Tompi Tegur Materi Stand Up Pandji yang Singgung Fisik Gibran, Ini Alasannya

AKURAT.CO, Dokter spesialis bedah plastik sekaligus musisi, dr. Tompi, angkat suara menanggapi materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Materi tersebut dibawakan Pandji dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025.
Baca Juga: Dikritik Soal Film 'Selesai', Ini 5 Poin Pernyataan Tompi
Dalam penampilannya, Pandji menyoroti fenomena masyarakat yang memilih pemimpin berdasarkan penampilan fisik. Dia menyebut sejumlah tokoh publik dengan ciri visual tertentu sebagai bahan lelucon.
“Ada yang memilih pemimpin berdasarkan tampang? Banyak. Ganjar ganteng ya, Anies manis ya, Prabowo gemoy ya,” kata Pandji dalam shownya.
Pandji kemudian melanjutkan dengan menyebut nama Gibran Rakabuming. Dia melontarkan candaan yang menyiratkan tampilan wajah Wapres terlihat seperti mengantuk, yang langsung disambut tawa penonton.
“Atau wakil presidennya, Gibran ngantuk ya. Salah nada, maaf. Gibran, ngantuk ya?” ujar Pandji.
Candaan tersebut menuai kritik dari dr. Tompi. Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (3/1/2026), dia menilai roasting yang menyinggung kondisi fisik seseorang tidak tepat, apa pun konteksnya.
“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apapun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas,” tulis dr. Tompi.
Baca Juga: Pandji Pragiwaksono Minta Maaf ke Masyarakat Toraja atas Candaan Lama yang Menyinggung
Dirinya menjelaskan bahwa kondisi mata yang tampak mengantuk bisa berkaitan dengan faktor medis yang tidak seharusnya dijadikan bahan humor.
“Apa yang terlihat “mengantuk” pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON,” lanjutnya.
Menurut dr. Tompi, kritik, satire, maupun humor tetap sah disampaikan, namun ada batas etika yang tidak seharusnya dilanggar.
“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” tegasnya.
Dia juga mengajak publik untuk meningkatkan kualitas diskusi dengan fokus pada gagasan dan kebijakan, bukan pada kondisi fisik seseorang.
“Mari naikkan standar diskusi publik kita, yakni kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” ujar dr. Tompi.
Meski melayangkan kritik, pelantun lagu Menghujam Jantungku itu tetap memberikan apresiasi terhadap keseluruhan pertunjukan Pandji.
“Btw saya nonton show-nya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benernya,” ungkap Tompi.
Menariknya, unggahan tersebut langsung mendapat respons dari Pandji Pragiwaksono.
Komika itu memilih menanggapi dengan sikap terbuka dan apresiatif.
“Keren Tom, terima kasih koreksinya,” tulis Pandji di kolom komentar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









