PalmCo Siap Genjot Produksi MinyaKita
Yosi Winosa | 5 Oktober 2025, 22:32 WIB

AKURAT.CO PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo menegaskan komitmennya untuk memperkuat produksi minyak goreng rakyat bermerek MinyaKita.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto, yang meminta PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) berkolaborasi dengan PalmCo dalam meningkatkan kapasitas produksi minyak goreng yang terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa sinergi antara PalmCo dan Agrinas menjadi bagian penting dalam mempercepat program MinyaKita sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kami memiliki kapasitas, infrastruktur, dan pengalaman yang memadai untuk mendukung produksi MinyaKita. Kolaborasi ini akan mempercepat realisasi target pemerintah dalam memenuhi kebutuhan minyak goreng rakyat,” ujarnya di Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Sebagai salah satu produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Indonesia, PalmCo tengah menjalani transformasi besar menuju hilirisasi industri sawit.
Sebagai salah satu produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Indonesia, PalmCo tengah menjalani transformasi besar menuju hilirisasi industri sawit.
Jatmiko menegaskan bahwa perusahaan kini tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai penggerak utama di sektor hilir, termasuk produksi minyak goreng, biodiesel, dan berbagai produk turunan sawit bernilai tambah tinggi.
Salah satu aset penting yang mendukung langkah ini adalah keberadaan fasilitas refinery milik anak usaha PalmCo, yakni PT Industri Nabati Lestari (INL), yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Salah satu aset penting yang mendukung langkah ini adalah keberadaan fasilitas refinery milik anak usaha PalmCo, yakni PT Industri Nabati Lestari (INL), yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai 600 ribu ton per tahun, dan kini sedang dikembangkan untuk menghasilkan produk turunan sawit seperti RBD Olein (bahan baku minyak goreng), Stearin, dan PFAD untuk kebutuhan industri lain.
“Ketersediaan bahan baku yang stabil dari kebun PTPN dan tambahan pasokan dari Agrinas menjadi jaminan bagi keberlanjutan produksi MinyaKita. Program ini tidak hanya fokus pada harga yang terjangkau, tetapi juga memastikan kualitas produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI),” tutur Jatmiko.
Saat ini, PalmCo dan Agrinas sedang mengkaji berbagai aspek teknis dan bisnis agar kolaborasi ini berjalan efektif serta memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional. Fokus utama kerja sama tersebut meliputi peningkatan kapasitas produksi, efisiensi distribusi, serta penguatan manajemen rantai pasok dari hulu ke hilir.
Selain peningkatan kapasitas industri, PalmCo juga menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia (SDM). Melalui program reskilling dan upskilling, perusahaan berupaya mempersiapkan karyawan agar mampu beradaptasi dengan transformasi industri sawit menuju sektor hilir yang lebih kompleks dan bernilai tinggi.
“Ketersediaan bahan baku yang stabil dari kebun PTPN dan tambahan pasokan dari Agrinas menjadi jaminan bagi keberlanjutan produksi MinyaKita. Program ini tidak hanya fokus pada harga yang terjangkau, tetapi juga memastikan kualitas produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI),” tutur Jatmiko.
Saat ini, PalmCo dan Agrinas sedang mengkaji berbagai aspek teknis dan bisnis agar kolaborasi ini berjalan efektif serta memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional. Fokus utama kerja sama tersebut meliputi peningkatan kapasitas produksi, efisiensi distribusi, serta penguatan manajemen rantai pasok dari hulu ke hilir.
Selain peningkatan kapasitas industri, PalmCo juga menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia (SDM). Melalui program reskilling dan upskilling, perusahaan berupaya mempersiapkan karyawan agar mampu beradaptasi dengan transformasi industri sawit menuju sektor hilir yang lebih kompleks dan bernilai tinggi.
“Transformasi ini adalah proses bertahap. Kami menyiapkan PalmCo menjadi pemain utama hilirisasi sawit yang mampu menghasilkan produk berkelanjutan dan kompetitif,” jelasnya.
Lebih dari itu, PalmCo juga membuka peluang pengembangan produk energi terbarukan, termasuk mendukung implementasi program mandatori B50, yang menjadi kebijakan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Lebih dari itu, PalmCo juga membuka peluang pengembangan produk energi terbarukan, termasuk mendukung implementasi program mandatori B50, yang menjadi kebijakan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Langkah ini menunjukkan bahwa hilirisasi sawit tidak hanya memperkuat sektor pangan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap transisi energi bersih di Indonesia.
Dari sisi distribusi, jaringan unit usaha PalmCo yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan MinyaKita hingga ke pelosok daerah.
Dari sisi distribusi, jaringan unit usaha PalmCo yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan MinyaKita hingga ke pelosok daerah.
Meski begitu, model distribusi terpadu masih dalam tahap kajian bersama Agrinas untuk memastikan efektivitas penyaluran dan keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
Target Agrinas Palma Nusantara untuk memenuhi 30% kebutuhan minyak goreng nasional menjadi tantangan besar yang membutuhkan sinergi optimal antar-BUMN.
Target Agrinas Palma Nusantara untuk memenuhi 30% kebutuhan minyak goreng nasional menjadi tantangan besar yang membutuhkan sinergi optimal antar-BUMN.
Namun, Jatmiko optimistis PalmCo dapat berperan signifikan dalam mendukung misi tersebut melalui integrasi hulu-hilir yang efisien dan berkelanjutan.
“Semua langkah ini dilakukan secara bertahap dan terencana. Kami ingin memastikan PalmCo tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok sawit, tetapi juga menjadi motor hilirisasi yang menggerakkan industri pangan dan energi nasional menuju kemandirian,” tukas Jatmiko.
“Semua langkah ini dilakukan secara bertahap dan terencana. Kami ingin memastikan PalmCo tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok sawit, tetapi juga menjadi motor hilirisasi yang menggerakkan industri pangan dan energi nasional menuju kemandirian,” tukas Jatmiko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










