Akurat

Korsel Bersiap Buka Pintu Bagi PRT Asing

Wahyu SK | 1 September 2023, 17:41 WIB
Korsel Bersiap Buka Pintu Bagi PRT Asing

AKURAT.CO Korea Selatan menyetujui rencana Pemerintah Kota Seoul untuk mengizinkan 100 pembantu rumah tangga asing masuk ke negara itu melalui program percontohan, Jumat (1/9/2023).

Sesuatu hal yang disebutkan bertujuan untuk meningkatkan angka kelahiran dengan membantu lebih banyak wanita bergabung kembali ke dunia kerja.

Masalah ini muncul di tengah-tengah situasi Korsel dengan angka kelahiran yang menurun tajam, populasi umur tua yang dominan hingga keengganan historisnya untuk menerima lebih banyak imigran.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, Wali Kota Seoul, Oh Se Hoon, menulis bahwa pembantu rumah tangga asing dapat menjadi sebuah penyegaran bagi masyarakat di wilayah tersebut.

"Pembantu rumah tangga asing dapat merevitalisasi masyarakat kita. Terutama dapat membantu dengan segera dalam masa jeda karir," ujar Oh Se-hoon, dikutip Jumat (1/9/2023).

Dilansir Reuters, banyak wanita di Korsel yang menghadapi tekanan untuk tinggal di rumah dan membesarkan keluarga atau memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali karena tingginya biaya membesarkan anak di negara itu.

Kementerian Tenaga Kerja Korsel juga melaporkan jumlah anak muda yang tertarik pada pekerjaan rumah tangga semakin berkurang.

Saat ini Korsel sedang dalam pembicaraan dengan Filipina sebagai salah satu sumber pekerja potensial dengan tujuan untuk memulai program percontohan paling cepat bulan Desember nanti.

Di bawah peraturan yang berlaku saat ini, hanya orang asing tertentu seperti pasangan warga negara Korea dan etnis Korea yang diizinkan untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga.

Pemerintah memperkirakan harga pasar saat ini untuk pekerja rumah tangga penuh waktu yang tinggal dengan keluarga tuan rumah sekitar 3,5 juta won hingga 4,5 juta won atau setara dengan Rp40,2 juta hingga Rp51,7 juta per bulan .

Skema baru ini menjadi yang terbaru dari serangkaian upaya pemerintah untuk membalikkan tingkat kelahiran yang menurun di negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia ini.

Bagaimana Tanggapan Masyarakat Korsel?

Di sisi lain, puluhan kelompok masyarakat mendesak pemerintah untuk membatalkan rencana tersebut dan mengatakan bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus untuk memangkas jam kerja yang panjang di negara itu.

"Orang tua membutuhkan lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama anak-anak mereka, bukan seseorang yang mengalihdayakan pengasuhan anak-anak mereka," ujar Park Min-ah, salah satu ketua kelompok sipil Politicalmamas.

Sebagai informasi, Korsel melaporkan tingkat kesuburan terendah di dunia tahun 2022 dengan jumlah rata-rata bayi yang diharapkan untuk setiap wanita mencapai 0,78 dan Ibu Kota Seoul menjadi yang terendah dengan 0,59.

Di antara negara-negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) angka rata-rata bayi yang diharapkan adalah 1,59 pada 2020.

Sementara itu, arus masuk pemukim asing sebagai persentase dari populasi negara ini termasuk yang terendah di OECD.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.