AKURAT.CO Lima negara Eropa menyatakan telah mengonfirmasi bahwa tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny tewas akibat keracunan epibatidin, neurotoksin berkekuatan tinggi yang berasal dari katak panah beracun Amerika Selatan. Zat tersebut ditemukan dalam sampel jaringan tubuh yang diambil secara diam-diam dan dikeluarkan dari Rusia. Pakar senjata kimia menyebut efek racun itu selaras dengan gejala yang dilaporkan sebelum Navalny meninggal.
Dua tahun lalu, Navalny — pengkritik vokal Presiden Rusia Vladimir Putin — meninggal di koloni penjara di atas Lingkar Arktik pada usia 47 tahun. Penyelidik Rusia saat itu menyebut penyebab kematian adalah “kombinasi berbagai penyakit”, namun pernyataan resmi tersebut sejak awal diragukan publik.
Berdasarkan informasi yang diperoleh media The Insider dan Der Spiegel, sejumlah laboratorium di negara Barat telah menganalisis sampel biologis dari tubuh Navalny dan mencapai kesimpulan serupa: terdapat epibatidin, alkaloid sangat beracun yang diekstrak dari kulit katak phantasmal poison frog (Epipedobates tricolor). Sampel disebut diambil secara rahasia oleh keluarga Navalny setelah kematiannya dan diselundupkan ke luar Rusia.
Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda disebut telah memvalidasi hasil uji tersebut dan berencana merilis pernyataan bersama di sela forum Munich Security Conference, yang menegaskan dengan tingkat kepastian tinggi bahwa Navalny diracun. Kelima negara juga berencana menyerahkan temuan itu ke Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) serta menuduh Rusia melanggar kewajiban perjanjian pemusnahan senjata kimia.
Neurotoksin pemicu kelumpuhan
Epibatidin adalah alkaloid terklorinasi yang pertama kali diidentifikasi oleh kimiawan Amerika, John Daly, pada 1974, sementara struktur molekulnya dipetakan penuh pada 1992. Zat ini bekerja pada reseptor asetilkolin nikotinik dan muskarinik yang berperan dalam transmisi rasa sakit dan kendali gerak di sistem saraf pusat maupun perifer.
Paparan epibatidin memicu mati rasa menyeluruh secara progresif yang dapat berkembang cepat menjadi kelumpuhan total. Kematian terjadi ketika kelumpuhan menyebabkan gagal napas. Studi laboratorium menunjukkan zat ini hampir tidak dimetabolisme tubuh manusia dan mencapai konsentrasi puncak di otak sekitar 30 menit setelah tertelan.
Dalam dosis tinggi, dampaknya meliputi kelumpuhan, hilang kesadaran, kejang, koma, hingga kematian. Senyawa ini sempat diteliti sebagai kandidat pereda nyeri non-opioid karena potensi analgesiknya sekitar 200 kali morfin, namun dinilai tidak aman karena jarak antara dosis terapi dan dosis racun sangat sempit.
Dua pakar senjata kimia yang dikutip The Insider — identitasnya dirahasiakan — menyatakan rincian kondisi akhir Navalny konsisten dengan keracunan epibatidin. Gejala seperti kolaps mendadak, hilang kesadaran, dan kegagalan resusitasi dinilai sesuai dengan paparan agonis reseptor nikotinik kerja cepat.
Sulit diperoleh dan disintesis
Jika dikonfirmasi, penggunaan epibatidin akan menjadi pola berbeda dibanding kasus keracunan sebelumnya yang dikaitkan dengan Kremlin. Tidak seperti agen saraf Novichok, epibatidin memang senyawa alami, namun sangat sulit diperoleh dalam jumlah memadai untuk dijadikan racun pembunuh.
Spesies katak penghasil epibatidin ditetapkan sebagai satwa dilindungi sejak 1984. Katak yang dibesarkan di penangkaran tidak menghasilkan racun tersebut karena zat dikumpulkan dari makanan alaminya di alam liar. Sintesis kimia epibatidin baru berhasil dilakukan pada 1993 dan membutuhkan kemampuan laboratorium tingkat lanjut. Pakar menilai hanya sangat sedikit pihak yang memiliki kapasitas memproduksi dan mempersenjatai zat tersebut.
Rangkaian kasus racun kimia
Temuan ini menambah daftar dugaan serangan kimia yang dikaitkan dengan Rusia. Pada 2018, mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya diracun Novichok di Salisbury, Inggris. Keduanya selamat, namun warga Inggris Dawn Sturgess meninggal setelah terpapar botol parfum yang digunakan untuk membawa agen saraf tersebut.
Pada 2020, Navalny juga menjadi target percobaan pembunuhan dengan Novichok yang dikaitkan dengan dinas keamanan Rusia. Ia jatuh sakit dalam penerbangan dari Tomsk ke Moskow dan kemudian dirawat di Berlin hingga selamat. Identitas para pelaku diungkap melalui investigasi gabungan The Insider, Der Spiegel, dan Bellingcat.
Janda Navalny, Yulia Navalnaya, tahun lalu menuduh Rusia meracuni suaminya berdasarkan temuan laboratorium luar negeri dan mendesak hasil uji dipublikasikan. Pernyataan bersama lima pemerintah Barat disebut menguatkan klaim tersebut.
Rujukan ke OPCW menandakan kelima negara memandang kasus ini bukan sekadar pembunuhan politik, melainkan dugaan pelanggaran Konvensi Senjata Kimia, dengan tuduhan bahwa Rusia masih memiliki dan menggunakan kemampuan senjata kimia terhadap individu di dalam maupun luar negeri.