Akurat

Pakar Prancis: Mustahil Temukan Kembali Perhiasan yang Dicuri dari Museum Louvre

Fitra Iskandar | 20 Oktober 2025, 21:24 WIB
Pakar Prancis: Mustahil Temukan Kembali Perhiasan yang Dicuri dari Museum Louvre

AKURAT.CO Museum Louvre di Paris tetap ditutup pada Senin (20/10) menyusul penyelidikan atas pencurian perhiasan bersejarah yang terjadi sehari sebelumnya. Para ahli menyebut peluang untuk menemukan kembali harta karun tersebut sangat kecil.

Dalam pernyataan di media sosial X, pihak museum menyampaikan penyesalan atas penutupan sementara itu. Publik Prancis kini masih dikejutkan oleh perampokan berani di jantung museum paling terkenal di dunia, di mana para pelaku berhasil membawa kabur artefak berharga dari permata mahkota Prancis yang berasal dari era Napoleon.

Kronologi Perampokan

Menurut laporan penyidik, pelaku menggunakan tangga yang dipasang di truk untuk masuk ke Galeri Apollo — salah satu ruang paling megah di Louvre — melalui jendela. Dengan perlengkapan seperti gerinda dan obor las, mereka menargetkan dua etalase keamanan tinggi dan menyelesaikan aksinya hanya dalam tujuh menit sebelum melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Barang Berharga yang Dicuri

Barang yang dicuri termasuk satu set perhiasan berlian dan safir, seperti tiara dan kalung yang pernah dikenakan Ratu Marie-Amélie dan Ratu Hortense. Diadem tersebut bertatahkan 24 safir Ceylon dan lebih dari 1.000 berlian yang bisa dilepas dan dijadikan bros.

Pelaku juga membawa kabur kalung dan anting zamrud yang merupakan hadiah pernikahan dari Napoleon kepada istri keduanya, Marie-Louise dari Austria, pada 1810. Koleksi itu terdiri atas 32 zamrud berpotongan rumit dan 1.138 berlian. Delapan dari sembilan barang berharga yang dicuri hingga kini belum ditemukan.

Sorotan terhadap Keamanan Louvre

Menteri Kehakiman Prancis Gérald Darmanin menyebut insiden itu sebagai bukti kegagalan sistem keamanan museum. Ia mengkritik lemahnya pengamanan jendela dan akses jalan menuju Galeri Apollo. “Yang pasti, kita telah gagal,” ujarnya di radio France Inter.
“Semua orang Prancis merasa seperti dirampok,” tambahnya.

Elaine Sciolino, penulis buku Adventures in the Louvre, menggambarkan kejadian itu sebagai “belati yang menusuk jantung sejarah Prancis”.

Kemungkinan Barang Ditemukan Kembali

Senator Natalie Goulet menyatakan bahwa perhiasan tersebut kemungkinan besar telah dibawa keluar negeri dan kecil kemungkinan untuk ditemukan kembali. Ia memperkirakan perhiasan itu akan dipotong dan dijual di pasar gelap untuk pencucian uang.

“Perhiasan itu akan dipecah dan dijual, itu cara termudah untuk mencuci uang,” ujarnya kepada BBC. Ia menduga pencurian ini berkaitan dengan jaringan kejahatan terorganisir.

Christopher Marinello, pendiri Art Recovery International, menambahkan bahwa jika para pelaku mengincar uang cepat, logam mulia bisa saja dilebur dan batu permata dipotong ulang tanpa mempertimbangkan nilai sejarahnya. “Jika kita tidak menghentikan geng-geng ini, kita akan kehilangan artefak yang tak tergantikan,” katanya.

Kasus Serupa di Masa Lalu

Sepanjang sejarah, Louvre jarang menjadi sasaran perampokan besar. Salah satu kasus paling terkenal adalah pencurian lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci pada 1911 oleh Vincenzo Peruggia. Lukisan itu baru ditemukan dua tahun kemudian di Italia.

Kasus serupa juga terjadi di Eropa awal tahun ini, ketika empat artefak emas kuno dicuri dari Museum Drents di Belanda. Perampok menggunakan bahan peledak untuk mencuri tiga gelang emas dari abad pertama SM dan helm emas Cotofenesti dari abad ke-5 SM, yang dipinjam dari Museum Sejarah Nasional Rumania.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.