Akurat

The Fed Kejutkan Dunia: Pangkas Suku Bunga hingga 50 Bps dengan Pengangguran AS Jadi Fokus Utama

Sulthony Hasanuddin | 20 September 2024, 23:29 WIB
The Fed Kejutkan Dunia: Pangkas Suku Bunga hingga 50 Bps dengan Pengangguran AS Jadi Fokus Utama

AKURAT.CO Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), mengejutkan pasar global dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) menjadi 4,75-5,0% pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/9/2024).

Dilansir dari CNBC RESEARCH pada Jumat (20/8/3024) pemangkasan ini lebih besar dari ekspektasi pasar yang memprediksi penurunan hanya sebesar 25 bps.

Keputusan tersebut menjadi yang pertama sejak Maret 2020, ketika pandemi COVID-19 baru melanda dunia.

Baca Juga: Listy Chan Mualaf dan Diposting di Sosial Media, Apa Hukumnya Menurut Islam?

Sejak Maret 2022 hingga Juli 2023, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 525 bps untuk menekan laju inflasi.

Namun, dalam setahun terakhir, tepatnya antara September 2023 hingga Agustus 2024, suku bunga ditahan di level 5,25-5,50%.

Kini, pemangkasan dilakukan karena The Fed meyakini inflasi AS sudah bergerak menuju target 2%, serta adanya peningkatan pengangguran yang signifikan.

Menurut The Fed, pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps dilakukan dengan mempertimbangkan kemajuan inflasi yang mulai melandai serta lonjakan tingkat pengangguran.

Inflasi AS tercatat sebesar 2,5% (year-on-year) pada Agustus 2024, turun signifikan dari 3,7% di Agustus tahun sebelumnya.

Namun, tingkat pengangguran melonjak ke 4,2%, dari 3,8% setahun sebelumnya, dan bahkan sempat mencapai 4,3% pada Juli 2024, rekor tertinggi sejak Oktober 2021.

Baca Juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, IHSG Bakal Menguat ke Kisaran 7.812

Ketua The Fed, Jerome Powell, menjelaskan bahwa pemangkasan suku bunga ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan stabilitas pasar tenaga kerja.

Powell menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah tanda dari fase baru, melainkan langkah yang diambil secara hati-hati untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa mendorong inflasi lebih tinggi.

Keputusan The Fed ini sempat mendorong Indeks Dow Jones naik 375 poin, meskipun kembali melemah menjelang penutupan pasar.

Indeks Nasdaq turun 0,31%, sementara S&P 500 juga melemah 0,29%.

Harga emas sempat mencapai rekor tertinggi di USD2.570,70 per ons troy, meskipun kemudian terkoreksi.

Respon pasar menunjukkan ketidakpastian, meskipun pemangkasan suku bunga ini diharapkan mendukung aset berisiko.

Baca Juga: Fed Pastikan Pemangkasan Suku Bunga Mampu Dorong Perekonomian AS

Presiden AS Joe Biden menyambut positif kebijakan ini, dengan menyebutnya sebagai momen penting dalam upaya menurunkan inflasi dan menjaga perekonomian tetap kuat.

Namun, beberapa pihak menyuarakan kekhawatiran bahwa pemangkasan 50 bps mungkin terlalu agresif, dengan potensi menciptakan ketidakstabilan di pasar aset berisiko.

Selain pemangkasan suku bunga, The Fed juga merilis Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) yang memperkirakan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) akan turun menjadi 2,3% pada akhir 2024 dan 2,1% pada 2025.

Sementara itu, tingkat pengangguran diprediksi akan stabil di 4,4% pada 2024 dan 2025, dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 2,1% di tahun ini dan 2% pada tahun berikutnya.

Proyeksi ini mencerminkan optimisme dalam pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi, namun The Fed tetap fokus pada tantangan pengangguran yang terus meningkat.

Meskipun langkah pemangkasan suku bunga ini memberi sinyal positif bagi inflasi, Powell memperingatkan bahwa langkah ke depan akan tetap dipertimbangkan secara hati-hati.

Masalah pengangguran yang meningkat tetap menjadi perhatian utama, dan kebijakan suku bunga berikutnya akan bergantung pada perkembangan ekonomi di bulan-bulan mendatang.

Baca Juga: Jangan Sampai Kelewatan! Pemain FC Mobile Segera Reedem Code untuk Dapatkan Hadiah Spesial Khusus Bulan Ini

Pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps ini adalah yang pertama dalam beberapa tahun terakhir di luar krisis besar, dan sejarah menunjukkan bahwa keputusan seperti ini jarang diambil kecuali dalam situasi darurat ekonomi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.