Efisien Jangka Pendek, Impor Pikap India Bisa Rugikan RI!

AKURAT.CO Rencana PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mengimpor 105.000 unit mobil pikap dari India dinilai menyimpan risiko jangka panjang terhadap keberlanjutan industri otomotif nasional.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menyebut, langkah tersebut memang menawarkan efisiensi belanja modal (capex) dalam jangka pendek.
Harga kendaraan impor bisa lebih murah hingga sekitar 50% dibandingkan produk domestik, dipicu oleh rendahnya upah buruh di India serta fasilitas tarif bea masuk yang lebih ringan melalui skema ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA).
Baca Juga: Bos Agrinas Akui DP 30 Persen untuk Pikap India Sudah Dibayar
“Secara komparatif, produk domestik terbebani pajak berlapis melebihi 40% dari harga akhirnya, mencakup PKB, PPN, BBNKB, PPnBM, SWDKLLJ serta biaya administrasi STNK,TNKB, BPKB dan lainnya,” kata Yannes kepada Akurat dikutip, Kamis (26/2/2026).
Namun di balik efisiensi tersebut, Yannes menilai keputusan impor dalam volume besar berpotensi memicu dampak struktural terhadap industri nasional.
Dalam jangka menengah hingga panjang, impor 105 ribu unit kendaraan niaga berpotensi mempercepat gejala deindustrialisasi dini di sektor otomotif.
“Meskipun efisien jangka pendek dengan penghematan capex Rp5-10 triliun melalui harga murah dikisaran sampai 50% setelah pajak AIFTA, impor ini berpotensi menyebabkan akselerasi deindustrialisasi dini di sektor otomotif domestik,”
Apalagi, di tengah kondisi industri yang tengah lesu, dengan penjualan wholesales 2025 tercatat turun 7% secara tahunan menjadi 803.687 unit, Yannes menyebut, masuknya kendaraan impor dalam jumlah besar dikhawatirkan menekan permintaan produk lokal hingga 20% pada 2026.
Penurunan permintaan tersebut berpotensi membuat utilisasi pabrik turun lebih rendah dari 70%, mengganggu keberlangsungan rantai pasok komponen dalam negeri, serta menggerus multiplier effect ekonomi yang nilainya diperkirakan mencapai Rp24,66 triliun.
Baca Juga: Impor Pikap dari India, Agrinas: Potensi Efisiensi Capai Rp46,5 Triliun
“Nilai yang seharusnya berputar 3-4 kali lipat melalui pajak, upah, dan rantai pasok parts produksi lokal,” ucap Yannes.
Tak hanya itu, impor dalam skala besar juga berpotensi memperlebar defisit perdagangan Indonesia dengan India hingga kisaran USD1–2 miliar per tahun.
“Intinya, keputusan direksi Agrinas yg awalnya murah berpotensi menyebabkan melambatnya daya saing otomotif lokal jangka panjang, apalagi jika industri parts kita sudah terlanjut mengalami erosi dan susut,” tambah Yannes.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina





