Soal Prediksi BMKG Gempa Megathrust, Ini Doa untuk Keselamatan

AKURAT.CO Pembicaraan soal gempa megathrust kembali menyeruak setelah BMKG merilis penjelasan terbaru tentang potensi ancaman gempa besar dari tiga zona megathrust di Indonesia.
Informasi itu cepat menyebar, memantik rasa waswas banyak orang, sekaligus memicu gelombang tanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi di bawah kaki kita? Dan, sebagai manusia yang cuma bisa mempersiapkan diri sebatas kemampuan, apa yang bisa kita lakukan?
Zona megathrust—wilayah pertemuan dua lempeng tektonik yang saling menekan dan mengunci energi—merupakan sumber dari beberapa gempa terbesar dalam sejarah dunia. BMKG mengingatkan bahwa beberapa segmen megathrust di Indonesia sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi.
Contohnya segmen Selat Sunda yang terakhir melepaskan gempa besar pada 1757 dan segmen Mentawai-Siberut yang belum aktif sejak 1797. Kondisi “seismic gap” seperti ini artinya energi tektonik sedang ditimbun, bukan hilang.
Baca Juga: Kata-kata Hari Ayah Nasional 2025: Ucapan Haru dan Doa untuk Sosok Terhebat dalam Hidupmu
“Indonesia punya zona megathrust, wilayah pertemuan lempeng yang menyimpan energi besar. Kalau energi ini lepas, bisa timbul gempa besar, bahkan tsunami,” tulis BMKG.
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi.
Kalimat “tinggal menunggu waktu” yang sering muncul dalam diskusi publik bukan berarti gempa akan terjadi besok, tapi lebih sebagai tanda agar masyarakat tetap siap dan waspada tanpa terjebak kepanikan.
Dalam rapat di DPR RI, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa negara kita berada di pertemuan tiga lempeng dunia dengan 13 segmen megathrust. Tiga di antaranya—Mentawai-Siberut, Selat Sunda-Banten, dan Sumba—dianggap telah lama menyimpan energi. “Gempa besar bisa saja terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi,” ujarnya.
Informasi seperti ini memang cukup membuat dada sesak. Di satu sisi, kita butuh kewaspadaan; di sisi lain, kita tidak ingin hidup dalam ketakutan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat biasanya mencari pegangan spiritual—cara untuk menenangkan hati sembari tetap rasional menghadapi kenyataan geologis Indonesia.
Itu sebabnya para ulama menganjurkan pembacaan doa-doa keselamatan, bukan untuk menggantikan mitigasi ilmiah, tapi sebagai penguat batin agar kita tetap tenang, jernih, dan siap menghadapi keadaan.
Berikut doa yang sering dibaca umat Islam ketika memohon perlindungan dari bencana, termasuk gempa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَالنَّجَاةَ مِنْ جَمِيعِ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ، وَالْحِفْظَ مِنْ بَيْنِ أَيْدِينَا وَمِنْ خَلْفِنَا، وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا، وَمِنْ فَوْقِنَا، وَنَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا
Artinya:
“Ya Allah, kami memohon keselamatan dalam agama dan dunia kami, perlindungan dari segala musibah dan ujian, serta penjagaan dari depan kami, belakang kami, kanan kami, kiri kami, dan dari atas kami. Dan kami berlindung dengan keagungan-Mu agar kami tidak disergap dari bawah kami.”
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi bentuk pengakuan bahwa manusia terbatas, sementara alam bekerja mengikuti hukum-hukumnya sendiri. Doa membantu menenangkan psikologis masyarakat, sekaligus mengingatkan bahwa ketenangan hati juga bagian penting dari kesiapsiagaan.
Baca Juga: Bolehkah Memprediksi Akan Adanya Bencana Gempa Megathrust dalam Islam?
Pada akhirnya, informasi BMKG bukanlah alarm kiamat, melainkan pengingat agar kita hidup lebih siap: memahami potensi bencana, mempelajari jalur evakuasi, memeriksa struktur bangunan, dan tetap terkoneksi dengan informasi resmi. Ilmu dan ikhtiar jalan berdampingan dengan doa.
Karena di negeri yang berdiri di atas pertemuan lempeng, kesiapsiagaan bukan pilihan—melainkan cara hidup. Namun di balik semua kecemasan itu, selalu ada ruang untuk memohon keselamatan, berharap ketenangan, dan menjaga ketabahan hati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










