Fed Pastikan Pemangkasan Suku Bunga Mampu Dorong Perekonomian AS
Demi Ermansyah | 9 September 2024, 11:26 WIB

AKURAT.CO Federal Reserve (The Fed) baru-baru ini dikabarlan akan mulai memangkas kebijakan pengetatan suku bunga mereka, usut punya usut hal ini dilakukan melihat inflasi Amerika Serikat yang mulai mereda meskir pasar tenaga kerja masih melambat.
Lebih lanjut tantangan besar buat The Fed yakni apakah penurunan suku bunga yang kecil cukup buat tetap mendorong ekonomi AS berkembang.
Mengacu lansiran Bloomberg, laporan keuangan yang dirilis oleh otorita mereka menunjukan bahwa laju perekrutan di AS mulai melambat selama tiga bulan terakhir, disebutkan menjadi yang paling lambat sejak pandemi 2020. Meskipun begitu, angka ini bikin investor ragu apakah The Fed bakal milih penurunan suku bunga yang besar banget di pertemuan 17-18 September nanti.
Laporan ini juga bikin perdebatan sengit di antara pejabat-pejabat The Fed. Jerome Powell, Gubernur The Fed, kabarnya terbuka buat penurunan suku bunga yang lebih besar, biar bank sentral nggak ketinggalan. Tapi, ada juga pejabat lain yang masih ragu dan cuma ngomongin soal penurunan seperempat poin, menurut Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG. Ini jadi taruhan yang besar.
Sebelumnya, di bawah Powell, The Fed pernah terlambat ngambil tindakan buat ngendaliin inflasi terburuk sejak 1980-an, yang bikin daya beli rumah tangga Amerika menurun. Kalau mereka kelamaan lagi kali ini, bisa-bisa pengangguran naik dan ekonomi masuk resesi.
"Powell harus mikirin warisannya sekarang, dia harus bisa bikin pendaratan ekonomi yang halus," kata Swonk.
Pejabat The Fed sekarang punya pilihan sulit, apakah mau mulai pelonggaran secara bertahap atau langsung nurunin suku bunga secara agresif. Ini sering banget jadi bahan debat tiap kali ada titik balik dalam kebijakan moneter.
Dengan sebagian besar indikator ekonomi yang nunjukin tren menurun, beberapa ekonom merasa lebih berisiko kalau mereka terlalu hati-hati, daripada langsung bergerak agresif.
Naiknya pengangguran bisa bikin masalah lebih lama, karena kalau orang-orang nggak belanja, perusahaan bisa lebih banyak PHK karyawan. Tingkat pengangguran saat ini udah naik hampir satu poin persentase dari titik terendah tahun lalu, yang memicu indikator resesi yang dikenal sebagai "aturan Sahm."
"Ini menimbulkan banyak pertanyaan serius, nggak cuma buat pertemuan ini, tapi juga buat beberapa bulan ke depan," kata Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee, di CNBC hari Jumat. "Gimana caranya kita bisa bikin situasi nggak makin buruk."
Laporan terpisah dari Biro Statistik Tenaga Kerja pada 4 September nunjukin kalau lowongan pekerjaan di AS turun di bulan Juli ke level terendah sejak awal 2021. Rasio lowongan pekerjaan terhadap pengangguran, yang sempat mencapai dua banding satu waktu kekurangan tenaga kerja di masa pandemi, sekarang udah balik ke satu banding satu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 3Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 6Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian









