4 Festival Budaya Indonesia yang Sudah Mendunia
AKURAT.CO, Membentang dari Sabang sampai Marauke, Indonesia kaya akan ragam budaya. Tak heran bila sepanjang tahun, ada banyak ragam festival budaya digelar di berbagai daerah di Indonesia. Festival-festival tersebut bahkan sudah terkenal hingga mancanegara.
Berikut AKURAT.CO rangkum lima festival budaya yang wajib kamu saksikan saat pandemi Covid-19 sudah berakhir:
Dieng Culture Festival
Dieng Culture Festival adalah pesta budaya terbesar yang diadakan setiap tahun di Kawasan Wisata Dieng, Jawa Tengah. Dieng Culture Festival pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010, dan sebelumnya lebih dikenal dengan nama Pesta Budaya Dieng.
Ragam acara yang dilakukan di Dieng Culture Festival adalah pagelaran jazz di atas awan, menyaksikan sunrise di bukit, jalan sehat, pagelaran seni tradisi, Tari Rampak Yakso Pringgondani, Tari Lengger, pertunjukan wayang kulit, dan yang paling populer, ritual cukur rambut gimbal.
Karnaval Busana Jember
Karnaval Busana Jember atau yang lebih sering disebut Jember Fashion Carnaval (JFC) adalah karnaval busana dengan tema tertentu yang diselenggarakan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Acara tahunan Jember ini sudah berskala internasional dan banyak mencuri perhatian dunia.
JFC awalnya berasal dari agenda tahunan arak-arakan Reog Ponorogo yang diselenggarakan saat hari ulang tahun Kota Jember. Setiap tahunnya, arak-arakan Reog Ponorogo sukses memancing antusias warga. Akhirnya, tercipta ide untuk menciptakan acara yang unik dan beda, khas Jember.
Yadnya Kasada
Yadnya Kasada atau dikenal juga dengan sebutan Kasada Bromo adalah upacara tahunan yang digelar oleh orang-orang Tengger. Upacara ini dilaksanakan di Gunung Bromo setiap hari ke-15 dalam bulan Kasada atau bulan ke-12 dalam penanggalan orang Tengger.
Awalnya, orang-orang Tengger berjalan kaki dari kaki gunung Bromo menuju puncak, kemudian melempar sesajian ke kawah. Ini merupakan simbol pengabdian pengorbanan, penyucian diri, rasa syukur, penjagaan hubungan harmonis dengan alam, dan penghormatan pada leluhur.
Digelar sejak masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 masehi), upacara ini kental dengan ritual dan ajaran agama Hindu. Namun, orang Tengger mengizinkan siapapun mengikuti upacara ini.
Cap Go Meh
Istilah Cap Go Meh berasal dari aksen Hokkien yang jika diartikan adalah 15 hari atau malam setelah Imlek. Di China sendiri, Cap Go Meh lebih dikenal sebagai Festival Lampion. Perayaan Cap Go Meh dilakukan untuk memberi penghormatan kepada Dewa Thai Yi, dewa tertinggi di Dinasti Han (206 SM-221 M). Pada masa itu, para biksu menyalakan lampion pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek untuk menghormati Sang Buddha.
Perayaan Cap Go Meh di Indonesia pusatnya ada di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sini, perayaan Cap Go Meh di Singkawang sangat identik dengan pawai Tatung.
Adapun perayaan Cap Go Meh di Singkawang sudah diakui oleh UNESCO sebagai tradisi yang patut untuk dijaga dan dilestarikan.
Festival Danau Toba
Festival lainnya yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Festival Danau Toba. Festival ini lebih dikenal dengan nama Pesta Danau Toba dan sudah ada sejak 1983. Festival ini digelar sebagai wujud rasa syukur masyarakat akan kehadiran Danau Toba, yang telah menjadi sumber rezeki.
Tak hanya itu, mengutip tobakab.go.id, festival ini juga mempersatukan seluruh komponen masyarakat Sumatera Utara untuk berkontribusi meratakan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Festival Danau Toba sangat lekat dengan budaya dan tradisi Batak Toba. Beragam tarian, musik, kerajinan tangan, dan kain-kain tradisional khas Sumatera Utara dipamerkan. Namun, ini bukan hanya pagelaran kebudayaan biasa, tapi juga sudah menjadi acara olahraga.
Itu adalah lima festival budaya yang ada di Indonesia. Selain keempat festival di atas, Indonesia masiih mempunyai ratusan festival lain yang juga menarik untuk disaksikan. Sayangnya, kamu belum bisa menyaksikan festival ini akibat pandemi Covid-19.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





