Akurat

Trump Ingin Hindari Serangan Militer ke Iran, Buka Dialog dengan Teheran

Fitra Iskandar | 30 Januari 2026, 10:27 WIB
Trump Ingin Hindari Serangan Militer ke Iran, Buka Dialog dengan Teheran

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (29/1) menyatakan harapannya untuk menghindari aksi militer terhadap Iran. Ia mengatakan masih membuka peluang perundingan lanjutan dengan Teheran terkait kesepakatan nuklir, di tengah ancaman militer Iran yang menyatakan siap menyerang pangkalan dan kapal induk AS jika terjadi serangan.

“Saya membangun kekuatan militer pada masa jabatan pertama, dan sekarang kita memiliki armada yang bergerak ke wilayah yang disebut Iran. Mudah-mudahan kita tidak perlu menggunakannya,” ujar Trump kepada wartawan saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania Trump.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan dialog dengan Iran, Trump menegaskan bahwa pembicaraan telah dan akan terus dilakukan. Ia menyebut AS telah mengerahkan sejumlah kapal perang besar dan kuat ke kawasan dekat Iran, namun berharap kekuatan itu tidak perlu digunakan.

Di sisi lain, Iran pada hari yang sama mengeluarkan peringatan keras. Militer Iran menyatakan akan langsung menyerang pangkalan militer dan kapal induk AS jika terjadi aksi militer. Pernyataan ini muncul setelah Trump memperingatkan bahwa waktu semakin menipis bagi Iran, serta Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar perundingan nuklir segera digelar guna mencegah krisis yang dapat berdampak besar bagi stabilitas kawasan.

Juru bicara militer Iran menegaskan bahwa respons Teheran terhadap setiap aksi AS tidak akan terbatas seperti pada Juni tahun lalu, ketika pesawat dan rudal Amerika sempat terlibat singkat dalam konflik udara Israel-Iran. Kali ini, respons akan bersifat tegas dan dilakukan secara cepat.

Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa kapal induk AS memiliki “kerentanan serius”, sementara sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk berada dalam jangkauan rudal jarak menengah Iran.

“Jika Amerika melakukan salah perhitungan, hasilnya tidak akan seperti yang dibayangkan Trump—melakukan operasi singkat lalu dua jam kemudian mengumumkan lewat media sosial bahwa operasi telah selesai,” ujarnya.

Seorang pejabat di kawasan Teluk, tempat sejumlah negara menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, mengatakan kepada AFP bahwa kekhawatiran akan serangan Amerika terhadap Iran sangat nyata. Menurutnya, konflik terbuka akan membawa kekacauan regional dan berdampak buruk pada ekonomi global, termasuk melonjaknya harga minyak dan gas.

Sementara itu, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon untuk membahas upaya meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan, sebagaimana dilaporkan Qatar News Agency (QNA).

Uni Eropa turut meningkatkan tekanan dengan secara resmi menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, menyusul tindakan keras aparat Iran terhadap gelombang unjuk rasa massal. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang sudah lama ditunggu, seraya menuding pemerintah Iran menumpas protes rakyatnya dengan kekerasan.

Meski bersifat simbolis, keputusan Uni Eropa tersebut menuai kecaman dari Teheran. Militer Iran menyebut langkah itu tidak logis dan didorong oleh kepentingan politik Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah Iran juga menuding kedua negara berada di balik gelombang protes yang, menurut mereka, berubah menjadi kerusuhan dan aksi teror.

Kelompok pembela HAM menyatakan ribuan orang tewas akibat tindakan aparat keamanan, termasuk IRGC, selama penanganan demonstrasi. Di Teheran, sejumlah warga menyampaikan kekhawatiran dan keputusasaan mereka.

“Saya rasa perang sulit dihindari dan perubahan harus terjadi, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk,” ujar seorang pelayan restoran berusia 29 tahun yang enggan disebutkan namanya.

Warga lain menyebut kondisi ekonomi dan kehidupan sehari-hari berada pada titik terendah.

Trump sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer jika demonstran tewas dalam aksi protes anti-pemerintah yang pecah sejak akhir Desember. Namun, belakangan fokus pernyataannya bergeser ke program nuklir Iran, yang oleh Barat diyakini bertujuan mengembangkan senjata nuklir.

Pada Rabu, Trump kembali menegaskan bahwa waktu hampir habis bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan, seraya menyatakan bahwa armada laut AS di Timur Tengah siap bertindak jika diperlukan.

Di tengah simpang siur jumlah korban, lembaga HAM berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), mengklaim sedikitnya 6.479 orang tewas selama aksi protes. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan klaim resmi pemerintah Iran yang menyebut lebih dari 3.000 korban, sebagian besar di antaranya disebut sebagai aparat keamanan atau warga yang tewas akibat kerusuhan.

Di ibu kota Teheran, baliho dan spanduk besar dipasang untuk memperkuat pesan pemerintah, termasuk gambar yang menggambarkan kehancuran sebuah kapal induk Amerika Serikat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.