Imbas Bencana, BPS Catat Lonjakan Harga Sejumlah Komoditas Pangan di Sumatra
Esha Tri Wahyuni | 9 Februari 2026, 18:12 WIB

AKURAT.CO Pergerakan harga pangan kembali menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di sejumlah kabupaten dan kota terdampak bencana di wilayah Sumatera pada minggu pertama Februari 2026.
Kenaikan IPH ini terutama dipicu oleh naiknya harga cabai dan beras, dua komoditas strategis yang memiliki bobot besar dalam konsumsi rumah tangga.
Data BPS menunjukkan bahwa tekanan harga pangan pascabencana tidak terjadi merata. Beberapa daerah mencatat lonjakan signifikan, sementara wilayah lain justru mengalami penurunan harga.
Kondisi ini mencerminkan tantangan distribusi dan pasokan pangan di daerah terdampak, sekaligus menjadi sinyal penting bagi stabilitas inflasi pangan regional. Bagi masyarakat dan pelaku pasar, pergerakan IPH ini menjadi indikator awal arah inflasi daerah dalam waktu dekat.
Aceh Jadi Wilayah dengan Kenaikan IPH Tertinggi
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa Provinsi Aceh mencatat kenaikan IPH cukup signifikan di sejumlah wilayah.
Di Kota Langsa, IPH tercatat melonjak 3,68%, didorong oleh kenaikan harga beras, daging sapi, dan cabai rawit. Sementara itu, Kabupaten Aceh Selatan mengalami kenaikan IPH sebesar 2,33% akibat naiknya harga cabai merah dan gula pasir.
“Di Kota Langsa ini didukung oleh peningkatan atau andilnya yang cukup besar, yaitu beras 1,1 persen, daging sapi, dan juga cabai rawit. Nah, di Kabupaten Aceh Selatan ini meningkat IPH-nya 2,33 persen terutama cabai merah dan gula pasir,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Kenaikan IPH juga terjadi di Kabupaten Aceh Singkil sebesar 1,73%, dipicu oleh naiknya harga cabai merah, tempe, serta susu bubuk untuk balita.
Namun, tidak semua wilayah terdampak bencana di Aceh mengalami tekanan harga. Kabupaten Nagan Raya justru mencatat penurunan IPH sebesar 0,25%, seiring turunnya harga cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.
Sumatra Utara: Cabai Merah dan Beras Masih Dominan
Di Provinsi Sumatera Utara, tren serupa juga terlihat. Kota Tebing Tinggi mencatat kenaikan IPH sebesar 2,58%, dengan cabai merah dan beras sebagai penyumbang utama.
Sementara itu, Kabupaten Asahan mengalami kenaikan IPH 2,02%, juga dipicu oleh lonjakan harga kedua komoditas pangan tersebut.
Sebaliknya, penurunan harga pangan menekan IPH di sejumlah wilayah lain. Kabupaten Serdang Bedagai mencatat penurunan IPH 0,05%, akibat turunnya harga cabai rawit, bawang merah, dan daging ayam ras.
Penurunan terdalam terjadi di Kabupaten Nias, dengan IPH anjlok 3,60%, dipicu oleh penurunan harga cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Sumatra Barat: Kenaikan dan Penurunan Terjadi Bersamaan
Di Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang Panjang mencatat kenaikan IPH sebesar 3,47%. Kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya harga cabai merah, daging ayam ras, dan pisang.
Sementara itu, Kabupaten Lima Puluh Kota mencatat kenaikan IPH 1,8%, dengan pendorong utama berasal dari komoditas pangan.
Namun, tekanan harga tidak terjadi merata. Kota Payakumbuh justru mengalami penurunan IPH cukup dalam, yakni 3,09%, akibat turunnya harga cabai merah dan cabai rawit. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan dengan penurunan IPH 2,52%.
“Di samping itu, di Kabupaten Pesisir Selatan juga daging ayam ras mengalami penurunan dan juga bawang merah,” jelas Ateng.
Sinyal Inflasi Pangan Daerah
Data IPH BPS menunjukkan bahwa cabai dan beras masih menjadi komoditas paling sensitif terhadap gangguan pasokan pascabencana. Fluktuasi harga yang tajam di sejumlah daerah berpotensi memengaruhi inflasi pangan regional, terutama jika distribusi belum sepenuhnya pulih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









