alergi susu sapi juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan kembung.
5. Sembelit
Sembelit menyebabkan penumpukan tinja di usus besar yang menghambat keluarnya gas, sehingga gas menumpuk dan menimbulkan kembung. Anak yang sering menahan buang air besar, misalnya saat di sekolah, berisiko mengalami sembelit dan kembung.
6. Kondisi medis lainnya
Faktor terakhir yang menyebabkan perut kembung pada anak adalah kondisi medis seperti adanya sindrom iritasi usus besar (IBS), penyakit crohn, obstruksi usus, pertumbuhan bakteri usus yang berlebihan (SIBO). Penyakit-penyakit ini menyebabkan gangguan fungsi pencernaan dan penumpukan gas. Penting untuk selalu memantau kesehatan si buah hati, untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.
Baca Juga: Kenali Penyebab Ambeien pada Anak, PAFI Berikan Solusi Pengobatan
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati perut kembung pada anak?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari perut kembung pada anak. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala perut kembung pada anak serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
1. Tolak angin anak
Salah satu obat yang mudah ditemukan dan direkomendasikan oleh apoteker untuk mengatasi perut kembung pada anak hingga orang dewasa adalah tolak angin. Tolak angin termasuk obat herbal yang mengandung jahe, daun mint, adas, kayu ules, daun cengkeh, dan madu. Efektif mengatasi perut kembung akibat masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh anak. Cocok untuk anak usia 1 tahun ke atas dan bisa diberikan hingga 3 kali sehari.
2. Promag suspensi
Promag adalah obat mengandung hydrotalcite, magnesium hidroksida, dan simetikon yang menetralkan asam lambung dan membantu mengeluarkan gas berlebih di saluran cerna. Cocok untuk anak usia 6-12 tahun yang mengalami kembung akibat maag atau gangguan lambung.
3. Diapet anak
Diapet anak adalah obat yang terbuat dari bahan alami seperti ekstrak daun jambu biji, kunyit, dan kulit buah delima.
Apoteker akan meresepkan obat ini untuk mengatasi sakit perut dan kembung yang menyertai diare pada anak.
4. Transpulmin
Transpulmin adalah balsem herbal yang dioleskan pada perut, dada, dan punggung untuk menghangatkan dan mengalihkan rasa nyeri akibat kembung. Tersedia varian untuk bayi (0-2 tahun) dan anak di atas 2 tahun.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi perut kembung pada anak adalah mengonsumsi air jahe hangat. Jahe dikenal memiliki sifat menghangatkan dan membantu memperlancar pencernaan sehingga mengurangi penumpukan gas. Seduhan jahe hangat dalam jumlah kecil bisa diberikan pada anak yang sudah mulai makan (MPASI) untuk meredakan kembung.
Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









