Akurat

Menatap 'Lantai Keramat' All England, Ganda Putri Indonesia Matangkan Fokus di Poin Kritis

Dian Eko Prasetio | 23 Februari 2026, 20:37 WIB
Menatap 'Lantai Keramat' All England, Ganda Putri Indonesia Matangkan Fokus di Poin Kritis

AKURAT.CO, Sektor ganda putri Indonesia tengah berada dalam fase persiapan krusial jelang keberangkatan ke ajang All England Open 2026.

Pelatih Kepala Ganda Putri Pelatnas PBSI, Karel Mainaky, memastikan bahwa anak asuhnya kini sedang dalam kondisi fisik dan teknis yang prima untuk menaklukkan atmosfer All England di Birmingham.

Turnamen level Super 1000 yang akan digelar Maret nanti tersebut akan menjadi ujian pertama bagi tiga pasangan permanen yang dikirimkan Indonesia.

Baca Juga: All England: Adaptasi Cuaca Inggris, Skuad Indonesia Datang Lebih Awal

Mereka adalah Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Rachel Allesya Rose/Febi Setianingrum, serta duet Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Karel Mainaky mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan tim ganda putri untuk All England telah berjalan sesuai rencana.

Ia optimistis hasil positif bisa diraih jika para pemain mampu menerjemahkan hasil latihan ke dalam lapangan pertandingan.

"Sampai saat ini saya lihat persiapannya cukup bagus,"  kata Karel Mainaky saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (23/2).

"Mudah-mudahan dengan persiapan yang baik ini, anak-anak bisa mendapatkan hasil yang bagus juga di sana."

Salah satu fokus utama dalam persiapan kali ini adalah program aklimatisasi. Tim Indonesia akan berangkat lebih awal, tepatnya pada 24 Februari 2026, untuk menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca dan karakter lapangan di Eropa yang cenderung berbeda dengan Asia.

Baca Juga: Karel Mainaky Lakukan Penyegaran Ganda Putri, Apri/Fadia dan Lanny/Tiwi Kembali Dicerai

Karel menjelaskan bahwa karakter shuttlecock di Eropa yang cenderung lambat dan kondisi lapangan yang minim angin menuntut ketahanan fisik serta kesabaran yang ekstra.

Pemain harus terbiasa melakoni reli-reli panjang tanpa kehilangan fokus.

"Di Eropa nanti bola pasti lambat dan tidak ada angin. Jadi otomatis kita persiapkan anak-anak untuk membiasakan hal itu. Kita sudah siapkan strategi untuk kondisi tersebut," tambah Karel.

Selain adaptasi teknis, Karell juga menyoroti aspek mental. Menurutnya, kegagalan menembus babak-babak akhir di turnamen sebelumnya sering kali disebabkan oleh penurunan fokus pada poin-poin kritis, terutama saat menghadapi pemain berperingkat empat besar dunia.

"Fokus di poin-poin terakhir kemarin sempat menurun saat melawan big four. Dalam persiapan ini, saya sengaja menjaga kualitas dan fokus mereka sampai program terakhir agar performa mereka naik dan stabil," tegas sang pelatih.

Karell bahkan terus memberikan tekanan dalam sesi latihan meskipun para atlet sudah merasa lelah.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa dalam kondisi fisik terkuras sekalipun, fokus bertanding tidak boleh goyah.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.