Akurat

Kenapa Sulit Bersantai di Tempat Berantakan? Kenali 5 Ciri Unik yang Jarang Disadari

Putri Chandra | 25 Desember 2024, 17:45 WIB
Kenapa Sulit Bersantai di Tempat Berantakan? Kenali 5 Ciri Unik yang Jarang Disadari

AKURAT.CO Jika kamu pernah bertemu seseorang yang merasa sulit bersantai di lingkungan yang berantakan, pastinya mereka menunjukkan sikap tidak nyaman.

Ada beberapa ciri seseorang susah santai di tempat berantakan, karena lingkungan yang kacau dapat memicu kecemasan atau kegelisahan pada mereka.

Bukan hanya itu, namun tempat berantakan juga membuat mereka merasa tidak tenang, sehingga mereka baru bisa merasa lega setelah semuanya tertata dengan rapi.

Kebiasaan ini bukan sekadar sifat unik, ada alasan psikologis di baliknya, dan meskipun terlihat aneh, ada penjelasan ilmiah yang mendasarinya

Baca Juga: Menurut Psikologi, 7 Perilaku Ini Sering Ditunjukkan Orang yang Merasa Bosan Saat Pensiun

Dikutip dari geediting, Rabu (25/12/2024), berikut ciri seseorang yang sulit bersantai di tempat berantakan menurut psikologi.

Ciri Seseorang yang Sulit Bersantai di Tempat Berantakan

1. Meningkatnya rasa cemas

Jika kamu pernah melihat seseorang merasa semakin tidak nyaman di ruangan yang berantakan, itu bukan sekadar masalah sepele bagi mereka.

Bagi mereka yang sulit merasa tenang di lingkungan yang kacau, melihat barang-barang yang tidak tertata rapi dapat memicu kecemasan yang nyata.

Kondisi di mana benda-benda berserakan tanpa pola atau keteraturan bisa membuat mereka merasa gelisah dan tidak nyaman.

Baca Juga: Menurut Psikologi, 8 Double Standard yang Mesti Dilawan Demi Hidup yang Lebih Baik!

 2. Meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar 

Orang yang sulit beristirahat di lingkungan yang berantakan biasanya memiliki sensitivitas tinggi terhadap lingkungan sekitar.

Masalah ini tidak hanya terkait dengan kekacauan fisik, tetapi juga melibatkan rangsangan sensorik seperti suara, cahaya, aroma, hingga tekstur, yang bisa terasa sangat membebani.

Akibatnya, ruangan yang bagi sebagian orang hanya terlihat sedikit berantakan bisa terasa sangat mengganggu dan memicu overstimulasi bagi mereka yang memiliki Sensitivitas Pemrosesan Sensorik (SPS) tinggi.

3. Keinginan tinggi mengontrol ruangan

Bagi mereka yang sulit merasa tenang di tempat yang berantakan, lingkungan yang rapi dan teratur memberikan rasa kendali serta stabilitas di tengah ketidakpastian hidup.

Hal ini bukan sekadar soal menjadi perfeksionis atau terlalu menuntut, melainkan upaya untuk menciptakan ruang yang dapat menjadi tempat perlindungan, di mana mereka bisa menemukan ketenangan dan kenyamanan.

Orang-orang ini sering mencerminkan kebutuhan akan stabilitas, dengan menciptakan suasana yang sesuai dengan keinginan batin mereka untuk kedamaian dan keteraturan.

4. Kebutuhan memiliki ruang pribadi 

Meski bekerja di industri yang sibuk dan penuh ide, dia sangat mendambakan keteraturan di ruang pribadinya.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Inilah 8 Rahasia Kepribadian Pemilik Hewan yang Memperlakukannya seperti Anak Sendiri

Setiap kali pulang, hal pertama yang dilakukannya adalah merapikan barang-barang yang berantakan. Setelah itu, dia bisa benar-benar bersantai.

Bagi dia dan banyak orang serupa, lingkungan yang rapi bukan sekadar soal kebersihan, tetapi cara menciptakan tempat untuk memulihkan diri dan menemukan ketenangan.

5. Menyimpan benda yang memiliki nilai sentimental 

Bagi mereka, setiap benda di sekitarnya sering memiliki nilai sentimental atau potensi kegunaan, membuatnya sulit untuk dilepaskan.

Keterikatan emosional dengan suatu benda bisa mengurangi beban karena ketidakteraturan dan kebisingan mental yang mengganggu kebutuhan mereka untuk tenang.

Ketidakmampuan mereka untuk bersantai bukan karena benda-benda itu sendiri, tetapi karena kekacauan yang merusak keseimbangan emosional mereka.

Itulah ciri unik seseorang yang jarang disadari dan alasan mereka sulit bersantai di tempat berantakan menurut psikologi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.