Mengupas Sejarah Bacaan Bilal Tarawih di Indonesia

AKURAT.CO Berdasarkan sejarah Islam, Bilal bin Rabah merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki suara merdu. Dengan kemampuan tersebut, didedikasikannya untuk menyebarluaskan agama Islam.
Nama Bilal dibadikan dalam penyebutan amalan di dalam salat tarawih ini digunakan sebagai suatu kehormatan terhadap keberanian Bilal bin Rabah. Selain itu, juga sebagai upaya memantik semangat dakwah Islam.
Dalam koteks salat tarawih, terdapat beberapa yang menerapkan bilal tarawih dalam salatnya.
Sejarah bilal tarawih zaman dahulu
Dikutip dari BincangSyariah, Rabu (20/3/2024), salat tarawih adalah ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan. Kata tarawih merupakan bentuk plural dari kata tarwihatun yang memiliki arti istirahat. Nama tersebut berasal dari Rasulullah SAW bersama sahabat ketika melakukan ibadah diselingi dengan istirahat setiap selesai melakukan salat dua rakaat.
Bilal tarawih adalah bacaan yang dibaca saat jeda rakaat salat tarawih dari awal hingga selesainya salat oleh imam dan dijawab oleh makmum.
Pada zaman itu, tidak ada bilal khusus yang memandu jalannya salat tarawih. Namun, setiap jeda istirahat, sahabat memerbanyak zikir, membaca al-Quran atau melakukan aktivitas lainnya hingga Rasulullah kembali datang untuk salat. Imam Khotib Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj menjelaskan:
ويسن أن ينتقل للنفل أو الفرض من موضع فرضه أو نفله لتكثر مواضع السجود فإنها تشهد له، فإن لم ينتقل فليفصل بكلام إنسان.
Artinya; “Disunnahkan untuk berpindah tempat dari melaksanakan salat fardu atau sunah agar memperbanyak tempat bersujud, karena tempat-tempat itu akan bersaksi untuknya di hari akhirat, dan jika tidak melakukan perpindahan tempat, hendaknya memisah salat dengan berbicara dengan orang lain.”
Penjelasan tersebut dikuatkan dengan hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya:
أَنَّ مُعَاوِيَةَ قَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذلِكَ، أَنْ لَا تُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ.
Artinya; “Sahabat Muawiyah berkata “Sesungguhnya Rasulullah saw memerintahkan kita untuk melakukan hal itu, yaitu agar tidak menyambung salat dengan salat yang lain, sampai kita berbicara atau keluar dari barisan (pindah tempat).”
Dari keterangan inilah kemudian ulama berinisiatif untuk mengadakan bilal yang hendak dibacakan di antara jeda berjalannya salat tarawih dari awal hingga selesai.
Sejarah bilal tarawih di Indonesia
Bacaan bilal di Indonesia antara satu tempat dengan tempat yang lain memiliki perbedaan dan tidak selalu sama. Ada bacaan yang hanya dengan bacaan selawat, dan ada juga bacaan yang dilengkapi dengan menyebutkan empat nama Khulafaur Rasyidin dan mendoakan untuk mereka. Dimulai dari khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.
Namun demikian, ada saja beberapa golongan umat Islam yang memertanyakan keabsahannya karena praktik yang demikian tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun sahabat. Untuk menjawab hal ini, Dr. Zain ibn Muhammad ibn Husein Al’idrus menjelaskan dalam kitab Ittihaful Anam Fii Ahkamis Shiyam:
إن الترضي عن الخلفاء الأربعة في صلاة التراويح رتبه علماء حضرموت لأغراض دينية، وجعلوه من السياسة الشرعية؛ لأن حضرموت مرت بفترة حكمها فيها بعض أهل الفرق الذين ينتقصون بعض الصحابة.
Artinya; “Perkara membacakan doa rida untuk 4 khalifah di sela-sela salat tarawih adalah praktik yang pertama kali dilakukan oleh ulama Hadramaut Yaman. Mereka melakukan hal itu, demi tujuan membela agama, yaitu berupa siasat untuk menjunjung ajaran Islam yang benar.
Pada waktu itu, kota Hadramaut didominasi oleh beberapa golongan menyimpang yang suka mencaci para sahabat dan merendahkan martabat mereka.”
Kemudian, ulama Hadramaut yang memiliki aqidah lurus berinisiatif untuk menyebutkan semua nama Khulafaur Rasyidin di sela-sela salat tarawih sebagai wujud pembelaan agar umat Islam tidak terpengaruh oleh ajaran menyimpang. Praktik ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru negara termasuk Nusantara.
Baca Juga: Bacaan Bilal saat Sholat Jumat, Ringkas dan Mudah Dipahami Oleh yang Masih Belajar
Banyak dari kalangan pelajar Indonesia yang menimba ilmu di negeri Yaman ketika pulang kembali ke negara tempat lahir membawa tradisi tersebut. Tentu saja Islam tidaklah kontradiksi terhadap tradisi, selama praktik yang ada dalam tradisi itu tidak menentang terhadap norma-norma agama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









