Kemenperin Gandeng Markija Perkuat Vokasi untuk SDM yang Lebih Kompeten

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Markija Berdaya, terkait penguatan asesmen keterampilan pendidikan vokasi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten.
Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri.
Dalam kolaborasi tersebut, Markija menghadirkan dan mengimplementasikan PractiWork, solusi asesmen keterampilan berbasis teknologi, pada empat satuan pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian. Di antaranya, SMK-SMAK Bogor, Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor, Politeknik STMI Jakarta, dan Politeknik APP Jakarta, guna memperkuat pemetaan kompetensi dan kesiapan lulusan.
Baca Juga: Gibran: Film Kampus Vokasi Harus Jadi Pilar Industri Kreatif Nasional
Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kementerian Perindustrian, Sidik Herman, menegaskan bahwa asesmen keterampilan merupakan elemen kunci dalam memastikan relevansi lulusan pendidikan vokasi terhadap kebutuhan industri yang terus berkembang.
"Data hasil asesmen menjadi instrumen strategis bagi satuan pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian dalam melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis kompetensi dan bukti ini diharapkan mampu memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan industri," ujar Sidik, Selasa (10/2/2026).
Melalui PractiWork, mahasiswa pendidikan vokasi dapat menjalani asesmen komprehensif yang mencakup keterampilan kerja, kemampuan kognitif dan psikomotorik, karakteristik kepribadian, serta minat dan preferensi kerja, untuk mendukung pembelajaran, program magang, dan transisi ke dunia industri.
Sebagai bagian dari implementasi tersebut, Markija melaksanakan uji coba asesmen PractiWork, salah satunya di SMK-SMAK Bogor pada 10–12 September 2025.
Hasil asesmen terhadap 47 siswa menunjukkan bahwa potensi siswa tidak selalu tercermin dari nilai akademik semata. Pemetaan berbasis data mengelompokkan siswa ke dalam delapan klaster karakteristik, dengan klaster terbesar merupakan siswa well-rounded yang memiliki keseimbangan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa siswa dengan capaian akademik rendah tersebar pada berbagai klaster karakteristik, mengindikasikan beragam faktor yang memengaruhi hasil belajar.
Baca Juga: Cak Imin Usul Pembentukan Badan Vokasi Nasional untuk Perkuat Daya Saing Tenaga Kerja
Sebaliknya, siswa dengan capaian akademik baik cenderung terkonsentrasi pada klaster berkemampuan tinggi dan fokus, memperkuat relevansi asesmen keterampilan sebagai instrumen pemetaan kompetensi yang objektif.
President Director Markija Berdaya, Csongor Hunyar, menyampaikan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen Markija dalam mendukung agenda pengembangan sumber daya manusia industri.
"Melalui PractiWork, kami menghadirkan asesmen keterampilan yang komprehensif dan objektif untuk menjembatani pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata industri, tidak hanya dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga karakter kerja dan kesiapan individu," ujar Csongor.
Dia menambahkan bahwa asesmen berbasis data menjadi kunci dalam menciptakan kecocokan yang berkelanjutan antara individu dan dunia kerja.
"Penempatan individu pada jalur yang tepat harus didukung oleh data yang akurat. Kolaborasi dengan PPVI Kementerian Perindustrian ini menjadi langkah awal dalam membangun pengembangan SDM industri yang lebih terarah dan berbasis kompetensi," lanjutnya.
Pandangan dunia usaha turut menguatkan pentingnya kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Didit Ratam, menilai asesmen keterampilan berperan penting dalam mempercepat adaptasi tenaga kerja.
"Kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri akan memperpendek learning gap tenaga kerja sejak awal memasuki dunia kerja. Dengan fondasi kompetensi yang tepat, individu akan lebih cepat beradaptasi dan mampu menyelesaikan tugas yang semakin kompleks dan bernilai tambah," ungkap Didit.
Kerja sama antara PPVI Kemenperin dan Markija diharapkan menjadi fondasi penguatan ekosistem pendidikan vokasi berbasis kompetensi dan kebutuhan industri, sekaligus membuka peluang perluasan implementasi asesmen keterampilan ke institusi pendidikan dan sektor industri lainnya di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








