Apakah Transfusi Darah Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya dari Sisi Kesehatan dan Fikih

AKURAT.CO Sebentar lagi umat muslim di seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Setiap Ramadan selalu ada pertanyaan yang berkaitan dengan kesehatan dan pelaksanaan puasa di bulan Ramadan, seperti tindakan medis apa yang bisa membatalkan puasa dan apa yang diperbolehkan selama puasa.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah tindakan medis transfusi darah bisa membatalkan puasa?
Seseorang yang memasukkan cairan ke dalam jaringan darah sama dengan kegiatan makan dan minum.
Akan tetapi dalam situasi tertentu, fenomena tersebut dianggap sebagai kondisi darurat di mana seseorang yang melakukan transfusi darah sedang dalam keadaan terdesak.
Oleh karena itu, yuk kita bahas fenomena apakah transfusi darah dapat membatalkan puasa dari segi kesehatan dan syariat.
Apa Itu Transfusi darah
Transfusi darah adalah prosedur penyaluran darah seseorang kepada pasien yang membutuhkan donor darah.
Misalnya, terjadi perdarahan hebat pada seorang pasien dan membutuhkan donor darah sebagai darah tambahan, maka dilakukan transfusi darah dari pendonor kepada pasien.
Tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menyelamatkan nyawa pasien ketika kondisi darurat terjadi.
Penyebab Batalnya Puasa dalam Islam
Dalam Islam, ketika seorang muslim berpuasa, ada beberapa hal yang dimaksudkan dapat membatalkan puasa ketika melakukannya.
Di antaranya adalah sengaja makan dan minum selama Ramadan, muntah yang disengaja, wanita haid dan nifas, keluar mani dengan sengaja, berhubungan badan di siang hari, merokok hingga murtad.
Dalam kaidah berpuasa, sesuatu akan dianggap membatalkan puasa jika masuk melalui lubang alami yang terbuka dan memiliki akses langsung ke organ dalam tubuh. Seperti hidung dan mulut.
Selain itu, ulama juga menjelaskan bahwa telinga dan saluran pembuangan adalah jalur yang di gunakan untuk menuju metabolisme tubuh.
Dalam fikih mazhab Syafi'i, terdapat lima lubang utama pada tubuh manusia yang harus dijaga, yaitu mulut, hidung, telinga, dubur, dan qubul (alat vital).
Jika sesuatu masuk ke dalamnya dan mencapai bagian dalam, maka puasa dianggap batal.
Akan tetapi, dalam tindakan medis biasanya digunakan pembuluh darah untuk melakukan transfusi darah.
Pori-pori dan pembuluh darah bukan bagian dari lima lubang alami yang diterangkan, maka tindakan medis yang melalui pembuluh darah bisa dianggap tidak membatalkan puasa.
Apakah Donor Transfusi Darah Membatalkan Puasa?
Ketika seseorang melakukan transfusi darah, berarti ada penyaluran darah ke dalam tubuh seorang pasien.
Sebagian ulama menyatakan bahwa melakukan donor darah tidak membatalkan puasa.
Akan tetapi, perhatikan bagaimana keadaan pasien ketika melakukan transfusi darah tersebut.
Dalam dunia medis, pendonoran darah diambi sekitar 350 hingga 450 ml darah. Bagi seseorang yang memiliki tubuh yang sehat dan nutrisi tubuh yang cukup, jumlah tersebut tidak akan membahayakan pendonor.
Akan tetapi beda kasusnya jika pendonor tidak memiliki nutrisi yang cukup. Saat berpuasa, kadar air dalam tubuh cukup rendah sehingga kehilangan darah dapat menyebabkan tekanan darah sementara.
Jika tubuh terlalu lemah, maka akan disarankan oleh dokter untuk makan dan minum untuk mengembalikan energi yang hilang.
Tentu saja, jika sedang berpuasa, hal ini dapat membatalkan puasa seketika. Oleh karena itu, makan dan minum dapat dilakukan saat berbuka puasa.
Menurut pandangan ulama, ini tidak membatalkan, akan tetapi bersifat makruh, karena ketika melakukan donor darah, tubuh pendonor akan menjadi lemah dan butuh suplemen nutrisi segera. Oleh karena itu, sebaiknya hal seperti ini dihindari jika tidak terlalu darurat.
Perbedaan Makan dan Minum dengan Tindakan Medis
Makan dan minum adalah kegiatan memasukkan zat melalui mulut ke lambung dengan sengaja. Akibatnya, perut akan terasa kenyang dan akan terasa kenikmatan dari nafsu makan.
Dalam Islam, berpuasa sama dengan menahan diri dari hawa nafsu. Sedangkan tindakan medis adalah suatu tindakan untuk memperbaiki kondisi kesehatan seseorang tanpa merasakan nafsu terhadapnya.
Contohnya adalah pengambilan sampel darah atau penggunaan inhaler. Tindakan ini tidak didasarkan pada nafsu seseorang, akan tetapi berdasarkan keputusan dokter dalam melakukan pengobatan.
Sangat penting bagi seorang muslim untuk mengetahui ini. Jika tidak, kita akan terus bertanya-tanya dan selalu dalam keraguan saat menjalankan puasa di bulan Ramadan.
Terdapat berbagai perbedaan pandangan dalam hal ini, tetapi terlepas dari batal atau tidaknya puasa, keselamatan jiwa lebih penting di atas segalanya.
Laporan: Fikra Azmi/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









