Sukses Lobi Pabrik Bir Berusia 164 Tahun di Pakistan untuk Dapat Izin Ekspor

AKURAT.CO Aroma malt dan ragi yang menyengat tercium kuat di pabrik bir tertua sekaligus terbesar di Pakistan. Murree Brewery—yang berdiri sejak 1860—kini bersiap melakukan ekspansi setelah akhirnya memperoleh izin mengekspor produknya ke luar negeri, menyusul larangan hampir 50 tahun.
Botol dan kaleng beradu di jalur produksi Murree Brewery, menghadirkan pemandangan yang tidak lazim di negara berpenduduk mayoritas Muslim, tempat alkohol pada umumnya dilarang. Namun pabrik yang awalnya didirikan untuk memenuhi kebutuhan serdadu Inggris dan komunitas kolonial pada masa Raj Inggris ini berhasil bertahan melewati penolakan kelompok Islamis dan regulasi ketat, hingga menjadi salah satu perusahaan paling dikenal di Pakistan.
“Ini perjalanan yang penuh naik-turun dan ketahanan,” ujar Isphanyar Bhandara, generasi ketiga keluarganya yang kini memimpin perusahaan, kepada AFP. Ia menyebut izin ekspor sebagai tonggak penting. “Kakek dan mendiang ayah saya sudah lama berusaha mendapat lisensi ekspor, tetapi selalu gagal—semata karena kami negara Islam,” katanya.
Namun, Bhandara mengaku terkejut pada 2017 ketika sebuah pabrik bir dan penyulingan yang dikelola perusahaan China, Hui Coastal Brewery and Distillery, justru mendapat izin beroperasi di Pakistan—terutama untuk memenuhi kebutuhan ribuan pekerja China pada proyek-proyek infrastruktur besar. “Lalu ke mana semua ceramah tentang nilai-nilai Islam itu?” kata Bhandara, yang berasal dari komunitas Parsi (Zoroastrian) yang kecil namun berpengaruh, dan juga anggota Majelis Nasional Pakistan. Sejak saat itu, ia memulai lobi panjang untuk mencabut larangan ekspor Murree.
Keuntungan yang Tak Biasa
Awalnya berlokasi di pegunungan dekat Islamabad, fasilitas bata merah Murree kini berdiri berseberangan dengan kediaman kepala angkatan darat di Rawalpindi—salah satu kawasan dengan pengamanan paling ketat di Pakistan. Pendapatan perusahaan melampaui 100 juta dolar AS pada tahun fiskal hingga Juni, dengan penjualan alkohol menyumbang sedikit di atas separuh, sementara sisanya berasal dari minuman non-alkohol dan produksi botol.
Capaian ini kian mencolok mengingat penjualan alkohol kepada umat Muslim dilarang. Artinya, hanya minoritas agama—sekitar sembilan juta orang—serta warga asing yang dapat membeli bir atau minuman keras di toko-toko berizin atau hotel kelas atas. Meski begitu, sejarah panjang Pakistan menunjukkan relasi yang kompleks dengan alkohol. Pendiri negara, Mohammad Ali Jinnah, dikenal menikmati minuman beralkohol. Mantan penguasa militer Pervez Musharraf pun tak menutupi kegemarannya pada wiski.
Bahkan Zulfikar Ali Bhutto, perdana menteri yang memberlakukan larangan alkohol pada 1977 demi meraih dukungan partai-partai Islam kanan, pernah berkata dalam sebuah rapat umum, “Ya, saya minum alkohol, tapi setidaknya saya tidak meminum darah orang miskin.”
Kini, botol minuman kerap muncul di jamuan makan atau pesta—biasanya ada kerabat Kristen atau Hindu yang bersedia membelikannya. “Hubungan Pakistan dengan alkohol seperti kekasih rahasia—diakui, tetapi jarang dibicarakan,” kata kolumnis dan pengamat politik Fasi Zaka. “Ini adalah ‘dosa’ yang ditoleransi—dikecam, tetapi akrab.”
Di sisi lain, banyak peminum Muslim memperoleh alkohol dari penyelundup atau minuman oplosan lokal. Setiap tahun, sejumlah orang meninggal akibat konsumsi minuman yang tercemar metanol. “Saya harus menyuap polisi dan mengambil risiko ekstra, jadi harganya jadi dua kali lipat,” kata seorang penyelundup Kristen di Islamabad kepada AFP, meminta anonimitas. “Biaya tambahan itu untuk menyenangkan semua pihak—pelanggan Muslim maupun polisi yang mengawasi,” ujarnya sambil tertawa.
Membuka Cakrawala Baru
Sebelum larangan ekspor, Murree pernah menjual produknya ke India dan Afghanistan, juga ke negara-negara Teluk hingga Amerika Serikat. “Kedengarannya aneh hari ini, tapi kami dulu mengekspor ke Kabul,” kata Bhandara, merujuk Afghanistan yang kini dikuasai Taliban dengan penafsiran Islam yang ketat.
Saat ini, Murree telah melakukan pengiriman terbatas ke Jepang, Inggris, dan Portugal untuk menjajaki jalur distribusi dan strategi pasar. “Target kami sekarang bukan pendapatan atau keuntungan… melainkan menjelajahi pasar baru,” ujar Bhandara. Perusahaan dengan sekitar 2.200 karyawan itu membidik Eropa, sembari mempertimbangkan ekspansi ke Asia dan Afrika.
Ekspor juga memberi peluang bagi Murree untuk mempromosikan sejarah dan mereknya—sesuatu yang nyaris mustahil di dalam negeri. “Kami tidak diizinkan beriklan, jadi kami bekerja dalam senyap—fokus membuat bir yang baik tanpa banyak sorotan,” kata Bhandara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








