IDAI Ungkap Kebutuhan Mendesak di Lokasi Bencana: Obat Anak Krisis, Akses Terisolir

AKURAT.CO Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bergerak cepat memberikan layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta bantuan logistik bagi anak-anak dan kelompok rentan di wilayah terdampak bencana.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah, mengungkapkan sejumlah kendala dan kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani.
Menurut Piprim, kebutuhan yang paling krusial saat ini meliputi obat-obatan untuk ISPA, diare, dermatitis, antibiotik (sirup, drop, salep), serta alat bantu pemberian obat seperti sendok takar dan air untuk melarutkan obat.
Keterbatasan logistik juga masih menjadi tantangan, mulai dari kebutuhan makanan pokok, air minum, pakaian layak pakai, selimut, hingga bahan bakar untuk mendukung mobilitas relawan.
Ia menyebut akses menuju sejumlah titik terdampak masih sangat sulit. Banyak wilayah yang terisolasi sehingga distribusi bantuan hanya dapat dilakukan menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki.
“Evakuasi dan distribusi bantuan masih mengandalkan sepeda motor atau jalan kaki,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/12/2025).
Di sisi lain, Piprim menegaskan kebutuhan tenaga kesehatan sangat mendesak, baik dokter umum maupun tenaga kesehatan lain di posko-posko pengungsian.
Situasi pengungsian yang padat dan sanitasi yang buruk turut memicu berbagai ancaman kesehatan, seperti wabah diare, ISPA, dan penyakit kulit.
Baca Juga: Panggil Ketua MPR RI, Prabowo Sempat Singgung Amandemen UUD 1945
Berdasarkan data IDAI, pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap 66 anak di Binjai, Sumut, dengan temuan kasus terbanyak berupa ISPA (37 anak), diare (18 anak), serta infeksi kulit tinea dan dermatitis.
Di Kabupaten Langkat, pemeriksaan dilakukan pada 25 anak dengan kasus didominasi ISPA dan infeksi kulit.
Sementara itu, di wilayah Medan Barat, pemeriksaan dilakukan terhadap 54 anak, mayoritas juga menderita ISPA (43 anak).
Untuk Sumatera Barat, IDAI melakukan skrining tumbuh kembang terhadap 47 anak di Padang dan menemukan satu kasus speech delay. Pelayanan pengobatan juga dilakukan di Kota Padang dan Kota Pariaman.
Piprim menambahkan, IDAI telah mengirimkan Tim Emergency Medical Team (EMT) ke Pidie Jaya untuk memperkuat layanan RSUD setempat serta melakukan mobile clinic.
Pelayanan kesehatan juga diberikan di sejumlah posko pengungsian, di antaranya di Masjid Agung Bireuen.
Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dan mengirim tim relawan ke berbagai kabupaten/kota lain yang belum terjangkau.
Kolaborasi dilakukan bersama profesi kesehatan lain, pemerintah daerah, dan lembaga kesehatan.
“Kami juga bersiap memasuki fase pemulihan dengan memprioritaskan kesehatan anak, penyediaan air bersih, pemantauan penyakit berbasis imunisasi seperti campak, dan dukungan psikososial berkelanjutan,” ujarnya.
IDAI turut mengimbau masyarakat untuk berpartisipasi membantu para korban, khususnya anak-anak, dengan memberikan donasi berupa obat-obatan untuk ISPA dan diare, salep kulit, susu formula, makanan bayi, pakaian anak, selimut, air bersih, serta perlengkapan kebersihan diri.
“IDAI juga mengajak semua pihak untuk mendoakan keselamatan dan kekuatan bagi saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera,” tegasnya.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Efektif Mengajarkan Anak Meminta Maaf dengan Tulus Sejak Dini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










