Akurat

Elegan dan Penuh Makna! Ini Filosofi Baju Adat Jawa Tengah Saat Ngunduh Mantu Al Ghazali & Alyssa Daguise

Ratu Tiara | 20 Juni 2025, 19:46 WIB
Elegan dan Penuh Makna! Ini Filosofi Baju Adat Jawa Tengah Saat Ngunduh Mantu Al Ghazali & Alyssa Daguise

AKURAT.CO Busana adat yang dikenakan oleh Al Ghazali dan Alyssa Daguise dalam prosesi pernikahan, khususnya saat ngunduh mantu, bukan hanya menunjukkan keanggunan, tetapi juga sarat akan makna filosofis dan simbolik. 

Secara keseluruhan, baju adat Jawa Tengah yang mereka kenakan melambangkan harmoni, keseimbangan, dan nilai-nilai luhur warisan budaya Jawa.

Setiap detail dalam pakaian adat tersebut memiliki arti tersendiri. Unsur-unsur seperti kain, corak, hingga aksesori yang digunakan mencerminkan kebijaksanaan leluhur dan tradisi turun-temurun yang masih dijaga hingga kini.

Dalam konteks budaya, Jawa Tengah memiliki kekayaan tradisi yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Kejawen. Budaya di wilayah ini umumnya terbagi menjadi dua, yaitu Jawa Banyumasan dan Jawa Pesisiran. 

Budaya Banyumas merupakan perpaduan antara Jawa, Sunda, dan Cirebon, sedangkan budaya Pesisiran terbentuk dari gabungan budaya Jawa dan nilai-nilai Islam.

Tak bisa dipungkiri bahwa etnis Jawa merupakan kelompok terbesar di Indonesia, dan sejak dulu wilayah Jawa Tengah telah menjadi pusat kejayaan, seperti Kerajaan Mataram (baik Hindu maupun Islam). Karena pengaruh historis dan budayanya yang kuat, tak heran jika baju adat Jawa Tengah kerap dijadikan inspirasi oleh banyak daerah di Nusantara.

Baca Juga: 7 Fakta Unik Baju Adat Bali yang Bikin Kamu Makin Takjub Sama Budaya Lokal

Penjelasan Filosofi Baju Adat

1. Kebaya Jawa Tengah

Dalam prosesi ngunduh mantu, Alyssa tampil anggun mengenakan kebaya khas Jawa Tengah. Kebaya ini memiliki pesona tersendiri, bernuansa klasik namun tetap elegan, serta menciptakan aura misterius dan anggun pada mempelai wanita yang memakainya.

Untuk menonjolkan kesan mewah dan menghadirkan aura bangsawan layaknya seorang ratu, bahan yang digunakan biasanya berupa beludru atau sutera premium. Sedangkan untuk versi sehari-hari, kebaya umumnya dibuat dari katun atau nilon tipis yang dihias dengan bordiran atau sulaman halus.

Ciri khas lain dari kebaya Jawa Tengah untuk pengantin adalah warna hitam pekat, yang tidak hanya terkesan eksklusif, tetapi juga berfungsi untuk menutup bagian dada dengan lebih rapi. Biasanya, kebaya ini dikenakan bersama kemben sebagai pelapis dalam.

Potongan kebayanya pun mengikuti lekuk tubuh, bukan tanpa alasan. Hal ini mencerminkan filosofi bahwa perempuan Jawa dituntut untuk mampu menjaga sikap, menyesuaikan diri, dan menjaga kehormatan dirinya di mana pun berada. Sebuah pesan budaya yang dalam, sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai perempuan Jawa.

2. Jawi Jangkep

Jawi Jangkep adalah busana adat khas Jawa Tengah yang diperuntukkan bagi mempelai pria dan umumnya hadir dalam warna hitam, seperti yang dikenakan oleh Al Ghazali saat prosesi ngunduh mantu. Pakaian ini terdiri dari beskap hitam yang dihiasi motif bunga emas di bagian tengah, serta memiliki kerah tinggi tanpa lipatan yang menjadi ciri khasnya. Sebagai pelengkap, untaian bunga melati turut dikalungkan di leher mempelai pria, memberikan kesan sakral dan anggun.

Warna hitam pada Jawi Jangkep menandakan bahwa busana ini digunakan untuk acara resmi, terutama pernikahan, sedangkan versi dengan warna yang lebih cerah biasa dikenakan dalam kegiatan non-formal atau harian.

Satu hal yang menarik dari desain Jawi Jangkep adalah bagian depan baju yang lebih panjang dibandingkan belakangnya. Hal ini memiliki tujuan praktis sekaligus simbolik, yaitu untuk menyimpan keris di bagian belakang tubuh, yang melambangkan perlindungan diri dari godaan buruk serta simbol kekuatan untuk melawan segala hal yang negatif.

Busana ini tidak hanya mencerminkan estetika Jawa yang elegan, tapi juga menyiratkan makna filosofis yang dalam terkait martabat, kehormatan, dan kekuatan batin seorang laki-laki Jawa.

3. Kuluk

Kuluk merupakan penutup kepala tradisional yang fungsinya mirip dengan blangkon, namun memiliki bentuk yang lebih tinggi dan struktur yang lebih kokoh. 

Aksesori kepala ini biasanya dipadukan dengan busana adat Basahan atau Kanigaran, yang dulunya hanya dikenakan oleh raja atau sultan dalam upacara adat atau kegiatan resmi kerajaan.

Seiring berjalannya waktu, fungsi kuluk pun bergeser. Saat ini, kuluk digunakan oleh mempelai pria dalam prosesi pernikahan adat Jawa, sebagai simbol kehormatan dan kebangsawanan, serta bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

4. Keris

Seperti halnya di Jawa Timur dan Yogyakarta, keris juga menjadi salah satu senjata tradisional khas Jawa Tengah. Namun, keris bukan sekadar senjata melainkan sarat dengan makna simbolis. Gagang keris dirancang menghadap ke kanan, yang melambangkan orientasi atau kecenderungan manusia untuk selalu berpihak pada kebenaran.

Sementara itu, bagian ujung gagangnya dibuat sedikit menunduk, sebagai simbol kerendahan hati dari orang yang membawanya. 

Meski keris adalah senjata tajam, laki-laki yang mengenakannya dituntut untuk tetap bersikap rendah hati, menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada karakter, bukan pada senjata itu sendiri.

Baca Juga: Pertahankan Warisan Budaya, Pemprov NTB Gagas Trilogi Perjalanan Keris Lombok

5. Beskap

Pada mulanya, beskap merupakan bagian tak terpisahkan dari busana Jawi Jangkep, pakaian adat pria khas Jawa Tengah. Namun, seiring waktu, beskap mulai digunakan secara mandiri oleh pria dalam berbagai acara adat atau formal, meskipun tidak selalu disertai dengan kelengkapan Jawi Jangkep lainnya.

Umumnya, beskap dibuat dari kain polos berwarna gelap, seperti hitam, untuk menciptakan kesan elegan dan formal. Potongannya sederhana, dengan ciri khas kerah tegak tanpa lipatan, mencerminkan keanggunan khas busana tradisional Jawa.

 Nadia Nur Anggraini (Magang)
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R