Jangan Tertukar, Ini Perbedaan Psikolog, Psikiater Dan Konselor

AKURAT.CO Dalam menjaga kesehatan mental, terkadang kita memerlukan dukungan dari individu lain.
Ini bisa melibatkan mencari bantuan dari ahli profesional seperti psikolog, psikiater, atau konselor.
Namun, penting untuk menyadari bahwa ketiga jenis profesional ini memiliki perbedaan yang penting, meskipun mereka semua memiliki peran dalam membantu individu dalam menjaga dan mengatasi masalah kesehatan mental.
Berikut adalah perbedaan antara psikolog, psikiater dan konselor yang perlu dipahami.
Baca Juga: Jangan Takut Cek Kesehatan Mental Ke Psikolog, Berikut Manfaatnya
1. Latar belakang pendidikan
Seorang psikolog, psikiater, dan konselor melalui jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Di mana psikolog setidaknya melalui masa pendidikan sekitar enam tahun di jurusan psikologi.
Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti berbagai praktik dan uji profesi yang diawasi oleh tenaga ahli.
Kemudian, seorang psikiater harus menyelesaikan pendidikan di jurusan kedokteran dan menjalani pendidikan lanjutan. Lalu ia juga harus menjalani berbagai pelatihan sebagai dokter umum dan dilanjutkan dengan pelatihan lainnya yang berfokus dalam menangani penyakit mental secara medis.
Sedangkan seorang konselor harus menyelesaikan pendidikan di jurusan konseling dengan area fokus yang beragam. Seperti pada bidang konseling karier, hubungan sosial dan budaya, atau bidang pertumbuhan, perkembangan, dan hubungan antar manusia.
Baca Juga: Jodoh Cerminan Diri, Apa Pandangan Dai Islam Dan Psikolog?
2. Kondisi yang ditangani
Sebelum memutuskan untuk mencari bantuan, sangat penting untuk memahami perbedaan dalam kondisi yang diatasi oleh psikolog, psikiater, dan konselor.
Dengan memahami perbedaan ini, kamu dapat membuat keputusan yang lebih tepat mengenai siapa yang harus kamu hubungi untuk mendapatkan bantuan yang sesuai dengan kondisimu. Terkadang, dalam kasus tertentu, ada kebutuhan untuk berkolaborasi dengan lebih dari satu profesional.
Menurut informasi yang dikutip dari laman Stone Ridge Center, psikiater cenderung menangani kondisi kesehatan mental yang lebih kronis, seperti skizofrenia, bipolar disorder, atau depresi akut yang memerlukan perawatan medis lebih lanjut.
Di sisi lain, psikolog lebih cocok untuk menangani masalah perilaku, belajar, kecemasan, atau depresi ringan tanpa perlu perawatan medis.
Sementara itu, konselor, seperti yang dijelaskan oleh laman Glints, biasanya membantu kasus-kasus yang serupa dengan psikolog, terutama yang berkaitan dengan tekanan dalam kehidupan sehari-hari, masalah multikultural dan keberagaman, serta perkembangan manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Jika diperlukan asesmen klinis atau diagnosis yang lebih mendalam, tindak lanjutnya biasanya akan dilakukan oleh seorang psikolog yang memiliki kualifikasi untuk melakukan tes atau mendiagnosis gangguan mental.
Dengan pemahaman ini, kamu dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dalam mencari bantuan yang sesuai dengan kondisimu untuk memastikan pemulihan yang efektif.
3. Peran dan penanganan
peran dan kapasitas mereka dalam membantu menangani masalah kesehatan juga terdapat perbedaan. Dimulai dari psikolog yang dalam tugasnya fokus menangani keluhan mental dengan memberikan penanganan psikologi.
Seperti dengan melakukan terapi yang melibatkan komunikasi untuk membangun dan menilai perasaan, pikiran, dan perilaku dari pasien.
Menurut laman Pepperdine, peran seorang konselor sedikit mirip dengan psikolog, di mana mereka sama-sama menangani keluhan mental dengan memberikan penanganan psikologi.
Namun, mereka tidak dapat melibatkan assessment klinis layaknya yang dilakukan oleh para psikolog, seperti melakukan tes atau mendiagnosis gangguan mental. Mereka hanya berfokus membantu dengan cara mendengarkan keluhan klien, mengembangkan rencana treatment nonmedis serta memberikan evaluasi profesional yang dapat membantu klien meningkatkan kemampuannya untuk mengatasi masalah dan mengambil keputusan.
Sangat berbeda dengan psikiater, profesi ini mengiringi penanganan psikologi dengan penanganan medis. Menurut laman WebMD, psikiater dapat meresepkan obat dalam pengobatannya karena mereka bisa memonitor dampak penyakit mental pada kondisi kesehatan fisik, serta hubungan antara keduanya.
Selain resep obat, psikiater juga dapat menyarankan jenis penanganan medis seperti electroconvulsive therapy (ECT) dan psikoterapi, yang nantinya akan bekerja sama dengan seorang psikolog.
Sebelum mencari bantuan, penting untuk memahami perbedaan antara psikolog, psikiater, dan konselor. Ini membantu kamu membuat keputusan yang tepat untuk kondisimu.
Terkadang, beberapa kasus memerlukan kolaborasi profesional. Psikiater menangani kasus kronis yang memerlukan perawatan medis, sementara psikolog lebih fokus pada masalah perilaku dan kecemasan ringan. Konselor membantu dalam tekanan harian, masalah multikultural, dan perkembangan manusia. Jika perlu asesmen lebih dalam, psikolog dapat memberikan diagnosis yang tepat.
Dengan pemahaman ini, kamu bisa mendapatkan bantuan yang efektif sesuai kebutuhanmu. (Ridho Hatmanto)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









