Akurat

Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama PDB RI, Tumbuh 5,30 Persen di 2025

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 11 Februari 2026, 07:50 WIB
Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama PDB RI, Tumbuh 5,30 Persen di 2025

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian melihat sektor industri pengolahan kembali menunjukkan peran strategisnya dalam kinerja ekonomi nasional.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional (BPS), industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil dalam tiga tahun terakhir dan cenderung terus signifikan hingga mencapai 5,30% pada tahun 2025.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa prestasi yang diraih oleh industri pengolahan ini tidak terlepas dari kontribusi sektor industri dalam negeri yang terus bertahan di tengah dinamika ekonomi global.

Baca Juga: Kemenperin Gandeng Markija Perkuat Vokasi untuk SDM yang Lebih Kompeten

“Berkat jerih payah sektor industri dalam negeri, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Kontribusi industri pengolahan tersebut tidak terlepas dari kinerja sektor industri, khususnya Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang juga mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun 2025.

Sektor IKFT mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11%, naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,21%. Selain itu, sektor ini juga berkontribusi sebesar 3,87% terhadap PDB dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83%.

“Pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukan sektor ini tetap menjadi penopang penting pada industri pengolahan nonmigas serta mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo.

Kinerja positif sektor IKFT di tahun 2025 didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh secara signifikan. Kenaikan tertinggi ditunjukkan oleh subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional dengan pertumbuhan mencapai 8,35%, naik 2,49% dari tahun 2024 yang sebesar 5,86%.

Baca Juga: Kemenperin Tegaskan Penerbitan Pertek Impor TPT Sudah Sesuai Prinsip Good Governance

Kenaikan cukup tinggi juga dicatatkan oleh subsektor industri barang galian bukan logam yang tumbuh hingga 6,16%, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang sempat mengalami kontraksi sebesar 0,6%.

Selain kinerja produksi, dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatatkan neraca surplus selama periode Januari-November 2025 dengan nilai ekspor mencapai USD49,15 miliar, naik USD6,26 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Hal ini turut didukung oleh kinerja ekspor sektor unggulan, salah satunya subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia yang mencatatkan nilai ekspor sebesar USD20,79 miliar.

Lebih lanjut, subsektor industri kimia berbasis pertanian turut mengalami kenaikan ekspor signifikan yang sebelumnya USD6,25 miliar naik menjadi USD9,25 miliar.

Peningkatan ini juga disusul oleh subsektor industri alas kaki keperluan sehari-hari yang meningkat dari USD2 miliar menjadi USD3 miliar.

“Di tengah dinamika global saat ini, permintaan masyarakat dunia terhadap produk IKFT dalam negeri justru meningkat. Angka-angka ini mencerminkan daya tahan sektor IKFT untuk tetap berkontribusi dalam rantai pasok global,” ucap Sri Bimo.

Disisi lain, investasi di sektor IKFT juga mencatatkan hal menggembirakan. Selama periode Januari–September 2025, realisasi investasi sektor IKFT mencapai Rp142,15 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama di 2024 yang sebesar Rp116,54 triliun.

Investasi terbesar dicatatkan oleh subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yaitu sebesar Rp58,4 triliun.

Sementara sentimen terhadap sektor ini masih menunjukkan sinyal positif di awal tahun tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 yang masih berada pada fase ekspansif yaitu di level 54,12. Hal ini menunjukkan laju ekspansi lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 51,90.

“Sinyal positif ini menunjukkan optimisme dari para pelaku industri dan penyemangat bagi pemerintah untuk selalu menjaga iklim usaha yang kondusif sehingga kinerja sektor IKFT dapat terus meningkat,” tuturnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.